Saturday, September 1, 2018

Ketika Kamu Merasa Frustasi...

Hasil gambar untuk ketika sedang frustasi
Krisis emosional yang dialami seseorang ketika berada di pertengahan usia 20an, umumnya diderita oleh mereka yang berusia 25-34 tahun disebut juga Quarter Life Crisis. Beberapa tanda kamu mengalami Quarter Life Crisis antara lain kecemasan, frustasi, ketidakpuasan dengan arah hidupmu, merasa tak memiliki tujuan, meragukan dan bingung dengan diri sendiri. Ini normal kok! Tapi...

Kalau dibiarkan saja, perasaan-perasaan itu bisa berubah dari sekadar kegelisahan, menjadi depresi atau lebih buruk...menyebabkan bunuh diri. Kalau kamu sekarang mulai merasa frustasi dan ragu pada dirimu sendiri, bisa jadi kamu mulai masuk fase ini. Ada 7 langkah sederhana yang bisa kamu ambil untuk mengatasi Quarter Life Crisis yang sedang kamu alami kok!

1. Kenali dirimu sendiri dan temukan 3 nilai yang ingin kamu pegang dalam hidupmu.
Nilai-nilai ini akan menjadi esensi dirimu. Misalnya nilai kreativitas, pertumbuhan, kejujuran, ketekunan, dan lain-lain. Memang semuanya baik, namun kalau kamu bisa menemukan tiga prioritasmu, kamu akan lebih bisa fokus dalam melakukan semua aktivitasmu.

2. Bersihkan pikiranmu.
Tak hanya tubuh yang perlu detoks, pikiran juga. Saat ini, setiap hari otak kita overload dengan informasi dan komunikasi, jauh lebih banyak dari yang bisa diprosesnya. Akibatnya, otakmu akan terganggu. Saringlah semuanya menjadi apa yang penting dan yang cocok untuk kita. Bersihkanlah pikiranmu dengan ketenangan dan beri makanlah otakmu dengan hal-hal yang positif.

3. Milikilah sikap bertanggung jawab penuh.
Sikapmu itu adalah sepenuhnya pilihanmu. Sikap bertanggung jawab secara penuh, 100 persen, berarti kamu masih akan menerima apapun tanggung jawab yang muncul sekalipun sesuatu itu bukan salahmu. Lain kali, apabila kamu frustasi atau merasa marah akan sesuatu hal, coba tanyai dirimu sendiri "Apa sih kontribusiku terhadap situasi ini? Apa yang harus aku ubah jika situasi seperti ini terjadi lagi di masa mendatang?"

4. Berlatihlah untuk merespon, bukan bereaksi.
Kerap kali kita menjawab seseorang sebagai bentuk reaksi kita terhadap apa yang baru saja selesai dikatakan atau baru terjadi. Memberi respon berarti kita memberi jeda dari apa yang baru saja terjadi atau dikatakan. Jeda ini adalah untuk kita memutuskan apa yang akan kita lakukan atau kita katakan. Biasakan memberi respon yang sejalan dengan nilaimu dan sikap bertanggung jawabmu.

5. Pilih satu tujuan, dan nikmatilah perjalananmu ke sana.
Tentukan tujuan hidupmu dan belajarlah menikmati proses yang harus kamu lewati untuk mencapai tujuan itu. Titik ini bisa kamu capai setelah kamu menetapkan valuemu dengan jelas. Hargailah proses dan perjalanan yang harus kamu lewati ini karena ini akan menjadi bagian penting dalam hidupmu dan berkontribusi dalam mencapai tujuanmu. Take pride!

6. Miliki keseimbangan.
Keseimbangan di sini lebih ke arah bagaimana kamu menyeimbangkan kesehatan fisikmu, kesehatan pikiranmu, dan kesehatan spiritualmu. Menyeimbangkan ketiganya juga bukan berarti menghabiskan jumlah waktu yang sama untuk ketiganya, melainkan pada bagaimana kamu menyadari ketiga aspek tersebut butuh dipelihara.

7. Miliki rencana.
Jika kamu merencanakan sesuatu yang penting, kamu pasti akan menulisnya. Entah itu rencana untuk memulai bisnis, pernikahan, proyek, dan lain-lain. Kamu bisa memulainya dengan rencanamu untuk lima tahun ke depan. Dari sana, tuliskan hal-hal yang perlu kamu lakukan, serta to do list yang spesifik.
Quarter life crisis itu bukan hal yang tak bisa dihindari atau tak bisa diatasi kok!

https://www.idntimes.com/life/inspiration/novi/saat-kamu-frustasi-dan-meragukan-diri-sendiri-7-langkah-ini-bisa-jadi-penuntunmu/full 



 





Thursday, August 30, 2018

Manusia Yang Dicintai Allah SWT

Hasil gambar untuk Manusia Yang Dicintai Allah SWT
Setiap hamba Allah Subhanallahu wa Ta’alla menginginkan dirinya dicintai oleh Sang Pencipta. Hamba mana yang tidak berharap akan rahmat dan ampunan-Nya. Setiap hamba yang dicintai Allah Subhanallahu wa Ta’alla maka sudah pasti dengan mudah meraih ridha-Nya, diberikan ampunan-Nya, dikabul do’a-Nya, lebih lagi mendapat surga-Nya di akhirat kelak.
Untuk meraih harapan dicintai Allah tersebut, setiap umat Islam melakukan berbagai macam cara yang diperintahkan-Nya, dan tak lupa menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari setiap larangan-Nya.
Setelah berusaha dan tetap istiqomah untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mari kita cari tahu apakah kita termasuk kedalam ciri-ciri atau golongan orang yang dicintai oleh Allah.
Berikut ini ciri-ciri dan golongan orang yang dicintai Allah.
Dicintai Penduduk Langit dan Bumi
Sabda Rasulullah: “Bila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia, maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah ia, maka merekapun mencintainya, lalu ditentukan baginya sikap menerima (dan cinta dari penduduk) dibumi”. (HR Bukhari).
Selalu Dijauhkan dari Fitnah Dunia
Qatadah bin Nu’man berkata: “Bila Allah mencintai seseorang maka Dia menghalanginya dari (fitnah) dunia”. (HR Al-Hakim).
Baca Juga : Memahami Makna Toleransi dalam Islam yang Bukan Integrasi
Senang Bertaubat
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah: 222)
Senantiasa Sabar dalam Ujian dan Cobaan
“Bila Allah mencintai suatu kaum maka Dia memberikan mereka ujian (dengan berbagai musibah)”. (HR Ahmad).
“Orang-orang yang sabar ALLAH menyukai orang-orang yang sabar.”
(Ali ‘Imran [3]: 146)
Senantiasa Menjaga Kesucian Diri
… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Adil sebagai Pemimpin
… sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maa’idah [5]: 42)
Istiqomah dalam Takwa
… maka sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran [3]: 76)
Senantiasa Berbuat Baik
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 134)
Senantiasa Berserah Diri pada Allah
“Orang-orang yang bertawakal kepada Allah Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-NYA. (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Senantiasa mengikuti Rasul
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai ALLAH, ikutilah aku, niscaya ALLAH mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran[3]:31)
Jihad fi Sabilillah
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-NYA dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
(QS. Ash-Shaff [61]: 4)
Menjaga Lisan dan Rajin Ibadah
Imam al-Baqir as berkata, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang (apabila) bersenda gurau tidak mengeluarkan kata-kata yang keji, yang berpikir mandiri, selalu bersabar (apabila) sendirian, dan suka melakukan shalat malam”
Senantiasa Muhasabah Diri dan Bersyukur
Imam Ali Zainal ‘Abidin as berkata, ”Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang selalu merasa sedih, dan setiap hamba yang selalu bersyukur”
Memelihara Sifat Malu dan Berakhlak Mulia
Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang memiliki sifat malu, orang yang senantiasa santun, orang yang selalu menjaga kesucian dirinya (‘afif) , dan orang yang enggan berbuat keji (muta’afiffah)”
Gemar Bersedekah
Rasulullah saw bersabda, ”Tiga macam orang yang Allah ‘Azza wa Jalla mencintai mereka yakni mereka yang senantiasa bangun di malam hari (untuk mengerjakan shalat malam) lalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), mereka yang senang bersedekah dengan tangan kanannya sambil menyembunyikannya dari tangan kirinya, dan mereka yang mengalahkan dan mengusir musuhnya dalam perang sementara kawan-kawannya menyerahkan diri kepada musuh”
Senantiasa Menjaga Tali Silaturahmi
Di dalam hadits Mi’raj diriwayatkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, ”Wahai Muhammad! Wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling mencintai di jalan-KU, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling berkasih sayang di jalan-KU, dan wajib bagi-Ku mencintai orang-orang yang suka bersilatur-rahim di jalan-Ku, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada-KU…”
Mencintai Perintah Allah
Allah Tabaraka Ta’ala berfirman, ”Tiada yang lebih Aku cintai dari seorang hamba-KU daripada kecintaan sang hamba kepada apa yang telah Aku wajibkan baginya”
Mampu Menahan Amarah
Rasulullah saw bersabda, ”Wajiblah kecintaan ALLAH atas orang yang marah tetapi ia mampu meredam kemarahannya dengan santun”
Senantiasa Mengingat Kematian
Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya Allah mencintainya”
Mencintai Perintah Allah, dan Membeci Segala Hal yang Haram
Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, ”Aku ingin sekali menjadi orang yang dicintai Allah dan Rasul-NYA”.
Rasulullah saw pun berkata, ”Cintailah apa yang dicintai Allah dan Rasul-NYA, dan bencilah apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-NYA”
Mudah-mudahan kita termasuk di dalam golongan yang dicintai Allah SWT.

Sunday, August 19, 2018

Gempa Lombok, Antara Musibah dan Peringatan Allah SWT

Hasil gambar untuk gempa lombok
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, belum usai Gempa NTB di Bulan Juli yang lalu, Gempa susulan dengan skala 7,0 SR kembali menimpa bumi NTB, tepatnya kawasan Lombok dan sekitarnya, hingga terasa di Pulau Bali.
Kita harus kembali terhenyak saat mengetahui jumlah korban hingga rabu delapan Agustus, sudah 347 jiwa melayang sia-sia dan 1.477 jiwa luka berat. Sementara tercatat yang hidup di pengungsian 156.003 jiwa serta 42.239 unit rumah rusak dan 458 bangunan sekolah rusak (cnnindonesia.com)
"Diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh," kata Sutopo melalui pesan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu,11/08/2018 (Antaranews Sumbar) -Selain korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh, Sutopo mengatakan kemungkinan juga masih ada korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan.
Selain itu 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak
Semua itu  baru kerugian fisik ekonomis, belum memperhitungkan kerugian atau dampak psikologis dan mental yang tak dapat diangkakan, seperti hilangnya rasa aman, makin meningkatnya rasa cemas atau tertekan dan tekanan kesulitan hidup sebgai dampak lanjutan musibah yang terjadi. Musibah yang bertubi-tubi dan menimbulkan kerugian begitu besar ini harus kita renungkan dan maknai untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di dunia dan terutama di akhirat.
Musibah yang melanda itu baik itu berupa gempa, banjir, tsunami, gunung meletus dan berbagai musibah lainnya, harus kita imani sebagai ketetapan (Qadha’) Allah SWT, Allah berfirman “Katakanlah:’ Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk Kami. Dia lah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertaqwa (TQS. At-Taubah:51).
Sebagai ketetapan (Qadha’) maka musibah itu harus dilakoni dengan lapang dada, perasaan ridha, disertai kesabaran dan tawakal kepada Allah (Qs. Al-Baqarah: 155-157).
Dengan sikap itu, musibah yang datang akan menjadi kebaikan diantaranya akan mendapat apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW” Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah tinggikan dia satu derajat atau Allah hapuskan darinya satu kesalahan “ ( HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad).
Hanya saja, kesabaran yang harus dibangun bukan hanya kesabaran posif dan kepasrahan melainkan kesabaran positif dan aktif. Yaitu kesabaran yang disertai perenungan untuk menarik pelajaran guna membangun sikap, tindakan dan aksi ke depan demi membangun kehidupan yang lebih baik di dunia dan akherat.
Ketika suatu musibah melanda, kita sebagai makhluk yang memilik akal tentu akan berusaha mencari penyebab terjadinya musibah tersebut atau hukum kausalitas. Misal musibah banjir kita mengetahui bahwa bencana banjir terlepas dari ketetapan Allah tapi juga ada penyebabnya yang disebabkan perbuatan manusia seperti membuka lahan serampangan, kesalahan dalam tata ruang, penggundulan hutan tanpa pertanggung jawaban, kebiasaan membuang sampah ke sungai, pembukaan perumahan tak ramah alam dan lain sebagainya. Semua itu bisa terjadi karena dibiarkan atau lebih buruk karena dibingkai oleh kebijakan.
Dalam peristiwa gempa yang menyesakan dada kita ini, kita lihat saat ini mereka sibuk mencari dan meneliti faktor ilmiah atau kauni kenapa terjadi bencana, dan banyak manusia ketika terjadi bencana hanya terfokus untuk meniliti factor penyebab bencana dari sisi ilmu pengetahuan, namun mereka lupa faktor penyebab bencana dari sisi syar’i, sehingga dengan bencana itu mereka tidak semakin taqarrub namun malah semakin jauh dari Syariat Allah Ta’ala.
Padahal lebih dari itu, melalui bencana Allah ingin menunjukan kekuasaan-Nya kepada manusia. Dengannya Allah juga mengingatkan bahwa manusia itu lemah, akalnya terbatas dan membutuhkan bantuan Allah. Sehingga tidak sepatutnya sombong di hadapan kekuasaan Allah atau menyangka telah sanggup menguasai dan mengatur dunia seraya meninggalkan petunjuk dari Allah yang MahaBijaksana.
Allah memutuskan perkara-perkara yang berlaku pada makhluknya, hukum-hukum-Nya berlaku pada hamba-hambaNya terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan karunianya, dan terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya, dan Tuhanmu tidak akan berbuat dzalim kepada siapapun. “Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. 43:76)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat.
Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa, kebijakan yang selalu mendzholimi rakyat, kriminalisasi islam dan ulama, menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dan yang paling parah adalah tidak mau berhukum dengan hukum Allah.
Jadi, musibah yang Allah timpakan ini pada dasarnya untuk memberi peringatan dan mengembalikan kesadaran pada diri manusia terhadap KemahaKuasaan Alla, pencipta alam semesta. Mengingatkan dan mengembalikan kesadaran betapa  lemahnya manusia dan betapa terbatasnya pengetahuan manusia.
Mengembalikan kesadaran sebagai makhluk ciptaan dan sebagai hamba dari Al-Khaliq yang tidak layak bermaksiat kepada-Nya dan menyimpang atau menyalahi peringatan yakni wahyu-Nya serta mendustakan-Nya.
Kesadaran spritual yang dikembalikan oleh musibah itu haruslah mmbangkitkan energi penghambaan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Energi untuk makin meningkatkan ibadah kepada Allah SWT dalam arti yang luas.
Selain itu, kesadaran spiritual itu haruslah juga membangkitkan enegi untuk melakukan perbaikan, meluruskan penyimpangan, melakukan ketaatan dan kembali menempuh jalan dan menerapkan sistem yang benar, jalan dan sistem yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Kesadaran nalar ini harus muncul, sebab pada dasarnya semua musibah yang terjadi didalamnya selalu ada peran dan keterlibatan manusia.
Alllah SWT berfirman:” “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.”
Hal ini selaras dengan perkataan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”(Al Jawabul Kaafi, 74)
Terus apa yang harus kita lakukan ? Tobat? Betul semua pihak di negeri ini memang harus bertobat. Tobat tentu harus dilakukan dalam bentuk tawbat(an) nashuha secara menyeluruh dan dilakukan bersama-sama oleh umat ini.
Ali bin Abi Thalib ra menjelaskan bahwa tobat harus menghimpun enam hal : 1. Menyesali atas dosa yang telah dilalui, 2. Kembali melaksanakan kewajiban, 3. Menolak atau mengembalikan kezaliman (mengembalikan hak kepada yang berhak), 4. Mengurangi persengketaan, 5. Berazzam tidak akan mengulangi kemaksiatan itu, 6. Mengiatkan diri dalam ketaatan.
Enam hal tersebut harus kita lakukan, kita harus menyesali dosa yang telah kita lakukan. Dosa telah bermaksiat, melalaikan shalat, terlibat riba, membiarkan zina dimana-mana, menyekutukan Allah dan yang paling parah yaitu pangkal dari segala maksiat adalah tidak menerapkan hukum Allah.
Tugas kita selanjutnya adalah menjalankan kewajiban yaitu menerapkan hukum Allah dalam kehidupan bernegara secara menyeluruh dengan begitu kita menolak atau mengembalikan kezaliman, mengurangi persengketaan dan ketika hukum islam diterapkan secara menyeluruh kita akan dipermudah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Karena ketika hukum islam diterapkan secara menyeluruh itu adalah bentuk ketaatan totalitas dari seorang hamba kepada sang Khalik yang telah menciptakan dan sang Maha Pengatur.
Inilah tugas kita semua saat ini agar bencana tidak terus menimpa negeri kita karena kemaksiatan yang kita lakukan ”Telah nampak kerusakan di darat dan di bumi karena olah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS. Ar-Ruum :41)
Saatnya kita kembali ke pangkuan Allah, dengan penyerahan diri secara total. Totalitas dalam melaksanakan seluruh perintah Allah dan larangan-Nya dengan menerapkan seluruh hukum Allah dalam kehidupan.
Karena Allah telah berjanji kepada kita “....Dan dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa....”(TQS. An-Nur:1).

Friday, August 3, 2018

Diet Pisang ala Admin

Hasil gambar untuk pisang ambon
Program diet yang akan saya bahas adalah pengalaman pribadi saya sendiri. Memiliki tubuh langsing dan sehat memang keinginan banyak orang, teritama kaum hawa. Namun, untuk mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan, tentu perlu usaha yang terbilang sulit. Mulai dari olahraga rutin hingga pola makan yang baik atau melakukan diet ketat.

Tapi jika terbiasa dengan minuman berkarbonasi, makanan ringan atau permen, maka akan menjadi tantangan sulit jika bertekad mendapatkan tubuh ideal.

Itu baru gula. Belum disuruh untuk menjaga kebiasaan olahraga seminggu sekali dan untuk makan makanan bergizi.

Di sini saya ingin berbagi tentang pengalaman diet yang pernah saya lakukan. tentu semuanya diawali dengan tekad kuat. Tanpa niat kuat, niscaya bakal gagal program diet.

Maaf, berkaca dari monyet yang hobi makan pisang tapi tetap lincah dan punya energi melimpah... saya mencoba mengikuti kebiasaannya. Tapi tentu harus melihat dulu kandungan dalam pisang agar tidak salah dalam mempraktekannya.


Tuesday, July 24, 2018

Yoga Dalam Islam

Hasil gambar untuk yoga
Tren yoga yang semakin booming belakangan ini tentunya mendapat perhatian cukup serius dari kalangan umat Islam. Terutama perihal boleh tidaknya senam yang berasal dari India ini dilakukan oleh seorang Muslim

Seperti diketahui, senam yoga sudah ada sejak ribuan tahun lalu di India dan merupakan salah satu bentuk ritual agama Hindu. Yoga sendiri berasal dari bahasa sansekerta ‘yuj’ yang berarti ‘menyatukan diri dengan Tuhan’. Di dalamnya terdapat serangkaian aktivitas yang menyelaraskan fisik, pikiran, dan jiwa.

Belakangan dengan maraknya pusat kebugaran yang menawarkan kelas yoga, timbul pertanyaan apakah umat Islam diperbolehkan melakukan senam yoga. Menjawab pertanyaan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa mengenai yoga.

Dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada tahun 2009, terdapat tiga keputusan mengenai aktivitas yoga, yaitu:
1 Yoga yang murni ritual dan spiritual agama lain, hukum melakukannya bagi orang Islam adalah haram.
2 Yoga yang mengandung meditasi dan mantra atau spiritual dan ajaran agama lain hukumnya haram, sebagai langkah preventif (sad al-dzari’ah).
3 Yoga yang murni olahraga pernafasan untuk kepentingan kesehatan hukumnya mubah (boleh).
Dengan dikeluarkannya fatwa MUI tersebut kini banyak Muslimah Indonesia yang tidak ragu lagi mengikuti senam yoga. Salah satunya adalah desainer muda Dian Pelangi yang mengikuti kelas acroyoga untuk mempertahankan kebugaran tubuhnya. 

Di Indonesia, gerakan yoga sudah banyak mengalami perubahan. Aktivitas yoga lebih ditekankan pada olah tubuh melalui pernafasan dan gerakan-gerakan tubuh tanpa aktivitas spiritual agama tertentu. 

Namun untuk lebih jelas, ada baiknya meneliti dan memahami dulu jenis yoga yang akan diikuti sehingga tidak timbul kekhawatiran boleh tidaknya melakukan aktivitas yoga yang Muslimah pilih.

Sunday, July 22, 2018

Munafik dan Cara Menghadapinya

Gambar terkait
Keadaan ini sering admin rasakan. Dan mungkin juga sering dirasakan sama orang lain. Ya, Munafik. Orang seperti ini akan selalu ada. Kehidupan… adalah misteri bagi semua makhluk hidup di dunia ini. Kita berjalan di atas kenyakinan yang kadang membawa kita ke dalam keadaan yang sulit untuk dimengerti. Dan yang tersulit adalah mengalahkan ego diri kita.

1. Menghadapi orang munafik itu, bukan mencaci makinya, bukan juga dengan cara membuka belangnya, tapi biarkan ia munafik terus dengan kesedihannya, kemudian pura-pura tidak tahu apa-apa.
Dengan begitu, perlahan tapi pasti akan ada orang yang dengan sendirinya memberitahumu betapa munafinya dia.

2. Menghadapi orang yang egois, bukan membencinya, bukan juga cuek padanya, tapi perlahan-lahan menjauhinya, menjauhkan diri sepenuhnya darinya, kemudian pura-pura tak tau menahu. Jika dia menemui orang lain, akan kamu lihat banyak yang menjauhinya.

3. Hidup seorang diri, meskipun sulit, tapi harus bisa belajar hidup dalam kesendirian, jangan begitu gampangnya bergantung pada orang lain.
Hal ini untuk mengantisipasi agar kamu tetap bisa hidup dengan nyaman ketika orang-orang sekitar kamu itu meninggalkan kamu suatu saat nanti.

4. Saat sakit, kamu harus utamakan pada dirimu sendiri, jangan menunggu si A atau si B yang akan memberikan perhatian padamu. Bila tiba saatnya, kamu akan rasakan siksaan itu, baik itu siksaan secara fisik atau batin (pikiran). 

5. Saat tinggal sendiri di luar daerah, kamu harus sering-sering berhubungan dengan kerabat handai taulan atau teman-teman, belajar menerima masukan dari orang-orang yang lebih senior.
Belajar bersabar, tidak ada yang tidak bisa kamu tahan, dan tak perlu menghukum dirimu sendiri atas kesalahan orang lain.

6. Kata-kata yang dibicarakan orang lain padamu, terlepas dari apa niat awalnya, kamu boleh percaya tapi jangan sepenuhnya.
Tetapi dengarkan baik-baik dan beri tanggapan secara cermat ketika orang lain bicara, itu namanya menghargai.

7. Jangan sedikit-sedikit sentimentil terhadap orang lain, meskipun kamu benar-benar sentimental.
Tapi orang lain mungkin tidak mengerti dengan sentimental kamu, juga tidak ada kewajiban dan tanggung jawabnya untuk itu. Begitu kamu lampiaskan, maka itu justeru mempermalukan dan memperdalam rasa sakitmu.

8. Dalam hal apa pun, jangan mempermainkan orang lain, kalau kamu permainkan pasti juga akan dipermainkan. Meskipun kamu pandai, tapi bukan yang paling cerdas (masih ada yang lebih darimu).

9. Jangan mencoba merebut kepentingan orang lain, tetapi juga jangan membiarkan orang lain semaunya merampas milikmu. Ini adalah prinsip.

10. Tidak perlu iri pada prestasi, popularitas, status, bonus orang lain. Alasannya ada lima:
Pertama, perjuangan orang lain mungkin jauh lebih keras daripada kamu, hanya saja kamu tidak melihatnya.

Kedua, benda-benda ini hanya dapat memberi kepuasan sesaat, bukan permanen, jadi abaikan saja.
Ketiga, ada aturan main yang tidak mampu kamu mainkan di sini, sementara mereka yang sanggup itu juga juga lelah.
Keempat, kamu memiliki kekurangan dari orang lain pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, tunggu saja kesempatan itu.
Kelima, tidak bersaing memperebutkan semua yang tidak abadi ini, kamu akan semakin banyak teman.

11. Bantulah semampunya kalau memang bisa membantu orang lain. Sebaliknya jangan memaksakan diri kalau tidak mampu berbuat apa-apa.

12. Terhadap orang yang suka bertentangan dengan kamu, pertama kamu harus instrospeksi diri dulu secara obyektif, hilangkan penyebabnya.

13. Terhadap orang-orang yang tidak sama kebiasaannya sengan kamu, buatlah jarak, kemudian hidup sesuai dengan kesukaan masing-masing, tidak mempengaruhi orang lain, dan tidak perlu meminta orang lain untuk berubah.

14. Uang adalah hasil keringat sendiri, bijaklah dalam menggunakannya.

15. Belajar membalas budi, harus bisa bersyukur, maka jalan kamu juga akan semakin lebar.
 

Saturday, July 21, 2018

Apakah Semua Manusia di Dunia Memiliki Jodoh ?

Hasil gambar untuk jodoh
Allah S.W.T. Yang Maha Pengasih dan Penyanyang menciptakan manusia dalam berpasang-pasangan. Jodoh merupakan bagian dari takdir Allah yang dapat diusahakan. Jodoh akan berubah seiring dengan usaha kita dalam memperbaiki diri sendiri menuju Allah.
Apakah semua manusia di dunia ditakdirkan untuk memiliki jodoh ?

Jodoh adalah salah satu misteri yang selalu dipertanyakan oleh umat manusia. Dan jika seseorang bertanya tentang jodoh kepada seseorang yang lain. Maka akan terciptalah berbagai jawaban yang berbeda dari mereka.
Misalnya saja jika kamu bertanya tentang jodoh kepada seseorang yang belum mempunyai tambatan hati. Mungkin mereka akan menjawab tentang jodoh dengan kriteria sempurna. Misalnya jodoh yang tampan, mapan, dan shaleh/shalihah, punya beberapa hafalan, mempunyai keturunan atau nasab yang baik. Dan banyak lagi yang lahir dari angannya.
Berbeda lagi jika kamu bertanya tentang jodoh kepada seseorang yang sudah mempunyai seseorang (red:pacar, tambatan hati). Mereka menjawabnya akan lebih condong kepada karakter seseorang yang diyakini mereka akan menjadi pendampingnya kelak. Mereka tidak peduli lagi akan kelebihan dan kekurangan yang sebelumnya dimiliki oleh tambatan hatinya itu, yang jelas seperti dia.
Jawaban ini juga akan berbeda lagi jika kamu menanyakan tentang jodoh kepada seseorang yang sudah menikah atau bahkan mempunyai momongan. Mereka akan menjawabnya dengan sangat sederhana, seperti yang penting seorang muslim, shalih/shalihah, serta mampu berperan dalam keluarga.

Seperti itulah jawaban-jawaban yang akan muncul jika kita bertanya tentang jodoh. Beragam jawaban akan muncul dan tentunya itu tergantung dengan persepsi masing-masing orang yang dipunyai. Mereka hanya berusaha memberikan jawaban secara subjektif sesuai dengan apa yang mereka tahu.

Takdir Jodoh Menurut Islam

Berbicara tentang Jodoh, bagaimana cara pandang Islam dalam mengungkapkan rahasia di dalamnya? Apakah Jodoh merupakan takdir yang telah digariskan? Tetapi kenapa Rasulullah juga memberikan kita pilihan untuk memilih jodoh yang kita inginkan? Kenapa begitu banyak nasehat yang menyarankan agar kita lebih berhati-hati dalam memilih calon pendamping kita?

Dikarenakan hal itu pula, masih banyak manusia yang khawatir tentang jodohnya. Malah banyak yang dikarenakan hal tersebut malah memilih jalan setan seperti pacaran sebagai bentuk “ikhtiar” tentang jodoh. Padahal hal tersebut benar-benar salah.

Dilain pihak, ada yang menghindari hal tersebut. Namun sangat sedikit upaya dalam ber”ikhtiar” yang benar sehingga pada umur yang semakin bertambah, dia tidak kunjung mendapatkan jodoh. Kenapa hal ini terjadi? Sebenarnya jodoh itu pilihan atau takdir sih?
Padahal sesungguhnya Allah telah membocorkan persoalan tentang jodoh ini kepada kita melalui ayatnya Al-Qur’an Surat An Nur ayat 26 yang Artinya:
Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)
Jika melihat dari potongan ayat Al-Qur’an diatas dapat dikatakan bahwa Laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Sedangkan laki-laki yang tidak baik juga untuk wanita yang tidak baik. Sungguh merupakan sebuah rahasia yang sebenarnya sudah lama terungkap jika kita mau mengkaji agama kita lebih dalam.

Karena dengan hal tersebut sesungguhnya kita sekarang dapat meyakini, memahami, dan mengamalkan apa yang terkandung di dalam ayat tersebut. Bagaimana? Tidak sulit bukan jika kita ingin memahami jodoh dari kacamata kita sebagai seorang muslim.

Di dalam agama Islam, jodoh itu berarti seseorang yang telah tertulis namanya di Lauh Mahfuz bahkan jauh sebelum kita manusia diciptakan ke dunia dimana dia akan ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup kita di dunia ini.

Namun bukannya kita tidak bisa memilih tentang jodoh karena yang tertulis di Lauh Mahfudz itu merupakan banyak pilihan jalan. Dan itu sebenarnya merupaka hasil dari sikap dan akhlaq kita dalam menanggapi kehidupan yang sementara ini.

Jadi jodoh merupakan hal telah tertulis di Lauh Mahfudz,namun kita bisa memilih dengan siapakah kita akan nanti berjodoh. Tentunya pengaruh ahklaq dan sikap kita di dunia akan menentukannya.
Seperti soal rejeki yang dimana hasilnya adalah merupakan faktor dari setiap usaha, ikhtiar, dan doa kita kepada Allah. Begitu juga dampak dari rezeki tersebut dimana itu juga terpengaruh dari jalan kita dalam memilih apakah rezeki yang kita ambil merupakan rezeki halal atau haram.

Jadi apakah kamu masih bingung dalam memilih atau mendapatkan jodoh? Karena sesungguhnya jodoh yang akan datang kepadamu merupakan hasil dari setiap doa dan usaha kamu. Jika ingin mendapatkan jodoh yang membawa kamu kepada kebahagiaan dan keberkahan dari Allah, maka dapatkanlah dia dengan berusaha dulu mendapatkan cinta Allah.

Rahasia Memilih Jodoh Dalam Islam

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa,
“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).
Dikatakan disini bahwa seorang laki-laki muslim dalam memilih seorang wanita yang baik untuk dijadikan istrinya aka nada 4 faktor yang harus diperhatikan. Yaitu Agama, martabat, harta, dan kecantikan. Dan ketahuilah bahwa Rasulullah mengharuskan kita untuk memilih agama dan kualitasnya terlebih dahulu, Baru tiga faktor yang lain bisa menyusul.
Begitu pula dengan pihak wanita. Wanita dalam menerima pinangan laki-laki atau memilih calon pemimpin keluarganya kelak juga harus memperhatikan hal diatas. Ketaqwaan calon pria yang ingin menikahinya harus menjadi pilihan utama.
Dan tentunya sebenarnya seseorang yang datang kepadamu untuk menikahi kamu atau seseorang yang akan kau nikahi merupakan cerminan daripada kamu itu sendiri. Jadi jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada seseorang yang telah datang kepadamu, kamu bisa ikhtiar dengan mengubah setiap akhlaq untuk lebih baik dan berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan pasangan yang baik agamanya. Yang sanggup membimbing kita kepada surga Allah.

Hubungan Jodoh dan Cerai

Mungkin akan banyak yang berpikir, jika seseorang yang kita nikahi, lama mendampingi kita, merupakan cerminan dari diri kita sendiri, dan bisa katakana dia adalah jodoh kita. Kenapa ada banyak orang di dunia ini yang akhirnya memutuskan untuk bercerai atau berpisah?
Dari sini kita kembali kepada yang namanya takdir. Bahwa sebenarnya di Lauh Mahfudz kita telah dituliskan banyak pilihan tentang jalan hidup apa yang akan kita jalani. Itulah hak manusia yang kita miliki. Yaitu kita mempunyai kewajiban dalam “memilih” tentang apa-apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam hidup kita. Tentunya setiap pilihan tersebut sebenarnya memang telah tertulis dan ada jalan sendiri-sendiri termasuk urusan jodoh.

Rasulullah telah memberikan kita petunjuk dan juga nasihat untuk memilih pasangan hidup. Namun jika kita masih memilih pasangan hidup kita yang tidak sesuai dengan petunjuk tersebut, sesungguhnya kita sedang berlarut diri daripada nafsu dan ego.
Maka dari itu jika pasangan hidup kita malah membawa kita menjauh diri dari Allah, jangan salahkan Allah yang telah menuliskan takdir. Karena semua itu sebenarnya sudah sesuai daripada apa yang telah kamu pilih sebelumnya. Apa dengan cara yang baik dan halal sesuai Islam atau dengan cara maksiat.

Bukankah Allah sudah memperingatkan… Rasulullah pun sudah berpesan. Kita sendiri yang menentukan pilihan, walaupun hasil akhirnya tetap ada di tangan Tuhan, apakah mempersatukan dengan orang pilihan kita meskipun kita salah jalan , atau justru menggagalkan. Jika Allah menyatukan jangan berbangga dan merasa benar dulu, belum tentu Allah meridhai pilihan kita tadi bukan? Karena Allah hanya akan meridhai yang baik-baik saja.
Tapi karena kasih-Nya, Dia mengabulkan apa yang kita usahakan, Dia mengizinkan semua itu terjadi, namun di balik kehendak-Nya tadi, tidak kah kita takut Allah berkata… “Inikah maumu? Inikah yang membuatmu bahagia? Inikah yang kau pilih? maka Aku izinkan semua maumu ini terjadi. Namun kau juga harus mempertanggung jawabkan semua ini di akhirat nanti”
Jadi, kembali kepada diri masing-masing ya dalam mendapatkan jodoh.


https://m.facebook.com/notes/azizi-fathoni/apakah-jodoh-setiap-orang-telah-ditetapkan-oleh-allah-swt/256497861084495/



Dukhon

Saat ini di dunia dan juga tentu saja termasuk indonesia, sedang perjadi pandemi yang berasal dari corona. Nama legkapnya virus corona. Ata...