Saturday, September 1, 2018

Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam

Hasil gambar untuk jaga emosi
Emosi merupakan perasaan yang lazim dimiliki oleh setiap manusia. Biasanya manusia dapat merasakan emosi karena dipengaruhi oleh suasana hati. Suasana hati yang sedang sedih, marah, dan gembira merupakan contoh dari macam-macam emosi. 

Akan tetapi, emosi lebih diidentikkan dengan marah. Sebagai contoh, seseorang berkata, “Si fulan orangnya emosian, mudah marah. Kalian berhati-hatilah dengan dia.” Perkataan semacam itu tentu pernah kita dengar. Entah di jalan atau ketika kita sedang berkumpul bersama teman. 

Penting bagi kita untuk menjaga emosi. Karena emosi tentu akan mempengaruhi diri kita pribadi dan lingkungan sekitar. Ada beberapa manfaat ketika kita dapat menjaga emosi, yaitu:
  • Disenangi banyak orang. Kebanyakan orang akan lebih menyukai tipikal seseorang yang tidak mudah emosi, sehingga mereka akan lebih disenangi.
  • Mudah dalam bergaul sesuai Pergaulan dalam islam. Bergaul dengan orang yang memiliki emosi yang stabil akan lebih menyenangkan dan mudah diterima di lingkungan pergaulannya.
  • Tidak mudah dipengaruhi atau dihasut. Dalam keadaan emosi yang stabil akan lebih mudah berpikir dengan jernih, sehingga tidak mudah untuk dipengaruhi tau dihasut.
  • Fisik dan mental akan menjadi sehat. Orang yang mudah emosi tekanan darahnya akan tinggi. Detak jantung dan otot pun akan lebih tegang. Sehingga dapat menurunkan daya tahan tubuh. Selain itu, orang yang emosian tidak dapat menghadapi masalah dengan tenang dan membuat mentalnya terganggu dan mudah stres.
  • Terhindar dari perselisihan atau pertengkaran. Perselisihan atau pertengkaran umumnya disebabkan oleh emosi. Jika kita dapat menjaga emosi otomatis akan terhindar dari kedua hal tesebut.
Selain bermanfaat, menjaga emosi juga diperintahkan oleh Allah SWT.
“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy Syuura: 37)
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Bukhari)

1. Membaca Ta’awudz
Hal pertama yang dilakukan dalam Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam adalah mengendalikan emosi. Emosi atau marah berasal dari hawa nafsu. Di mana hal tersebut adalah merupakan titik lemah manusia yang selalu diincar oleh syaitan. Oleh karena itu, sebaiknya kita segera meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT.
Dari sahabat Sulaiman bin Surd Ra, beliau menceritakan: Suatu hari saya duduk bersama Nabi Saw. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda:
“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: “A’uudzu billahi minas syaithanir rajiim,” marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Menjaga Lisan dengan Diam
Ketika sedang emosi, hal yang paling sulit untuk dikendalikan adalah perkataan. Biasanya semakin banyak kata yang terucap saat emosi atau marah, maka semakin banyak pula kita menebar kebencian dan hal yang tidak baik yang keluar dari mulut. Oleh karena itu, apabila kita sudah mulai merasa emosi atau marah, sebaiknya kita lekas berdiam. Tutup mulut dan jaga lisan.
Dari Ibnu Abbas Ra, Rasulullah Saw. bersabda:
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad).

3. Merubah Posisi
Ketika sedang emosi atau marah, maka sebaiknya mengambil posisi yang lebih rendah. Maksudnya adalah ketika kita emosi atau marah di saat sedang berdiri, maka hendaklah kita duduk untuk meredakan emosi tersebut. Jika kita marah pada saat posisi duduk, maka hendaklah kita berbaring. Dengan begitu kita akan sulit untuk bergerak atau melakukan perlawanan pada saat marah.
Dari Abu Dzar Ra, Rasulullah Saw. menasehatkan: “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

4. Mengingat Keutamaan Menjaga Emosi
Ada berbagai macam manfaat atau keutamaan dalam menjaga emosi seperti yang telah disebutkan di atas. Jadikanlah pacuan untuk meredakan emosi atau amarah. Ingat selalu apa saja yang akan kita dapatkan ketika berhasil menahan emosi. Rayuan untuk menjaga emosi juga disampaikan dalam hadist.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi)

5. Mengingat Akibat dari Emosi
Selain mengingat manfaat dari menjaga emosi, sebaiknya juga ingatlah akibat dari emosi tersebut. Ada beberapa akibat yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, misalnya: terjadi perselisihan atau pertengkaran, hubungan menjadi tidak baik, timbul rasa dendam, sulit untuk bergaul, tidak memiliki teman, dsb.

6. Berwudhu
Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam yang ampuh adalah dengan berwudhu. Sesungguhnya marah itu adalah bersumber dari syaitan. Mereka menggoda dan menjerumuskan kita dengan kemarahan. Syaitan terbuat dari api, sedangkan api akan padam dengan air. Maka ketika sedang emosi atau marah, hendaklah berwudhu untuk meredam emosi tersebut.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
“Sesungguhnya marah itu dari syaitan, dan syaitan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

7. Mandi
Sama halnya dengan berwudhu, mandi juga dapat meredam emosi atau marah. Karena emosi atau marah itu bersumber dari syaitan, maka mandi juga dapat meredam emosi tersebut.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
“Marah itu dari syaitan, syaitan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.” (HR. Abu Nuaim)

8. Membaca Istighfar
Amalan istighfar dapat menenangkan hati dan pikiran sebagai alternatif Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam. Karena sejatinya beristighfar itu adalah meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Dengan begitu, hati dan pikiran akan lebih lega dan jiwa tenang ketika ada sesuatu yang mengganggu ataupun membuat emosi dan marah.


9. Berdzikir
Berdzikir merupakan amalan yang sangat dianjurkan kepada umat islam untuk dikerjakan kapanpun. Berdzikir tidak memandang waktu-waktu tertentu. Akan tetapi, berdzikir ketika sedang emosi atau marah dapat membuat hati menjadi tenang. Dengan hati yang tenang, maka emosi pun dapat dikendalikan.

10. Membaca Al Qur’an
Al Qur’an merupakan kitab suci yang sangat istimewa. Al Qur’an juga memiliki beberapa nama layaknya Asmaul Husna bagi Allah. Salah satu nama lain dari Al Qur’an adalah Asy Syifa yang artinya obat penyembuh. Sesungguhnya emosi atau marah merupakan penyakit hati. Adapun obat dari penyakit hati adalah Al Qur’an. Dengan membaca Al Qur’an, hati yang panas akan menjadi sejuk dan dapat membuat pikiran dan hati menjadi tentram.

11. Shalat Sunnah
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa salah satu cara untuk mengendalikan emosi adalah dengan berwudhu. Sebagimana syarat sah dalam shalat, apabila sebelum melakukan shalat diwajibkan untuk berwudhu.

Dari berwudhu saja kita sudah dapat mengendalikan emosi, terlebih kita melakukan shalat, maka hati dan perasaan akan menjadi lebih tenang. Shalat sunnah dapat dilakukan kapan saja, maka sangat cocok dilakukan ketika sedang emosi atau marah. Selain itu, di dalam shalat terdapat doa-doa dan ayat-ayat Al Qur’an. Maka lengkap sudah semua yang kita butuhkan untuk mengendalikan emosi.


12. Berpuasa Sunnah
Puasa sunnah memiliki berbagai manfaat, salah satunya adalah dapat mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam diri. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa emosi atau marah adalah merupakan salah satu bagian dari hawa nafsu tersebut. Sehingga dengan begitu kita akan mudah mengendalikan emosi atau amarah di dalam diri.

13. Memaafkan
Saling memaafkan adalah salah satu hal terindah dalam hidup ini. Dengan saling memaafkan, suasana hati akan menjadi tenang, perasaan dendam pun tidak akan datang dan hidup pun akan menjadi damai dan harmonis. Tidak akan terjadi perselisihan atau perkelahian atau bahkan peperangan jika kita saling memaafkan.

Emosi atau marah juga dapat seketika redam ketika kita saling memaafkan. Oleh karena itu, apabila ketika kita sedang emosi atau marah kepada seseorang, maka hendaklah segera saling memaafkan. Sehingga emosi tersebut dapat terhenti.
Allah SWT. berfirman:
“Dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy-Syuura: 37)

14. Introspeksi Diri atau Tafakur
Bertafakur atau introspeksi diri berarti merenungkan setiap perbuatan dan perkataan yang telah kita lakukan. Apakah setiap perbuatan dan perkataan kita telah benar dan tidak menyinggung perasaan orang lain, atau sebaliknya. Salah satu manfaat bertafakur adalah dapat membentengi diri dari perilaku yang berlebihan terhadap sesuatu, misal marah.

15. Berpikir Positif
Selalu berpikir positif dalam menghadapi persoalan dan masalah menjadikan pikiran kita tenang. Selain pikiran tenang, dengan berpikir positif juga berarti kita mudah memaklumi dan mengambil hikmahnya, baik perkataan ataupun perbuatan orang lain.
Dengan emosi yang terjaga diharapkan kita dapat hidup bahagia dalam islam, menjalankan hidup sesuai akhlak dalam islam, dan memiliki jiwa yang tenang dalam islam.




https://dalamislam.com/akhlaq/cara-mengendalikan-emosi-menurut-islam

Hindari Hal Ini Saat Kamu Sedang Marah

Hasil gambar untuk Hindari Hal Ini Saat Kamu Sedang Marah
Hal ini baru admin rasakan belum lama ini. Tepatnya baru tujuh hari. yup, baru seminggu ketika tulisan ini di buat (copas juga) he..he..he... Setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda dalam mengendalikan dan mengontrol emosi. Emosi seorang individu memang ada kalanya berubah-ubah. Tentu hal wajar jika mood dan sensitifitas seseorang berpengaruh terhadap hal-hal yang sedang mereka alami saat itu. Setiap individu mengekpresikan perasaan mereka dengan berbagai hal.
Namun, terkadang banyak orang yang tidak bisa mengontrol emosi sehingga emosi tersebut berubah menjadi kemarahan yang membuat kita geram dan kesal. Seringkali seseorang yang sedang terbawa rasa amarah tidak dapat berpikir jernih sehingga timbul hal-hal yang akan disesalinya esok hari. Meski dalam keadaan marah hebat sekalipun, sebaiknya kalian patut menghindari hal-hal berikut jika tak mau menyesal nanti!

1. Mengambil keputusan saat sedang marah

unsplash.com/Frank Busch
Tak perlu dipungkiri lagi, mengambil keputusan dalam amarah adalah hal yang tidak bijak untuk dilakukan. Sebab, dalam keadaan ini, seseorang yang sedang di kelilingi seribu benci dan kecewa hanya akan membuat keputusan sepihak demi memuaskan rasa kesalnya terhadap orang lain.
Keputusan besar atau kecil sekalipun sejatinya harus di pikirkan baik dan buruknya telebih dulu. Jika kalian dalam keadaan marah, usahakan untuk mengambil nafas dalam-dalam dan diamlah sejenak sampai benar-benar merasa baik-baik saja. 

2. Mempercayai semua hal yang diomongkan orang lain

Unsplash/Ben White
Seorang bijak pernah berkata, “Kalau dasarnya sudah tidak suka, kesalahan sekecil apapun akan dibesar-besarkan. Kalau dasarnya sudah suka, kesalahan sebesar apapun akan dibenar-benarkan.” Hal tersebut agaknya sangat akurat untuk menggambakan emosi dan perilaku seseorang yang sedang dalam amarah. Jika ia mendengar omongan orang lain tentang seseorang yang dibenci, emosi dan perasaan dendam terhadap orang tersebut pasti akan sangat kuat sehingga semua omongan buruk orang lain tentang seseorang yang ia benci pasti akan di benarkan meski itu belum tentu benar. Jadi, jangan sekali kali kalian menelan mentah-mentah semua hal yang orang lain omongkan, ya!

3. Melakukan hal-hal buruk untuk menuntaskan amarah yang akan kamu sesali kemudian

Menuntaskan perasaan marah dan masalah secepat mungkin memang baik untuk diri sendiri. Ketika kita sedang dalam masalah yang menimbulkan amarah, tentunya tak baik jika kita biarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian yang jelas. Namun, dengan catatan bahwa saat menuntaskan amarah, semua pihak harus berkepala dingin dahulu.
Bahayanya adalah jika seseorang yang masih terbawa emosi justru melakukan hal-hal lain seperti merusak atau membanting barang-barang yang ada, berkata-kata kasar, atau bahkan sampai memukul orang lain dengan kekerasan. Tentu, cara-cara tersebut adalah hal-hal yang tak patut dilakukan karena hanya akan timbul penyesalan setelahnya.

4. Menunjukan kemarahanmu ke publik dan semua sosial media

Saat ini, sosial media bagaikan bagian dari hidup setiap orang. Semua aktifitas dan perasaan kita kadang dengan mudah kita ekspos ke orang lain yang belum tentu kita kenal di dunia nyata. Namun, ketika kita sedang di rangkul amarah, sebaiknya kita menutup semua akun sosial media kita untuk sementara. Tak ada baiknya jika kita mengumbar kesalahan orang lain dan membiarkan dirimu menjadi orang yang kasar dan sembarangan di social media. Hindari ya, guys!

5. Bercerita tentang masalahmu kepada semua orang tanpa terkecuali

Di saat kita sedang dilanda kegundahan, galau, dan kecewa pada sesuatu hal atau pada seseorang, hal utama untuk mencairkan kegelisahan kita adalah dengan di dengar orang lain. Bercerita tentang masalah kita dan apa yang sedang terjadi kepada orang lain merupakan satu jurus jitu untuk kita dapat lebih tenang dan stabil.
Namun, bukan berarti semua orang yang kamu temui harus tau tentang masalahmu. Cukup ceritakan masalahmu kepada satu atau dua orang yang paling kamu percayai. Jangan pernah menceritakan hal apapun itu kepada orang lain jika mereka dapat menyelesaikannya. Sebab, dapat dipastikan bahwa hanya akan ada 1 orang yang peduli dan sisanya hanyalah ingin tahu.
Emosi dan perasaan seseorang memanglah hal rumit yang kadang butuh perhatian lebih untuk kita dapat memahaminya. Tak ayal, amarah dan rasa kecewa pun turut menjadi momok utama seseorang jadi lepas kendali dan menyesali tindakannya di kemudian hari. Meskipun kita sedang merasa kecewa dan marah, namun bukan berarti kita menjadi manusia paling benar sedunia.
Percayalah, bahwa saat itu kita hanya sedang di kendalikan nafsu dan keadaan. Maka, sangat penting jika kalian memperhatikan untuk tidak melakukan hal-hal tersebut saat sedang dalam keeadaan marah, ya...
 

Sunah-Sunah Dalam Shalat

Hasil gambar untuk sunah sunah dalam shalat
Sunah-sunah dalam shalat terdiri atas dua bagian:
1- Sunah Ab’adh
Sunah Ab’adh adalah amalan amalan dalam sholat yang sangat dituntut, jika ditinggalkan dengan sengaja atau tidak, disunatkan sujud sahwi
  1. Membaca tasyahud awal (kesatu) serta
  2. Duduk di saat tasyahud awal
  3. Membaca shalawat atas Nabi saw pada tasyahud awal
  4. Membaca shalawat atas keluarganya pada tasyahhud awal
  5. Membaca do’a qunut yaitu membacanya sewaktu bangkit (berdiri) dari ruku pada raka’at kedua di shalat subuh
  6. Membaca shalawat atas Rasulallah saw dan keluarganya sebagai penutup do’a qunut pada shalat subuh.
2- Sunah Haiat
Sunah Haiat adalah amalan amalan sunat dalam sholat , jika ditinggalkan dengan sengaja atau tidak , tidak disunatkan sujud sahwi. Sunah haiat ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan agar menambah banyak pahala. Sunah-sunah tersebut di antaranya:
1. Mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu ketika bertakbiratul ihram, ketika akan ruku, ketika bangkit dari ruku, ketika berdiri setelah tasyahud awal.
عَنْ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ (رواه الشيخان)
Sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar ra, “Bahwasanya Nabi saw apabila beliau melaksanakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua bahu beliau, kemudian membaca takbir. Apabila beliau ingin ruku, beliau pun mengangkat kedua tangannya seperti itu, dan begitu pula kalau beliau bangkit dari ruku” (HR Bukhari Muslim).
عَنْ عَلِيّ بن ابي طالب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاةِ الْمَكْتُوبَةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ، وَيَصْنَعُ مِثْلَ ذَلِكَ إِذَا قَضَى قِرَاءَتَهُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ ، وَيَصْنَعُهُ إِذَا فَرَغَ وَرَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ ، وَلا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ صَلاتِهِ وَهُوَ قَاعِدٌ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ السَّجْدَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ كَذَلِكَ كَبَّرَ (البخاري و أبو داودو الترمذي)
Begitu pula Hadits Ali bin Abi Thalib ra “Bahwasanya Rasulallah saw apabila hendak melakukan shalat lima waktu, beliau memulai dengan takbir, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua bahu beliau, dan beliau melakukan seperti itu jika selesai dari bacaanya dan ingin ruku, dan beliau melakukan seperti itu kalau beliau bangkit dari ruku, dan beliau tidak mengangkat kedua tanganya dalam shalatnya ketika duduk, dan begitu pula jika beliau bangkit dari kedua sujud beliau mengangkat kedua tangannya dan takbir” (HR Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi)
2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah dada dan di atas pusar. Hal ini berdasarkan hadist:
عَنْ وَائِل بِنْ حِجْر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : صَلَّيْت مَعَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَده الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ (ابن حزيمة في صحيحه)
Dari Wail bin Hijr ra, “Saya pernah salat bersama Nabi saw, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri di atas dadanya” (HR Ibnu Huzaimah dalam shahih-nya)
3. Membaca do’a iftitah dilakukan sebelum membaca ta’awwudh (‘Audzubillahi minas syaitonir rajim), yaitu:
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً إني وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِيْ، وَنُسُكِيْ، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya: Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah dengan banyaknya. Maha suci Allah sepanjang pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku bagi Tuhan yang mencipta langit dan bumi, dengan suasana lurus dan berserah diri dan aku bukan dari golongan orang musyrik. Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku, matiku adalah untuk Allah Tuhan sekelian alam. Tidak ada sekutu bagiNya dan kepadaku diperintahkan untuk tidak menyekutukan bagiNya dan aku dari golongan orang Islam.
Sesuai dengan hadits dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: “Rasulullah saw apabila shalat, beliau membaca (do’a iftitah) sebagai berikut:
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa’daik (Aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampun dariMu dan aku bertobat kepadaMu).” (HR. Muslim)
4. Membaca ta’awwudh (A’udzubillaahi minasy syaithoonirojiim) sebelum membaca surat al-Fatihah dengan perlahan-lahan.
Firman Allah,
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ – النحل ﴿٩٨﴾
Artinya: “Maka apabila kamu membaca Al-quran, maka hendaklah kamu memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (Qs An-Nahl ayat: 98)
5. Membaca amin (aamiin) setelah membaca surat al-Fatihah. Hal ini disunahkan kepada setiap orang yang shalat, baik sebagai imam maupun makmum jika mendengar bacaan imamnya atau shalat sendirian.
عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فأمِّنوا؛ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه الشيخان)
Sabda Rasulullah saw dari Abu Hurairah ra, “Apabila imam membaca amin, malaikat pun membaca amin maka ucapkanlah pula amin olehmu. Maka sesungguhnya barangsiapa yang bacaan aminnya berbarengan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari dan Muslim)
6. Membaca sesuatu dari ayat al-Qur’an setelah membaca surat al-Fatihah pada shalat Subuh atau shalat-shalat lainya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ : وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ، وَفِي الْعَصْرِ نَحْوَ ذَلِكَ ، وَفِي الصُّبْحِ بِأَطْوَلَ مِنْ ذَلِكَ (رواه الشيخان)
Dari Jabir bin Samrah ra, “Rasulullah saw ketika shalat Duhur membaca surat “Wallaili idza yaghsya”, dan pada shalat Ashar sama seperti itu panjangnya, dan pada shalat subuh membaca surat lebih panjang dari itu” (HR Bukhari Muslim).
عن جُبَيْر بْن مُطْعِم عَنْ أَبِيهِ سَمِعْت النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأ فِي الْمَغْرِب بِالطُّورِ (البخاري)
Dari Jubair bin Muth’im ra, ia berfkata: “saya mendengar Nabi saw membaca surat At-Thur pada shalat maghrib”. (HR. Bukhari)
عَنِ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِشَاءِ ‏{‏ وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ‏}‏ فَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا أَوْ قِرَاءَةً مِنْهُ (رواه الشيخان)
Dari Al-Barra’ ra, ia berkata: “saya mendengar Rasulallah saw membaca surat (Wat thini wazaitun) pada shalat isya’. Saya tidak pernah mendengar seseorang lebih bagus dari suara Rasulallah saw dalam bacaanya” (HR Bukhari Muslim)
7. Memperpanjang raka’at pertama dari raka’at yang kedua.
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ ، يُطَوِّلُ فِي الأُولَى ، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ ، وَيُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا ، وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ ، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى ، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى مِنْ صَلاةِ الصُّبْحِ ، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ (رواه البخاري)
Sesuai dengan hadits dari Abu Qatadah ra, ia berkata: Nabi saw pernah membaca dalam dua rakaat pertama pada shalat dzuhur surat al-Fatihah dan dua surat. Beliau membaca surat yang panjang pada raka’at pertama dan membaca surat yang pendek pada raka’at kedua, dan kadang-kadang memperdengarkan kepada kami dalam membaca ayat. Dan beliau membaca pada shalat ashar surat Fatihah dan dua surat, beliau membaca surat yang panjang pada raka’at pertama dan surat yang pendek pada raka’at kedua, begitu pula beliau membaca surat yang panjang pada raka’at pertama pada shalat subuh dan membaca surat pendek pada raka’at yang kedua” (HR. Bukhari)
8. Mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat pada waktu shalat jahriah (yang dikeraskan bacaannya). Yaitu mengeraskan suara pada kedua raka’at shalat subuh, dan dua rakaat yang pertama pada shalat Magrib dan Isya, dan kedua raka’at shalat Jumat.. Hal ini disunahkan bagi imam dan bagi yang shalat sendiri.
9. Merendahkan suara pada shalat yang dipelankan bacaannya (sirriah), yaitu pada shalat dzuhur, ashar, dan di raka’at ketiga pada shalat maghrib, dan di raka’at ketiga dan keempat pada shalat isya. (mengikuti perbuatan salaf)
10. Merenggangkan kedua tangan dari lambung saat sujud dan ruku.
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ وَهُوَ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمْ أَبُو قَتَادَةَ : أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا : فَاعْرِضْ، فَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا قَامَ إلَى الصَّلَاةِ اعْتَدَلَ قَائِمًا وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ يُكَبِّرُ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ، ثُمَّ اعْتَدَلَ فَلَمْ يُصَوِّبْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُقْنِعْ، وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا، ثُمَّ هَوَى إلَى الْأَرْض سَاجِدًا، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ وَقَعَدَ عَلَيْهَا، وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ، ثُمَّ نَهَضَ، ثُمَّ صَنَعَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ، حَتَّى إذَا قَامَ مِنْ السَّجْدَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا صَنَعَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، ثُمَّ صَنَعَ كَذَلِكَ حَتَّى إذَا كَانَتْ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا صَلَاتُهُ، أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ، قَالُوا: صَدَقْت، هَكَذَا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (صحيح أبو داود و الترمذي و أخرجه البخاري مختصر)
Sesuai dengan hadits Abu Humaid As Sa’idi berkata: Aku di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah saw, salah satunya adalah Abu Qatadah. Aku lebih mengetahui tentang shalat Rasulullah saw.”Mereka berkata; “Jika demikian, jelaskanlah” Abu Humaid berkata; “Apabila Rasulullah saw hendak memulai shalatnya, beliau mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian beliau bertakbir sehingga semua tulang beliau kembali pada tempat semula dengan lurus, lalu beliau membaca (bacaan shalat) kemudian beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, lalu ruku dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut, kemudian meluruskan (punggung dan kepala) tidak menundukkan kepala dan juga tidak mengangkatnya (menongak-kannya).  Setelah itu beliau mengangkat kepala sambil mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah.”Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua bahu sampai lurus, lalu mengucapkan: “Allahu akbar.” Setelah itu beliau turun ke lantai, lalu merenggangkan kedua tangannya dari lambungnya, kemudian beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya dan mendudukinya, dengan membuka kedua jari-jari kakinya apabila bersujud, kemudian mengucapkan: “Allahu akbar.” Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya serta mendudukinya, sehingga tulang beliau kembali ke posisinya, kemudian beliau mengerjakan seperti itu di raka’at yang lain. Apabila beliau berdiri setelah dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, sebagaimana beliau bertakbir ketika memulai shalat, beliau melakukan cara seperti itu pada shalat-shalat yang lain, dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan).” Setelah itu sepuluh sahabat tersebut berkata; “Benar kamu, demikianlah Rasulullah saw melaksanakan shalat (HR.Shahih Abu Dawud, at-Tirmdzi, dan Bukhari)
11. Bertasbih pada waktu ruku dan sujud. Yaitu membaca “Subhana Rabbiyal ‘adzim” waktu ruku dan membaca: ” Subhana rabbiyal ‘ala”.waktu sujud.
عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ : يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ، فَمَضَى، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَتَيْنِ، فَمَضَى، فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ، فَمَضَى، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا بِقِرَاءَةٍ مُتَرَسِّلا، إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ فَكَانَ رُكُوْعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ: (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ) ثُمَّ قَامَ قِيَاماً قَرِيْباً مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ: (سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى) فَكَانَ سُجُوْدُهُ قَرِيْباً مِنْ قِيَامِهِ (رواه مسلم)
Dari Khudzaifah ra., ia berkata, “Pada suatu malam, aku pernah shalat bersama Nabi saw.. Beliau membuka (membaca) surat al-Baqarah. Aku berkata: Beliau akan ruku ketika selesai ayat 100. Tetapi (ayat 100 pun) lewat. Lalu aku berkata lagi: Beliau akan ruku ketika selesai ayat 200’. Tetapi (ayat 200 pun) lewat. Aku berkata kembali: Beliau akan shalat dengan membaca al-Baqarah dalam satu rakaat’. Tetapi al-Baqarah pun lewat. Kemudian Beliau melanjutkan dengan membaca surat an-Nisa. Lalu membaca surat Ali Imran dengan bacaan yang perlahan. Ketika lewat pada suatu ayat yang di dalamnya ada tasbih, Beliau bertasbih. Ketika lewat lewat pada suatu ayat yang ada doa, Beliau berdoa. Dan, ketika lewat pada suatu ayat yang ada ta’awudz (minta perlindungan), Beliau ber-ta’awudz.
Kemudian Beliau ruku dan membaca “Subhana rabbiyal ‘azhim” (Maha Suci Allah yang Maha Agung). Keadaan rukunya seperti berdirinya (lama). Kemudian ia membaca “Sami’allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamdu” (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya, ya Allah hanya milik-Mu pujian itu). Kemudian Beliau berdiri dari ruku mendekati lamanya Beliau ruku. Kemudian Beliau sujud dan membaca “Subhana rabbiyal a’la” (Maha Suci Allah yang Maha Tinggi). Keadaan sujudnya mendekati lamanya berdiri”. (H.R. Muslim).
12.Membaca “sami’allahu liman hamidah” sewaktu bangkit dari ruku’. Sesuai dengan hadist:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَالَ: رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ (رواه مسلم)
Dari Abu Sa’id al-Khudhri, ia berkata: sesungguhnya Rasulallah saw jika bangkit dari rukunya membaca: “Pujian sepenuh langit, pujian sepenuh bumi, pujian sepenuh antara keduanya dan pujian sepenuh apa saja yang Engkau kehendakinya setelah itu. Pemilik segala sanjungan dan pujian, sepantasnya apa yang dikatakan seorang hamba dan kita semua hamba bagiMu. Ya Allah tidak ada Dzat yang mampu menghalangi terhadap orang yang Engkau berikan se­suatu kepadanya. Dan tidak ada Dzat yang mampu mem­berikan sesuatu kepada orang yang Engkau halangi. Dan tiada berguna orang yang mempunyai keberuntungan di hadapan keberuntungan dari pada-Mu”. (HR Muslim)
13. Membaca do’a Qunut sewaktu bangkit (berdiri) dari ruku’ pada raka’at kedua shalat subuh dan membaca shalawat atas Rasulallah saw dan keluarganya sebagai penutup do’a. Perbuatan ini merupakan sunah ab’adh yang jika ditinggalkan harus diganti dengan sujud sahwi. Disunahkan pada saat berdo’a mengangkat kedua tangan.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى قَاتِلِي أَصْحَابِهِ بِبِئْرِ مَعُونَةَ ثُمَّ تَرَكَ فَأَمَّا الصُّبْحُ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا (الحاكم و البيهقي و الدارالقطني بإسانيد صحيحة)
Dari Anas bin malik ra, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah saw qunut selama  satu bulan mendo’akan atas orang orang yang membunuh sahabatnya di Sumur Maunah kemudian ditinggalkannya, kecuali di shalat subuh,  beliau tidak pernah meninggalkan qunut subuh sampai beliau wafat (HR Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-Darquthni, dengan sanad-sanad shahih)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ حِينَ قُتِلَ الْقُرَّاءُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِنَ حُزْنًا قَطُّ أَشَدَّ مِنْهُ .. وَزَادَ : أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ يَدْعُوهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَقَتَلُوْهُمْ (رواه البخاري)
Dari Anas ra bahwa Nabi mengutus utusan khusus (untuk berdakwah) yang disebut alqurra’ lalu mereka dibunuh, maka aku tidak melihat Rasulullah sangat sedih sebagaimana sedihnya beliau terhadap sahabat itu, maka beliau berqunut selama satu bulan setelah ruku’ (HR Bukhari)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ ، يَعْنِى عَلَى الَّذِينَ قَتَلُوهُمْ (صحيح البيهقي)
Dari Anas ra, ia berkata: “Saya melihat Rasulallah saw setiap shalat subuh mengangkat kedua tanganya memohon (mendo’akan) kecelakaan bagi mereka yakni kaum yang membunuh mereka (sahabatnya).” (Shahih Baihaqi)
عَنْ أَبِي رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فَقَـنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ ، وَجَهَرَ بِالدُّعَاءِ (البيهقي صحيح)
Dari Abi Rafi’ ra ia berkata: “Saya shalat di belakang Umar bin Khathab ra, kami qunut setelah ruku’, ia mengangkat kedua tangannya dan mengeraskan do’anya” (Shahih Baihaqi)
عن الْحَسَن بْن عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قال : عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، فإِنَّكَ تَقْضِي وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ و صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (أبو داود و الترمذي و الحاكم بإسناد صحيح)
Do’a qunut yang sempurna sesuai dengan riwayat al-Hasan bin Ali ra ia berkata: “Rasulallah saw mengajarkan aku do’a yang dibaca dalam qunut shalat witir:
“Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yg telah Engkau beri petunjuk berilah aku perlindungan sebagaimana orang yg telah Engkau lindungi sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yg Engkau berikan kepadaku jauhkan aku dari kejelekan apa yg Engkau takdirkan sesungguhnya Engkau yg menjatuhkan qadha dan tidak ada orang yg memberikan hukuman kepadaMu. Sesungguhnya orang yg Engkau bela tidak akan terhina dan orang yg Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau. Allah memberi shalat dan salam atas Nabi” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dengan sanad shahih)
14. Mendahulukan kedua lutut kemudian kedua tangan, hidung, dan kening jika hendak sujud.
عَنْ وَائِلٍ ابْنِ حِجْر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ (حسن أبو داود و الترمذي و النسائي)
Dari Wail bin Hijr ra, ia berkata: “Saya melihat Nabi saw sujud, ia meletakan kedua lututnya sebelum kedua tangannya” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai’)
15. Iftirasy yaitu duduk diatas tumit kaki pada setiap duduk setelah sujud dan pada tasyahud awal kecuali pada tasyahud akhir maka disunahkan duduk tawarruk yaitu memasukan kaki kiri ke kaki kanan dengan posisi di atas paha.
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قال: …. حَتَّى إذَا كَانَتْ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا صَلَاتُهُ، أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ، قَالُوا: صَدَقْت، هَكَذَا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (صحيح أبو داود و الترمذي و أخرجه البخاري مختصر)
Sesuai dengan hadits panjang dari Abu Humaid as-Saa’idi tersebut di atas: “dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan).” Setelah itu sepuluh sahabat tersebut berkata; “Benar kamu, demikianlah Rasulullah saw melaksanakan shalat (HR. Abu Dawud, at-Tirmdzi, Bukhari)
16. Do’a ketika duduk antara dua sujud.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ يَقُوْلُ بَيْنَ السَجْدَتَيْنِ رَبّ اغْفِرْ لِي وارْحَمْنِي واجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِني‏ (أبو داود و الترمذي و الحاكم بإسناد جيد)
Sesuai dengan yang diajarkan Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulallah saw berdo’a antara dua sujud: “Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini”
“Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, tunjukkanlah aku (ke jalan yang benar), selamatkan aku (sehat afiyah)” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim, dengan sanad jayyid)
17. Duduk istirahat yaitu duduk sebentar setelah bangun dari sujud yang kedua dalam raka’at pertama dan raka’at ketiga.
عَنْ مَالِكٍ بْنِ الحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا كَانَ فِي الرَكْعَةِ الْأُولَى وَالثَّالِثَةُ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا (رواه البخاري)
Dari Malik bin al-Huwairist ra ia berkata: “Sesungguhnya Rasulallah saw (setelah bangun dari sujud) pada raka’at pertama dan ketiga, beliau tidak langsung berdiri kecuali duduk sempurna (sembentar)” (HR Bukhari)
18. Membaca shalawat kepada Nabi saw dengan bacaan yang sempurna (shalawat Ibrahimiyyah) pada tasyahhud akhir:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ وبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ
Artinya: Ya Allah, berilah shalawat atas Sayyidina Muhammad dan atas keluarganya. Sebagaimana Engkau telah beri shalawat atas Sayyidina Ibrahim dan atas keluarga sayyidina Ibrahim. Berkatilah atas sayyidina Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau berkahi atas sayyidina Ibrahim dan atas keluarga sayyidina Ibrahim di dalam alam ini. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung
عَنْ كَعْب بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا : قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ ؟ قَالَ قُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  (رواه مسلم)
Dari Ka’ab bin ‘Urjah ra, ia berkata: “Telah keluar Rasulullah saw kepada kami dan kami berkata: Wahai Rasulullah saw kami telah tahu bagaimana memberi salam kepada kamu, maka bagaimana cara berselawat? Sabda Rasulullah saw “Katakanlah
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ
Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad. Sebagaimana Engkau telah beri shalawat Ibrahim Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Berkatilah atas Muhammad sebagaimana Engkau berkahi atas Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung (HR Muslim)
عن أَبُي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ ، أَنَّهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ ؟ قَالَ : قُولُوا ” اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ” (رواه الشيخان)
Dari Abi Humaid as-Sa’idi ra sesungguhnya mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami berselawat kepada kamu? Beliau menjawab: “Katakanlah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad, isteri-isterinya, dan zuriatnya sebagaimana Engkau memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkatilah Muhammad, isteri-isterinya, dan zuriatnya sebagaimana Engkau memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung (HR Bukhari Muslim)
19. Membaca do’a setelah tasyahud akhir sebelum salam
عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ بَيْنَ التَشَهُّدِ وَ التَسْلِيْمِ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لا إلَهَ إلَّا أَنْتَ (رواه مسلم)
Dari Ali bin Abi Thalib ra ia berkata: “Sesungguhnya Rasulallah saw membaca doa antara tasyahhud dan salam:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ  وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ  وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ  أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ  لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ
Ya Allah! Ampunilah aku akan (dosaku) yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan yang kutampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. (HR Muslim)
عن أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الأَخِيرِ , فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ , عَذَابِ جَهَنَّمَ , وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه الشيخان)
Dari Abu Hurairah ra ia berkata: :Sesungguhnya Rasulallah saw bersabda: Jika seseorang selesai dari membaca tasyahud akhir maka mintalah perlindungan dari 4 perlindungan dari: siksa neraka Jahanam, siksaan kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal (HR Bukhari Muslim)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
Artinya: “Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal”
عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلاتِي . قَالَ : قُلْ : اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيرَاً ، وَلا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي , إنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  (رواه الشيخان)
Dari Abu Bakar as-Shiddiq ra, ia berkata kepada Rasulallah saw: “Ajarkanlah do’a yang aku baca dalam shalatku. Rasulallah saw bersabda, ucapkanlah:
اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا  وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ  فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ  وَارْحَمْنِي  إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ
Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR Bukhari Muslim).
20- Memberi salam dengan memalingkan kepalanya ke kiri dan kanan
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ (حسن صحيح أبو داود والترمذي)
Dari Abdullah ra, ia berkata: sesungguhnya Rasulallah saw memberi salam ke kiri dan ke kanan sehingga terlihat pipi beliau yang putih ”Assalamu ’alaikum warahmatullh, assalamu ’alikum wa rahmatallah” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, hadist hasan shahih)
21. Membaca takbir (Allahu Akbar) pada setiap perpindahan antara rukun
عن أَبَي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ثُمَّ يَقُولُ : ” سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ” حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ : ” رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ” ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا (رواه الشيخان)
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: sesungguhnya Rasulallah saw di waktu shalat ia bertakbir (Allahu Akbar) ketika berdiri begitu pula ia bertakbir ketika ruku’, dan membaca “Sami’allahu liman hamidah” ketika mengangkat pinggangnya dari ruku’, dan membaca “Rabbana wa lakal hadu” kemudian bertakbir “Allahu Akbar” ketika sujud begitu pula ketika mengangkat kepalanya dari sujud. Kedudian bertakbir ketika sujud dan bertakbir ketika mengangkat kepalanya dari sujud. Demikianlah beliau lakukan dalam shalat seluruhnya sehingga selesai” (HR Bukhari Muslim)
22. Melakukan setiap shalat dengan semangat dan mengosongkan hati dari segala kesibukan, begitu pula melakukannya dengan punuh khusyu’ yaitu tidak menghadirkan didalam hati kecuali sesuatu yang ada didalam shalat, dengan sakinah, thuma’ninah, dan tadbbur yaitu menghayati semua bacaan shalat baik bacaan al-Qur’an atau bacaan dzikir dan do’a karena hal itu dapat menyempurnakan kekhusyuan dalam shalat.
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾- المؤمنون 
Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,” (Qs Al-Mu’minun ayat: 1-2)
عَنْ عُقْبَةَ بِنْ عَامِر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ: : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُومُ فَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ يُقْبِلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ (رواه مسلم)
Dari Uqbah bin Amir ra, Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudian berdiri melakukan shalat dua raka’at dengan ketundukan hati dan wajahnya kecuali wajib baginya surga.” (HR. Muslim)
23. Mengarahkan pandangan ke tempat sujud sepanjang shalat karena hal itu dapat mendekatkan diri kepada kekhusyuan dalam shalat.

Ketika Kamu Merasa Frustasi...

Hasil gambar untuk ketika sedang frustasi
Krisis emosional yang dialami seseorang ketika berada di pertengahan usia 20an, umumnya diderita oleh mereka yang berusia 25-34 tahun disebut juga Quarter Life Crisis. Beberapa tanda kamu mengalami Quarter Life Crisis antara lain kecemasan, frustasi, ketidakpuasan dengan arah hidupmu, merasa tak memiliki tujuan, meragukan dan bingung dengan diri sendiri. Ini normal kok! Tapi...

Kalau dibiarkan saja, perasaan-perasaan itu bisa berubah dari sekadar kegelisahan, menjadi depresi atau lebih buruk...menyebabkan bunuh diri. Kalau kamu sekarang mulai merasa frustasi dan ragu pada dirimu sendiri, bisa jadi kamu mulai masuk fase ini. Ada 7 langkah sederhana yang bisa kamu ambil untuk mengatasi Quarter Life Crisis yang sedang kamu alami kok!

1. Kenali dirimu sendiri dan temukan 3 nilai yang ingin kamu pegang dalam hidupmu.
Nilai-nilai ini akan menjadi esensi dirimu. Misalnya nilai kreativitas, pertumbuhan, kejujuran, ketekunan, dan lain-lain. Memang semuanya baik, namun kalau kamu bisa menemukan tiga prioritasmu, kamu akan lebih bisa fokus dalam melakukan semua aktivitasmu.

2. Bersihkan pikiranmu.
Tak hanya tubuh yang perlu detoks, pikiran juga. Saat ini, setiap hari otak kita overload dengan informasi dan komunikasi, jauh lebih banyak dari yang bisa diprosesnya. Akibatnya, otakmu akan terganggu. Saringlah semuanya menjadi apa yang penting dan yang cocok untuk kita. Bersihkanlah pikiranmu dengan ketenangan dan beri makanlah otakmu dengan hal-hal yang positif.

3. Milikilah sikap bertanggung jawab penuh.
Sikapmu itu adalah sepenuhnya pilihanmu. Sikap bertanggung jawab secara penuh, 100 persen, berarti kamu masih akan menerima apapun tanggung jawab yang muncul sekalipun sesuatu itu bukan salahmu. Lain kali, apabila kamu frustasi atau merasa marah akan sesuatu hal, coba tanyai dirimu sendiri "Apa sih kontribusiku terhadap situasi ini? Apa yang harus aku ubah jika situasi seperti ini terjadi lagi di masa mendatang?"

4. Berlatihlah untuk merespon, bukan bereaksi.
Kerap kali kita menjawab seseorang sebagai bentuk reaksi kita terhadap apa yang baru saja selesai dikatakan atau baru terjadi. Memberi respon berarti kita memberi jeda dari apa yang baru saja terjadi atau dikatakan. Jeda ini adalah untuk kita memutuskan apa yang akan kita lakukan atau kita katakan. Biasakan memberi respon yang sejalan dengan nilaimu dan sikap bertanggung jawabmu.

5. Pilih satu tujuan, dan nikmatilah perjalananmu ke sana.
Tentukan tujuan hidupmu dan belajarlah menikmati proses yang harus kamu lewati untuk mencapai tujuan itu. Titik ini bisa kamu capai setelah kamu menetapkan valuemu dengan jelas. Hargailah proses dan perjalanan yang harus kamu lewati ini karena ini akan menjadi bagian penting dalam hidupmu dan berkontribusi dalam mencapai tujuanmu. Take pride!

6. Miliki keseimbangan.
Keseimbangan di sini lebih ke arah bagaimana kamu menyeimbangkan kesehatan fisikmu, kesehatan pikiranmu, dan kesehatan spiritualmu. Menyeimbangkan ketiganya juga bukan berarti menghabiskan jumlah waktu yang sama untuk ketiganya, melainkan pada bagaimana kamu menyadari ketiga aspek tersebut butuh dipelihara.

7. Miliki rencana.
Jika kamu merencanakan sesuatu yang penting, kamu pasti akan menulisnya. Entah itu rencana untuk memulai bisnis, pernikahan, proyek, dan lain-lain. Kamu bisa memulainya dengan rencanamu untuk lima tahun ke depan. Dari sana, tuliskan hal-hal yang perlu kamu lakukan, serta to do list yang spesifik.
Quarter life crisis itu bukan hal yang tak bisa dihindari atau tak bisa diatasi kok!

https://www.idntimes.com/life/inspiration/novi/saat-kamu-frustasi-dan-meragukan-diri-sendiri-7-langkah-ini-bisa-jadi-penuntunmu/full 



 





Thursday, August 30, 2018

Manusia Yang Dicintai Allah SWT

Hasil gambar untuk Manusia Yang Dicintai Allah SWT
Setiap hamba Allah Subhanallahu wa Ta’alla menginginkan dirinya dicintai oleh Sang Pencipta. Hamba mana yang tidak berharap akan rahmat dan ampunan-Nya. Setiap hamba yang dicintai Allah Subhanallahu wa Ta’alla maka sudah pasti dengan mudah meraih ridha-Nya, diberikan ampunan-Nya, dikabul do’a-Nya, lebih lagi mendapat surga-Nya di akhirat kelak.
Untuk meraih harapan dicintai Allah tersebut, setiap umat Islam melakukan berbagai macam cara yang diperintahkan-Nya, dan tak lupa menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari setiap larangan-Nya.
Setelah berusaha dan tetap istiqomah untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mari kita cari tahu apakah kita termasuk kedalam ciri-ciri atau golongan orang yang dicintai oleh Allah.
Berikut ini ciri-ciri dan golongan orang yang dicintai Allah.
Dicintai Penduduk Langit dan Bumi
Sabda Rasulullah: “Bila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia, maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah ia, maka merekapun mencintainya, lalu ditentukan baginya sikap menerima (dan cinta dari penduduk) dibumi”. (HR Bukhari).
Selalu Dijauhkan dari Fitnah Dunia
Qatadah bin Nu’man berkata: “Bila Allah mencintai seseorang maka Dia menghalanginya dari (fitnah) dunia”. (HR Al-Hakim).
Baca Juga : Memahami Makna Toleransi dalam Islam yang Bukan Integrasi
Senang Bertaubat
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah: 222)
Senantiasa Sabar dalam Ujian dan Cobaan
“Bila Allah mencintai suatu kaum maka Dia memberikan mereka ujian (dengan berbagai musibah)”. (HR Ahmad).
“Orang-orang yang sabar ALLAH menyukai orang-orang yang sabar.”
(Ali ‘Imran [3]: 146)
Senantiasa Menjaga Kesucian Diri
… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Adil sebagai Pemimpin
… sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maa’idah [5]: 42)
Istiqomah dalam Takwa
… maka sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran [3]: 76)
Senantiasa Berbuat Baik
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 134)
Senantiasa Berserah Diri pada Allah
“Orang-orang yang bertawakal kepada Allah Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-NYA. (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Senantiasa mengikuti Rasul
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai ALLAH, ikutilah aku, niscaya ALLAH mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran[3]:31)
Jihad fi Sabilillah
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-NYA dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
(QS. Ash-Shaff [61]: 4)
Menjaga Lisan dan Rajin Ibadah
Imam al-Baqir as berkata, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang (apabila) bersenda gurau tidak mengeluarkan kata-kata yang keji, yang berpikir mandiri, selalu bersabar (apabila) sendirian, dan suka melakukan shalat malam”
Senantiasa Muhasabah Diri dan Bersyukur
Imam Ali Zainal ‘Abidin as berkata, ”Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang selalu merasa sedih, dan setiap hamba yang selalu bersyukur”
Memelihara Sifat Malu dan Berakhlak Mulia
Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang memiliki sifat malu, orang yang senantiasa santun, orang yang selalu menjaga kesucian dirinya (‘afif) , dan orang yang enggan berbuat keji (muta’afiffah)”
Gemar Bersedekah
Rasulullah saw bersabda, ”Tiga macam orang yang Allah ‘Azza wa Jalla mencintai mereka yakni mereka yang senantiasa bangun di malam hari (untuk mengerjakan shalat malam) lalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), mereka yang senang bersedekah dengan tangan kanannya sambil menyembunyikannya dari tangan kirinya, dan mereka yang mengalahkan dan mengusir musuhnya dalam perang sementara kawan-kawannya menyerahkan diri kepada musuh”
Senantiasa Menjaga Tali Silaturahmi
Di dalam hadits Mi’raj diriwayatkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, ”Wahai Muhammad! Wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling mencintai di jalan-KU, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling berkasih sayang di jalan-KU, dan wajib bagi-Ku mencintai orang-orang yang suka bersilatur-rahim di jalan-Ku, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada-KU…”
Mencintai Perintah Allah
Allah Tabaraka Ta’ala berfirman, ”Tiada yang lebih Aku cintai dari seorang hamba-KU daripada kecintaan sang hamba kepada apa yang telah Aku wajibkan baginya”
Mampu Menahan Amarah
Rasulullah saw bersabda, ”Wajiblah kecintaan ALLAH atas orang yang marah tetapi ia mampu meredam kemarahannya dengan santun”
Senantiasa Mengingat Kematian
Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya Allah mencintainya”
Mencintai Perintah Allah, dan Membeci Segala Hal yang Haram
Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, ”Aku ingin sekali menjadi orang yang dicintai Allah dan Rasul-NYA”.
Rasulullah saw pun berkata, ”Cintailah apa yang dicintai Allah dan Rasul-NYA, dan bencilah apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-NYA”
Mudah-mudahan kita termasuk di dalam golongan yang dicintai Allah SWT.

Sunday, August 19, 2018

Gempa Lombok, Antara Musibah dan Peringatan Allah SWT

Hasil gambar untuk gempa lombok
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, belum usai Gempa NTB di Bulan Juli yang lalu, Gempa susulan dengan skala 7,0 SR kembali menimpa bumi NTB, tepatnya kawasan Lombok dan sekitarnya, hingga terasa di Pulau Bali.
Kita harus kembali terhenyak saat mengetahui jumlah korban hingga rabu delapan Agustus, sudah 347 jiwa melayang sia-sia dan 1.477 jiwa luka berat. Sementara tercatat yang hidup di pengungsian 156.003 jiwa serta 42.239 unit rumah rusak dan 458 bangunan sekolah rusak (cnnindonesia.com)
"Diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh," kata Sutopo melalui pesan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu,11/08/2018 (Antaranews Sumbar) -Selain korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh, Sutopo mengatakan kemungkinan juga masih ada korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan.
Selain itu 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak
Semua itu  baru kerugian fisik ekonomis, belum memperhitungkan kerugian atau dampak psikologis dan mental yang tak dapat diangkakan, seperti hilangnya rasa aman, makin meningkatnya rasa cemas atau tertekan dan tekanan kesulitan hidup sebgai dampak lanjutan musibah yang terjadi. Musibah yang bertubi-tubi dan menimbulkan kerugian begitu besar ini harus kita renungkan dan maknai untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di dunia dan terutama di akhirat.
Musibah yang melanda itu baik itu berupa gempa, banjir, tsunami, gunung meletus dan berbagai musibah lainnya, harus kita imani sebagai ketetapan (Qadha’) Allah SWT, Allah berfirman “Katakanlah:’ Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk Kami. Dia lah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertaqwa (TQS. At-Taubah:51).
Sebagai ketetapan (Qadha’) maka musibah itu harus dilakoni dengan lapang dada, perasaan ridha, disertai kesabaran dan tawakal kepada Allah (Qs. Al-Baqarah: 155-157).
Dengan sikap itu, musibah yang datang akan menjadi kebaikan diantaranya akan mendapat apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW” Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah tinggikan dia satu derajat atau Allah hapuskan darinya satu kesalahan “ ( HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad).
Hanya saja, kesabaran yang harus dibangun bukan hanya kesabaran posif dan kepasrahan melainkan kesabaran positif dan aktif. Yaitu kesabaran yang disertai perenungan untuk menarik pelajaran guna membangun sikap, tindakan dan aksi ke depan demi membangun kehidupan yang lebih baik di dunia dan akherat.
Ketika suatu musibah melanda, kita sebagai makhluk yang memilik akal tentu akan berusaha mencari penyebab terjadinya musibah tersebut atau hukum kausalitas. Misal musibah banjir kita mengetahui bahwa bencana banjir terlepas dari ketetapan Allah tapi juga ada penyebabnya yang disebabkan perbuatan manusia seperti membuka lahan serampangan, kesalahan dalam tata ruang, penggundulan hutan tanpa pertanggung jawaban, kebiasaan membuang sampah ke sungai, pembukaan perumahan tak ramah alam dan lain sebagainya. Semua itu bisa terjadi karena dibiarkan atau lebih buruk karena dibingkai oleh kebijakan.
Dalam peristiwa gempa yang menyesakan dada kita ini, kita lihat saat ini mereka sibuk mencari dan meneliti faktor ilmiah atau kauni kenapa terjadi bencana, dan banyak manusia ketika terjadi bencana hanya terfokus untuk meniliti factor penyebab bencana dari sisi ilmu pengetahuan, namun mereka lupa faktor penyebab bencana dari sisi syar’i, sehingga dengan bencana itu mereka tidak semakin taqarrub namun malah semakin jauh dari Syariat Allah Ta’ala.
Padahal lebih dari itu, melalui bencana Allah ingin menunjukan kekuasaan-Nya kepada manusia. Dengannya Allah juga mengingatkan bahwa manusia itu lemah, akalnya terbatas dan membutuhkan bantuan Allah. Sehingga tidak sepatutnya sombong di hadapan kekuasaan Allah atau menyangka telah sanggup menguasai dan mengatur dunia seraya meninggalkan petunjuk dari Allah yang MahaBijaksana.
Allah memutuskan perkara-perkara yang berlaku pada makhluknya, hukum-hukum-Nya berlaku pada hamba-hambaNya terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan karunianya, dan terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya, dan Tuhanmu tidak akan berbuat dzalim kepada siapapun. “Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. 43:76)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat.
Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa, kebijakan yang selalu mendzholimi rakyat, kriminalisasi islam dan ulama, menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dan yang paling parah adalah tidak mau berhukum dengan hukum Allah.
Jadi, musibah yang Allah timpakan ini pada dasarnya untuk memberi peringatan dan mengembalikan kesadaran pada diri manusia terhadap KemahaKuasaan Alla, pencipta alam semesta. Mengingatkan dan mengembalikan kesadaran betapa  lemahnya manusia dan betapa terbatasnya pengetahuan manusia.
Mengembalikan kesadaran sebagai makhluk ciptaan dan sebagai hamba dari Al-Khaliq yang tidak layak bermaksiat kepada-Nya dan menyimpang atau menyalahi peringatan yakni wahyu-Nya serta mendustakan-Nya.
Kesadaran spritual yang dikembalikan oleh musibah itu haruslah mmbangkitkan energi penghambaan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Energi untuk makin meningkatkan ibadah kepada Allah SWT dalam arti yang luas.
Selain itu, kesadaran spiritual itu haruslah juga membangkitkan enegi untuk melakukan perbaikan, meluruskan penyimpangan, melakukan ketaatan dan kembali menempuh jalan dan menerapkan sistem yang benar, jalan dan sistem yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Kesadaran nalar ini harus muncul, sebab pada dasarnya semua musibah yang terjadi didalamnya selalu ada peran dan keterlibatan manusia.
Alllah SWT berfirman:” “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.”
Hal ini selaras dengan perkataan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”(Al Jawabul Kaafi, 74)
Terus apa yang harus kita lakukan ? Tobat? Betul semua pihak di negeri ini memang harus bertobat. Tobat tentu harus dilakukan dalam bentuk tawbat(an) nashuha secara menyeluruh dan dilakukan bersama-sama oleh umat ini.
Ali bin Abi Thalib ra menjelaskan bahwa tobat harus menghimpun enam hal : 1. Menyesali atas dosa yang telah dilalui, 2. Kembali melaksanakan kewajiban, 3. Menolak atau mengembalikan kezaliman (mengembalikan hak kepada yang berhak), 4. Mengurangi persengketaan, 5. Berazzam tidak akan mengulangi kemaksiatan itu, 6. Mengiatkan diri dalam ketaatan.
Enam hal tersebut harus kita lakukan, kita harus menyesali dosa yang telah kita lakukan. Dosa telah bermaksiat, melalaikan shalat, terlibat riba, membiarkan zina dimana-mana, menyekutukan Allah dan yang paling parah yaitu pangkal dari segala maksiat adalah tidak menerapkan hukum Allah.
Tugas kita selanjutnya adalah menjalankan kewajiban yaitu menerapkan hukum Allah dalam kehidupan bernegara secara menyeluruh dengan begitu kita menolak atau mengembalikan kezaliman, mengurangi persengketaan dan ketika hukum islam diterapkan secara menyeluruh kita akan dipermudah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Karena ketika hukum islam diterapkan secara menyeluruh itu adalah bentuk ketaatan totalitas dari seorang hamba kepada sang Khalik yang telah menciptakan dan sang Maha Pengatur.
Inilah tugas kita semua saat ini agar bencana tidak terus menimpa negeri kita karena kemaksiatan yang kita lakukan ”Telah nampak kerusakan di darat dan di bumi karena olah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS. Ar-Ruum :41)
Saatnya kita kembali ke pangkuan Allah, dengan penyerahan diri secara total. Totalitas dalam melaksanakan seluruh perintah Allah dan larangan-Nya dengan menerapkan seluruh hukum Allah dalam kehidupan.
Karena Allah telah berjanji kepada kita “....Dan dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa....”(TQS. An-Nur:1).

Friday, August 3, 2018

Diet Pisang ala Admin

Hasil gambar untuk pisang ambon
Program diet yang akan saya bahas adalah pengalaman pribadi saya sendiri. Memiliki tubuh langsing dan sehat memang keinginan banyak orang, teritama kaum hawa. Namun, untuk mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan, tentu perlu usaha yang terbilang sulit. Mulai dari olahraga rutin hingga pola makan yang baik atau melakukan diet ketat.

Tapi jika terbiasa dengan minuman berkarbonasi, makanan ringan atau permen, maka akan menjadi tantangan sulit jika bertekad mendapatkan tubuh ideal.

Itu baru gula. Belum disuruh untuk menjaga kebiasaan olahraga seminggu sekali dan untuk makan makanan bergizi.

Di sini saya ingin berbagi tentang pengalaman diet yang pernah saya lakukan. tentu semuanya diawali dengan tekad kuat. Tanpa niat kuat, niscaya bakal gagal program diet.

Maaf, berkaca dari monyet yang hobi makan pisang tapi tetap lincah dan punya energi melimpah... saya mencoba mengikuti kebiasaannya. Tapi tentu harus melihat dulu kandungan dalam pisang agar tidak salah dalam mempraktekannya.


Dukhon

Saat ini di dunia dan juga tentu saja termasuk indonesia, sedang perjadi pandemi yang berasal dari corona. Nama legkapnya virus corona. Ata...