Monday, February 5, 2018

Jadikan Akhirat Sebagai Tujuan Hidupmu

Image result for Akherat
Mari kita merenungkan firman Allah swt yang berbunyi,
انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
“Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaan.” (QS.Al-Isra’:21)
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sungguh, yang kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu dari yang permulaan (dunia).” (QS.Adh-Dhuhaa:4)
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS.Al-A’la:17)
Ayat ini tidak hanya ingin menjelaskan bahwa akhirat lebih baik dan lebih mulia. Namun sebenarnya ayat ini adalah salah satu ayat yang harus menjadi pegangan hidup kita.
Ketika dihadapkan pada urusan dunia, kita harus pandai berhitung apakah urusan ini juga memberi keuntungan di akhirat?
Ketika kita berbisnis dan membayangkan keuntungan yang akan diraih, kita juga harus memikirkan berapa besar keuntungan bisnis ini untuk akhirat kita.
Ketika kita dihadapkan pada apapun di dunia ini. Mulai dari pekerjaan, jabatan, memilih pasangan ataupun selainnya, selama hal itu juga menguntungkan akhirat kita maka ambillah. Namun bila merugikan dan merusak akhirat kita, maka hentikan langkah kita dan tinggalkan jauh-jauh.
Mengapa kita harus menjadikan akhirat sebagai penentu langkah kita di dunia?
Setiap manusia ingin meraih keuntungan sebesar-besarnya dalam hidupnya. Tidak ada seorang pun yang ingin merugi. Karena itu Al-Qur’an ingin kita berhitung dan berpikir dengan logika. Jika akhirat itu lebih baik dan lebih mahal harganya, mengapa kita rela merusaknya hanya demi keuntungan duniawi yang sementara?
Karen itu jadikan prinsip hidup kita adalah “akhirat lebih mulia dan lebih utama”. Karena masa depan kita di akhirat akan hancur disaat kita lebih mementingkan dunia.

https://khazanahalquran.com/jadikan-akhirat-sebagai-penentu-langkahmu-di-dunia.html

Virus Paling Berbahaya

Related image
Ini adalah pengalaman pribadi admin. Dan mungkin juga sering dirasaakan orang lain juga. Mempertahankan suatu hubungan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak virus yang berusaha memisahkan dan memecah hubungan diantara manusia. Setan pun merasa terusik bila ada hubungan baik dan persatuan diantara manusia. Mereka juga punya banyak cara untuk membubarkan hubungan tersebut.
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
“Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS.Al-Isra’:53)
Hubungan anak dan orang tua, keluarga, sahabat ataupun suami dan istri selalu di uji ketahanannya dengan virus-virus syaitoni. Dan salah satu virus yang sangat berbahaya dan telah menghancurkan banyak hubungan adalah virus “Buruk Sangka”.
Allah swt berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS.Al-Hujurat:12)
Memang tidak semua prasangka itu buruk. Terkadang prasangka itu dibutuhkan demi kehati-hatian, misalnya berprasangka buruk kepada musuh.
Namun kita lebih sering berburuk sangka kepada orang-orang dekat kita, sehingga yang semula hubungan baik-baik saja menjadi hancur berantakan.
Sebelum pembahasan ini semakin dalam kita akan bahas terlebih dahulu apa saja bentuk suudzon (buruk sangka) itu?
Suudzon terbagi menjadi dua :
Pertama, Suudzon kepada Allah.
Seperti dalam firman-Nya,
وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ
“Segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah.” (QS.Ali ‘Imran:154)
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ
“Dan Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS.Al-Fath:6)
Bentuk prasangka buruk kepada Allah adalah dengan tidak percaya dengan janji-janji-Nya. Resah dengan rezeki yang telah dijamin oleh Allah. Dan mempertanyakan keadilan-Nya.
Kedua, suudzon kepada manusia.
Inilah virus yang telah merusak bermacam hubungan manusia sejak zaman dulu hingga sekarang.
Buruk sangka menyebabkan hububgan suami istri yang harmonis menjadi berantakan. Hubungan bisnis menjadi kacau dan hubungan pertemanan menjadi hancur.
Uniknya, buruk sangka tidak mengantarkan kita untuk menyelesaikan masalah tapi malah membuatnya semakin besar. Jika firasat buruk yang kita rasakan dari istri kita, ajaklah bicara dan selesaikan masalah. Jika ada kabar burung tentang teman kita, tanyakan langsung dan masalah akan selesai. Sebenarnya semua prasangka akan selesai jika kita mengklarifikasi langsung dengan yang bersangkutan.
Namun prasangka buruk mengajak kita untuk memperbesar masalah. Bermula dari prasangka buruk, lalu mulai mencari-cari kesalahan, kemudian membicarakan orang tersebut dibelakang.
Lanjutan dari ayat Al-Hujurat diatas menjelaskan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS.Al-Hujurat:12)
Jadi prosesnya adalah prasangka buruk >> mencari kesalahan >> menggunjing. Hingga akhirnya prasangka itu akan menyebar dan menjadi fitnah. Andai prasangka itu langsung diklarifikasi kepada yang bersangkutan, maka masalah ini akan selesai dan tidak menjadi besar.
Lalu bagaimana cara melawan virus buruk sangka ini?
Satu-satunya cara adalah dengan berbaik sangka !
Biasanya, disaat hidup kita makmur banyak teman yang datang. Namun bila kita susah, tiada seorang pun yang muncul. Disinilah mulai ada prasangka buruk. Bila prasangka buruk itu muncul, segera kita potong dengan prasangka baik. “Mungkin teman-teman saya tidak ingin merepotkan saya diwaktu susah, karena itu mereka tidak datang.”
Ini hanyalah satu contoh. Maka setiap kita ingin berprasangka buruk, segera tutup prasangka itu dengan husnudzon (prasangka baik). Perbanyak kata “mungkin” dalam prasangka kita.
Misalnya bila ada teman yang tidak menyapa kita ketika bertemu dijalan. “Mungkin dia tidak melihat…”
“Mungkin dia tidak mendengar…”
“Mungkin dia sedang terburu-buru…”

Perbanyaklah kata mungkin sehingga tidak ada celah untuk berburuk sangka.

Wednesday, January 31, 2018

Jangan Dikendalikan Harta

Image result for harta
HARTA memang harus dikejar, agar sebagai muslim bisa jadi pribadi yang kuat secara ekonomi. Sehingga hidup dan beribadah nyaman. Bisa sodaqoh, zakat, pergi haji dan ibadah lainnya. Harus juga di kejar sekuat tenaga supaya rejeki yang telah Allah swt sediakan segera sampai.
Demi rupiah, diri ini sering berpeluh-peluh, terseok, dari pagi hingga malam dari remaja hingga tua. Banyak waktu yang dikorbankan, banyak kesempatan yang terlewat untuk mengejar harta. Kadang kesempatan mendekat kepadaNya, kesempatan melakukan ibadah-ibadah sunah, kesempatan salat tepat pada waktunya juga ikut terlewat. Belum lagi kesempatan berkumpul dengan keluarga.
Anehnya, itu yang namanya ‘harta’ seringkali sulit membuat senang pemiliknya. Meski ia telah begitu banyaknya di genggaman, harta itu terus saja memanggil manggil kita.
“Ayo …, sini …, masih banyak rupiah di sini, masih ada kesempatan dapat uang lagi.”
Suara-suara itu, juga bayangan rupiah terus saja terngiang di kepala. Padahal badan sudah letih, ingin istirahat, ingin salat tepat waktu, ingin berkumpul dengan keluarga.
Dan yang lucu demi harta, diri ini rela berhutang rela pusing, rela stress. Bahkan demi harta sesorang berani menyusahkan orang lain. Sengaja menunda pembayaran, mengambil hak seorang lainnya, dan yang ekstim demi harta berani membunuh jiwa. Akhirnya, demi harta mendapat dosa, dipenjara, diusir dan dikucilkan. Karena harta disiksa, sebab harta tersiksa. Lalu akhirnya berbuah neraka. Naudzubillah.
Padahal seharusnya harta itu membawa diri bahagia, menjadikan dermawan, membuat bersaudara, membawa pahala yang pada ujungnya membawa diri ini ke surga.
Untuk itu, tiap diri jangan sampai terbalik dalam menyikapi harta. Harta itu harus dan mutlak diri ini yang menguasainya, bukan bukan tersiksa karena terikat dan dikuasai. Terus menghitung-hitung karena takut kehilangan, terus mengejar hingga kehilangan masa-masa kebersamaan dengan keluarga. Kehilangan kesempatan beribadah, padahal toh harta itu sudah banyak menumpuk.
Terus merasa kurang, padahal usia tak lagi muda. Masih berani membeli tanah properti dengan berhutang padahal usia sudah kepala lima dan persediaan harta yang lainnya juga sudah banyak. Naudzubillah, terbayang rasa tersiksanya diri ini jika terus dihantui rasa kurang dan ingin yang terus menerus. Sudah punya tas bagus, masih ingin yang ber merek, sudah punya 10 gram perhiasan emas masih ingin berlian, sudah punya mobil bagus masih ingin mobil mewah, sudah punya rumah nyaman masih ingin apartemen. Bahkan mungkin jika sudah jadi orang terkaya di negeri ini, masih ingin jadi yang terkaya di dunia.
Rasa terus tidak cukup dan mau lagi ini mungkin karena kurang bersyukur atas apa yang telah diri miliki, seperti firman Allah swt
Al-Qur’an Surah Ibrāhīm ayat 7 – Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Maka jika memang diri ini sudah sebegitu terikat dan tersiksa dengan harta, sedemikian kurang bersyukur. Ayo mari berusaha berlindung pada Allah swt dan teriakkan LAWAN !!! Lalu sedikit demi sedikit mulai membelanjakan harta di jalan Allah swt, karena dalam Al-Qur’an surah Al-Humazah ayat 1-9 Allah Swt berfirman
1 – Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
2 – yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
3 – dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
4 – sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
5 – Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
6 – (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
7 – yang (membakar) sampai ke hati.
8 – Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
9 – (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
Semoga harta yang Allah Swt titipkan pada diri ini bisa pergunakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan Ridha-Nya.

Friday, January 26, 2018

Apa yang Kita Kejar di Dunia ini?

Image result for cinta dunia 
Allah swt berfirman,
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.Al-Muthaffifin:26)
Hidup adalah perlombaan. Ya, Al-Qur’an pun mendorong manusia untuk terus berlomba. Tapi berlomba dalam hal apa yang dimaksud oleh Al-Qur’an?
Jika kita berlomba menjadi yang terkaya, jatah umur kita hanya sementara.
Jika kita berlomba menjadi yang terpintar, sepintar apapun tidak dapat menyelamatkan kita dari kematian.
Jika kita berlomba menjadi yang terkuat, perlahan-lahan waktu akan melemahkan tubuh kita.
Jika kita berlomba menjadi yang paling mewah, semuanya tak akan bertahan lama.
Lalu apa yang pantas kita kejar? Apa yang pantas dilombakan?
Kekayaan, ilmu, prestasi, kekuatan sebenarnya layak kita kejar. Namun ingat, jadikan semua itu kekal dan akan terus memberi manfaat kepada kita pada kehidupan selanjutnya.
Allah memberikan kekayaan duniawi kepada manusia yang Dia cintai maupun yang tidak Allah cintai. Semuanya mendapat rizki-Nya. Namun Allah hanya memberikan kenikmatan akhirat pada hamba-hamba yang dicintai-Nya.
Kejarlah semua prestasi dunia, namun jadikan semua itu sebagai bekal agar kita layak meraih cinta-Nya.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS.Al-An’am:32)
Semoga bermanfaat…

Hidayah adalah Rasa Takut

Image result for hidayah
Selama ini kita sering mendengar hidayah adalah pemberian oleh Allah SWT. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. 
 إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ
“Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS.Tha-Ha:3)
Dalam ayat ini terdapat dua kata penting yang akan menjadi pembahasan kita kali ini. Yaitu antara kata تَذْكِرَةً (peringatan) dan مَنْ يَخْشَىٰ (orang yang takut kepada Allah).
Dua kata ini mengantarkan kita pada suatu fakta penting yang tidak bisa diinkari lagi, bahwa semua petunjuk dan pengetahuan dari Allah sebenarnya telah tertanam dalam ruh dan naluri manusia yang terdalam. Nah, tugas para nabi adalah meng-aktifkan dan menguatkan kembali naluri yang telah tersimpan ini.
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. (QS.Al-Ghasyiyah:21)
Lalu mengapa pada ayat ini disebutkan bahwa peringatan itu hanya ditujukan untuk orang-orang yang memiliki “rasa takut” kepada Allah?
Bila manusia tidak memiliki rasa tanggung jawab atau dalam kata lain disebut “rasa takut” kepada Allah, maka dia tidak akan bisa menerima hidayah dan peringatan dari para nabi. Tanpa rasa takut itu maka ribuan nasihat dan peringatan dari para nabi tidak akan membangkitkan naluri bertuhan yang ada dalam dirinya.
Seperti yang kita temukan dalam surat Al-Baqarah,
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS.Al-Baqarah:2)
Semoga tulisan ini bisa lebih memberikan apa itu hidayah yang sesungguhnya.

Wednesday, January 24, 2018

8 Pertanyaan dan Satu Jawaban

Image result for berbaik sangka kepada Allah
Mengapa Ibrahim as tidak takut ketika dilemparkan kedalam api?
قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ
Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuknya (membakar Ibrahim); lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” (QS.Ash-Shaffat:97)
Mengapa Ya’qub as tidak berputus asa dalam menanti Yusuf?
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS.Yusuf:18)
Mengapa Yunus as tidak putus harapan ketika masuk ke dalam perut ikan?
فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS.Al-Anbiya’:87)
Mengapa Ayub as mampu bersabar menghadapi penyakitnya?
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ
Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.” (QS.Shad:41)
Mengapa Ibu Musa rela menghanyutkan bayinya ke sungai?
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ
Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil).” (QS.Al-Qashash:7)
Mengapa Musa as tidak gentar ketika dikejar oleh pasukan Fir’aun?
قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ – قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Kita benar-benar akan tersusul.” Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS.Asy-Syu’ara:61-62)
Mengapa Maryam as memilih untuk membawa bayi tanpa ayah itu kehadapan masyarakat?
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا
Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (QS.Maryam:29)
Mengapa Nabi Muhammad saw tidak takut dan bersedih hati ketika didalam gua sementara musuh-musuh Allah sedang mengejar beliau?
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Ketika itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS.At-Taubah:40)
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas hanyalah satu. Yaitu karena mereka berbaik sangka kepada Allah swt. Para nabi dan oran-orang soleh yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka sendirian.
Rasa takut, sedih dan gelisah muncul dari keraguan kita kepada Allah swt. Kita selalu berburuk sangka kepada-Nya. Padahal Allah mencintai hamba-Nya melebihi apapun. Dan karenanya Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Berbaik sangka lah kepada Allah, maka semua kesedihan kita akan berakhir dengan senyuman.

Siapkan Teman di Masa Depanmu

Related image
Setiap dari kita berusaha mati-matian untuk menyiapkan masa depan. Orang tua memeras keringat demi masa depan anak-anaknya. Para remaja banting tulang demi meraih keinginan dan cita-cita.
Begitulah dunia berputar. Namun dalam mempersiapkan masa depan ini, penting kiranya kita mengingat firman Allah swt,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ – حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS.At-Takatsur:1-2)
Manusia berlomba menjadi yang termegah. Mereka menumpuk harta sebanyak-banyaknya hingga suatu hari waktunya telah habis, dan liang kubur menantinya.
Ayat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa ada perbedaan yang amat besar antara harta yang mengantar kita menuju liang kubur dan harta yang tetap kita bawa hingga ke liang kubur.
Tahukah kita dimana perbedaannya?
Banyak waktu kita habis untuk mencari dan menumpuk harta. Siang malam kita berjuang untuk mendapatkannya. Namun sayang, harta itu hanya mengantar kita sampai ke liang lahat saja. Harta yang kita harapkan itu tidak akan bermanfaat di alam selanjutnya.
Namun masih ada harta dengan tipe kedua. Harta yang setia menemani kita di alam kubur bahkan hingga alam-alam selanjutnya. Yaitu harta yang telah berubah menjadi amal kebaikan. Seperti nafkah yang kita berikan untuk keluarga dan juga sedekah yang kita hadiahkan untuk orang yang membutuhkan.
Siapkan segala sesuatu yang kita butuhkan di masa depan mulai sekarang. Karena semua kebaikan yang kita tanam akan bermanfaat bagi masa depan kita nanti.
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ
“Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri.” (QS.Ar-Rum:44)
Sayyidina Ali bin Abi tholib berpesan,
لَابُدَّ لَكَ مِنْ رَفِيْقٍ فِي قَبْرِك، فَاجْعَلْهُ حُسْنَ الوَجْهِ، طَيَّبَ الرِّيْح، وَهُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ
“Engkau harus memiliki teman karib didalam kuburmu. Jadikanlah temanmu itu teman yang indah wajahnya dan harum aromanya, itulah amal soleh.”
Semoga bermanfaat…

Dukhon

Saat ini di dunia dan juga tentu saja termasuk indonesia, sedang perjadi pandemi yang berasal dari corona. Nama legkapnya virus corona. Ata...