Wednesday, June 19, 2019

Golongan Yang Tidak Akan Masuk Surga

Hasil gambar untuk penjilat
Ibnu Abas ra. berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.”

Selanjutnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Nasi Shallallahu Alaihi Wa sallam menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”

Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” “Orang yang suka mengadu domba,” kata Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam.
Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Germo.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam menjawab, “Penabuh gendang besar.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Penabuh gendang kecil.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah al-’utul itu?”
Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Nabi menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”

Lalu, Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam, “Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan engkau tentang ayat ini: yauma yunfakhu fiishshuuri fata’tuuna afwaajaa, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok?” (Qs. An-Naba’: 18).

“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar,” jawab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam. Kedua mata beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Beliau melanjutkan sabdanya.

“Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amaliyahnya di dunia). Di antara mereka ada yang berwujud kera; ada yang berwujud babi; ada yang berjalan berjungkir-balik dengan muka terseret-seret; ada yang buta kedua matanya, ada yang tuli, bisu, lagi tidak tahu apa-apa; ada yang memamah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jama’ah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya; ada yang tangan dan kakinya dalam keadaan terpotong; ada yang disalib di atas batangan besi panas; ada yang aroma tubuhnya lebih busuk daripada bangkai; dan ada yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih.”

 “Mereka yang berwajah kera adalah orang-orang yang ketika di dunia suka mengadu domba di antara manusia. Yang berwujud babi adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti cukai dan uang suap.”

“Yang berjalan jungkir-balik adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan riba. Yang buta adalah orang-orang yang ketika di dunia suka berbuat zhalim dalam memutuskan hukum. Yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang ketika di dunia suka ujub (menyombongkan diri) dengan amalnya.”

“Yang memamah lidahnya adalah ulama dan pemberi fatwa yang ucapannya bertolak-belakang dengan amal perbuatannya. Yang terpotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang ketika di dunia suka menyakiti tetangganya.”

“Yang disalib di batangan besi panas adalah orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan batil dan palsu. Yang tubuhnya berbau busuk melebihi bangkai adalah orang yang suka bersenang-senang de-ngan menuruti semua syahwat dan kemauan me-reka tanpa mau menunaikan hak Allah yang ada pada harta mereka.”
“Adapun orang yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih adalah orang yang suka takabur dan membanggakan diri.” (HR. Qurthubi).

Saudaraku, adakah kita di antara 10 daftar yang dipaparkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  di atas? Bertobatlah, agar kita selamat dan terhindar dari salah satu gologan di atas. Semoga kita tidak termasuk di antara sepuluh golongan yang tidak masuk surga tersebut, amiin.

Saturday, June 8, 2019

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum

Sebagai sebuah tradisi, bahwa sehabis sholat Idul Fitri biasanya kita saling silaturahmi dan saling maaf memaafkan. Seorang anak minta maaf pada ayah ibunya, seorang istri minta maaf pada suaminya, seorang adik minta maaf pada kakaknya, dan begitu juga sebaliknya. Lebaran memang menjadi momen yang indah karena disitulah kita dapat berkumpul dengan keluarga besar.

Saat lebaran ucapan yang paling umum dan sering kita dengan adalah "Taqabbalallahu Minna Wa Minkum". Lalu apa sih itu arti dan maknanya?

Ucapan tersebut merupakan sebuah doa kepada sesama yang memiliki arti "Semoga Allah menerima (puasa dan amal) dai kami dan (puasa dan amal) dari kalian".

Ucapan ini didasarkan pada riwayat dari Jubair bin Nafir, ia mengatakan, "Apabila sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertemu pada hari raya, mereka saling mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum."

Untuk menjawabnya bisa dengan mengucapkan "Aamiin" / semoga Allah mengabulkan. Tapi tentu tidak cukup Aamiin saja, kita juga bisa menjawabnya dengan yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. An Nisaa ayat 86 yang artinya :

"Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal." (Q.S. An Nisaa ayat 86).

Maka kita bisa menjawabnya dengan jawaban yang sama yaitu "Taqabbalallahu Minna Wa Minkum". Jangan lupa sehabis itu kita ucapkan Aamiin (semoga Allah mengabulkan).

Ada beberapa keutamaan dari mengucapkan "Taqabbalallahu Minna Wa Minkum" ini diantaranya adalah :

1. Saling mendoakan antar sesama
2. Menghidupkan sunnah
3. Berpahala
4. InsyaAllah Allah akan mengabulkan doanya

Jadi sudah tahu kan sekarang arti dan makna "Taqabbalallahu Minna Wa Minkum". Jangan lupa diamalkan ya pas lebaran nanti, karena itu doa yang baik dalam bahasa Arab.

Wednesday, June 5, 2019

Menamai Manusia Dengan Nama Allah Menurut Islam

Sebenarnya tidak ada larangan untuk menggunakan nama-nama dari asmaul husna, selama seperti Rahim,  Nur, Malik, Bashir, Latief, Quddus dan semisalnya asalkan tidak dengan alif lam.  Karena dalam bahasa Arab, sebuah kata bila masih nakirah (diantara cirinya tanpa alif lam) maka ia berlaku umum, jadi kata malik, nur dan semisalnya selama masih dalam bentuk nakirah, bersifat kata yang umum dan tidak dimonopoli oleh lafadz asmaul Husna. 

Dahulu ada shahabat yang juga memiliki nama  serupa dengan asmaul Husna  semisal Ali (Ali bin Abi Thalib) dan Hakiim (Hakim bin Hizam).

            Namun bila kata – kata diatas telah beralif lam, yakni dalam bentuk Ma’rifah (telah dikhususkan) barulah kemudian bisa timbul masalah. Sebagian kata memang menurut ulama diharamkan, semisal  kata : ar Rahman dan lainnya .
Berkata imam asy Syaukani : Ar-Rahman adalah diantara sifat-sifat Ghalibah yang tidak (boleh) dipakai untuk selain Allah Azza Wajalla.

Berkata al Imam an Nawawi : “Ketahuilah memberi nama dengan nama ini diharamkan demikian pula memberi nama dengan nama-nama Allah yang khusus bagiNya seperti Ar-Rahman, Al-Quddus, Al-Muhaimin, Khaliqul Khalqi dan semisalnya.”

Bahkan khusus  untuk nama ‘Rahman’ sebagian ulama melarang menggunakannnya meskipun tanpa beralif lam. Karena merupakan asmaul Husna yang sangat khusus, sebagaimana firman Allah :
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.” (QS. Al-Isra’ :110)

Sedangkan dalam sejarah, yang pernah memakai nama Ar-Rahman/Rahman adalah Nabi palsu yang bernama Musailamah. Maka Allah membongkar kedustaannya, menghinakannya dan akhirnya dia dikenal dengan nama Musailamah Al-Kadz-Dzab (Musailamah Si Pendusta). At-Thabarani meriwayatkan;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ:كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، هَزِئَ مِنْهُ الْمُشْرِكُونَ، وَقَالُوا: مُحَمَّدٌ يَذْكُرُ إِلَهَ الْيَمَامَةِ، وَكَانَ مُسَيْلِمَةُ يَتَسَمَّى الرَّحْمَنَ
“Dari Ibnu Abbas beliau berkata; Adalah Rasulullah shalalahu’alaihi wassalam jika membaca Bismillahirrahmanirrihim orang-orang Musyrik mengejeknya. Mereka berkata: Muhammad menyebut tuhannya Yamamah. Adalah Musailamah memberi nama dirinya Ar-Rahman.”
Sedangkan sebagian nama-nama asmaul Husna lainnya boleh digunakan meskipun dengan alif lam yakni jika nama tersebut mengandung nama tersebut mengandung makna yang kulli (umum), mencakup semua yang dicakup, memiliki tingkatan yang berbeda-beda satu sama lain, maka boleh menamai selain Allah dengan nama tersebut (dari segi kandungan makna), seperti Al-Malik (yang berkuasa), Al-Aziz(perkasa) dan lainnya.
Dalam al Qur’an kita temukan lafadz Al-Aziz juga dipakai untuk memanggil Nabi Yusuf sendiri. Allah berfirman;

قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata (kepada Yusuf) : “Wahai Al Aziz, Sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara Kami sebagai gantinya, Sesungguhnya Kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik”. (QS. Yusuf; 78)

Yang terbaik adalah dengan menambahkan penghambaan dari kata-kata yang diambil dari asmaul husna, seperti Abdurrahman, abdurrahim, Abdul Malik, Abdurrazaq, Abdullah dan lainnya.  Berkata ibnu Hazm,  “Para ulama sepakat tentang baiknya nama-nama yang disandarkan kepada Allah ‘azza wajalla seperti ‘Abdurrahman dan yang serupa dengannya.”
           
            Kalau toh nanti dipanggil dengan nama pendeknya tidak masalah, baik suku kata depannya seperti abdul atau du atau akhirnya, seperti malik, Razaq dan lainnya. Yang penting Abdullah jangan dipanggil Allah. 


Sunday, June 2, 2019

Ujub

Banyak orang baik muslim maupun non muslim yang tidak suka kesombongan. Sayangnya beberapa orang kadang merasa bahwa dirinya jauh dari rasa sombong, mereka tidak sadar padahal hal itu juga termasuk kesombongan. Berbangga dan sombong dengan kebaikan termasuk ujub.
Dalam istilah akhlak-sufistik, sejumlah ahli hikmah menyebut ujub sebagai tindakan membesar-besarkan suatu perbuatan baik, perasaan puas dan senang dengannya, tersipu dan terkesima dengan perbuatan baik dirinya, dan merasa dirinya terbebas dari seluruh kekurangan dalam perbuatan baik itu.
Namun sebaliknya, seseorang yang merasakan kenikmatan dan kesenangan ketika melakukan perbuatan baik yang disertai dengan rasa rendah hati dan syukur kepada Allah atas taufik-Nya dalam keberhasilannya berbuat kebaikan, serta memohon kepada-Nya untuk menambah taufik baginya di waktu mendatang, bukan termasuk ujub, melainkan sifat yang terpuji.
Syekh Bahauddin Al Alami, misalnya, berkata, “Tak ada keraguan bahwa ketika seseorang melakukan perbuatan baik, seperti berpuasa dan shalat malam, dia akan merasakan semacam kenikmatan dan kesenangan. Kenikmatan dan kesenangan itu bukan ujub – jika dia timbul dari persasaan bahwa Allah SWT telah melimpahkan pemberian dan nikmat kepadanya berupa (dorongan untuk) melakukan perbuatan baik, sementara dia merasa khawatir akan kekurangan dalam perbuatannya, cemas akan hilangnya nikmat itu dan memohon kepada Allah untuk terus memberinya tambahan nikmat.”
Dalam pandangan lain, contoh yang telah disebut di atas – shalat dan puasa – diperjelas lagi bahwa yang bersentuhan dengan sifat ujub ialah perbuatan baik atau buruk, baik dari aspek lahiriah maupun batin. Sebab, selain memengaruhi perbuatan lahiriah, ujub juga memengaruhi perbuatan batiniah (mental dan spritual) seseorang. Seperti halnya orang baik yang dapat berujub dengan amal baiknya, orang buruk juga dapat mengagumi perbuatan buruknya.
Karena itu, dalam ilmu akhlak, ujub memiliki beberapa derajat. Derajat pertama, ujub dengan keimanan terhadap ajaran-ajaran yang benar; lawannya ujub dengan kekufuran, kemusyrikan. Derajat kedua, ujub dengan sifat-sifat baik yang lawannya ujub dengan sifat-sifat buruk. Derajat ketiga, ujub dengan perbuatan-perbuatan baik yang lawannya kagum atas perbutan-perbuatannya yang jahat.
Seorang Ahli hikmah Sayyid Al Ridha berkata, di antara tingkatan ujub ialah ketika sifat buruk seorang tampak baik baginya. Dia menganggapnya sebagai amal baik dan memuji dirinya, membayangkan bahwa dia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Tingkatan ujub lainnya tampak pada manusia yang beriman kepada Allah dan dia berpikir telah menguntungkan Allah, sehingga dia mengungkit-ungkit kebaikan di hadapan Allah padahal Allah-lah yang berbuat baik kepadanya (dengan memberinya keimanan itu).”
Menyinggung penyakit hati ini, Rasulullah juga telah mengingatkan umatnya dengan bersabda, “Ada tiga hal yang membinasakan seseorang; kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath Thabarani). 

Sunday, May 26, 2019

Kehancuran Bangsa Yahudi Berdasar Al Quran

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan Allah… Berbesar hatilah, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا  فَإِذَا جَاء وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُواْ خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً  ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا  إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيرًا  عَسَى رَبُّكُمْ أَن يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدتُّمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًاq

“Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan kami jadikan Neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” ( QS al-Israa’ 17:4-8)

Pertama : Ayat ini menegaskan terjadinya dua kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil. Sekiranya dua kerusakan yang dimaksud sudah terjadi pada masa lampau, maka sejarah telah mencatat bahwa Bani Israil telah berbuat kerusakan berkali-kali, bukan hanya dua kali saja. Akan tetapi yang dimaksudkan di dalam Al-Qur’an ini merupakan puncak kerusakan yang mereka lakukan. Oleh karena itulah Allah mengirim kepada mereka hamba-hamba-Nya yang akan menimpakan azab yang sangat pedih kepada mereka.

Kedua : Dalam sejarah tidak disebutkan kemenangan kembali Bani Israil atas orang-orang yang menguasai mereka terdahulu. Sedangkan ayat di atas menjelaskan bahwa Bani Israil akan mendapatkan giliran mengalahkan musuh-musuh yang telah menimpakan azab saat mereka berbuat kerusakan yang pertama. Allah mengatakan : “Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali.”
Ketiga : Sekiranya yang dimaksudkan dengan dua kerusakan itu adalah sesuatu yang telah terjadi, tentulah tidak akan diberitakan dengan lafazh idza, sebab lafazh tersebut mengandung makna zharfiyah (keterangan waktu) dan syarthiyah (syarat) untuk masa mendatang, bukan masa yang telah lalu. Sekiranya kedua kerusakan itu terjadi di masa lampau, tentulah lafazh yang digunakan adalah lamma bukan idza. Juga katalatufsidunna (Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan), huruf laam dan nuun berfungsi sebagai ta’kid(penegasan) pada masa mendatang.
Keempat : Demikian pula firman Allah : “dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana” menunjukkan sesuatu yang terjadi pada masa mendatang. Sebab tidaklah disebut janji kecuali untuk sesuatu yang belum terlaksana.
Kelima : Para penguasa dan bangsa-bangsa yang menaklukan Bani Israil dahulu adalah orang-orang kafir dan penyembah berhala. Namun bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam ayat di atas : “Kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar”. Sifat tersebut mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang musyrik atau penyembah berhala. Pernyertaan kata “Kami” dalam kalimat di atas sebagai bentuk tasyrif (penghormatan). Sementara kehormatan dan kemuliaan itu hanyalah milik orang-orang yang beriman.
Keenam : Dalam aksi pengrusakan kedua yang dilakukan oleh Bani Israil terdapat aksi penghancuran bangunan-bangunan yang menjulang tinggi (gedung pencakar langit). Sejarah tidak menyebutkan bahwa pada zaman dahulu Bani Israil memiliki bangunan-bangunan tersebut.
Kesimpulan : Hakikat dan analisa ayat-ayat di atas menegaskan bahwa dua aksi pengerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil akan terjadi setelah turunnya surat al-Israa’ di atas.
Realita : Sekarang ini bangsa Yahudi memiliki daulah di Baitul Maqdis. Mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka membunuhi kaum wanita, orang tua, anak-anak yang tidak mampu apa-apa dan tidak dapat melarikan diri. Mereka membakar tempat isra’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan merobek-robek kitabullah. Mereka melakukan kejahatan di mana-mana hingga mencapai puncaknya.
Mereka menyebarkan kenistaan, kemaksiatan, kehinaan, pertumpahan darah, pelecehan kehormatan kaum muslimin, penyiksaan dan pelanggaran perjanjian.

Friday, May 24, 2019

Ayat Al-Quran Yang Pertama Kali Turun


Ada dua pendapat berkenaan dengan ayat yang pertama kali turun, berikut dalil-dalil yang dikemukakan dua pendapat tersebut:
Pendapat Pertama
Yang paling sahih ayat yang pertama kali turun ialah firman Allah Ta’ala,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq, 96 : 1-5 ).
Pendapat ini didasarkan pada suatu hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mengatakan,

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ – وَهُوَ التَّعَبُّدُ – اللَّيَالِىَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِى غَارِ حِرَاءٍ ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ . قَالَ « مَا أَنَا بِقَارِئٍ » . قَالَ « فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّالِثَةَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ ) »

“Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melalui mimpi yang benar waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadah beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali ke Gua Hira, hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya, lalu berkata, ‘Bacalah’ Nabi menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’. Nabi menceritakan, ‘Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. Malaikat berkata ‘Bacalah’. Aku menjawab ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. ‘Bacalah’. kujawab ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka aku ditarik dan dipeluknya untuk kali ketiga kalinya. Kemudian aku dilepaskan seraya ia berkata, ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Tuhanmu yang Maha Mulia.’”

فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَرْجُفُ فُؤَادُهُ ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ « زَمِّلُونِى زَمِّلُونِى » . فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ « لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى » . فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ .

“Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata, ‘Selimuti aku, selimuti aku!’ Khadijah menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi kepada Khadijah binti Khuwailid (setelah mennceritakan semua kejadian yang dialami Nabi), ‘Sesungguhnya aku cemas atas diriku.’ Khadijah menjawab, ‘Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.’

فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ – وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِىَّ ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِىَ – فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِى مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَبَرَ مَا رَأَى . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِى نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى – صلى الله عليه وسلم – يَا لَيْتَنِى فِيهَا جَذَعًا ، لَيْتَنِى أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَوَمُخْرِجِىَّ هُمْ » . قَالَ نَعَمْ ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِىَ ، وَإِنْ يُدْرِكْنِى يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا . ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّىَ وَفَتَرَ الْوَحْىُ

“Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah. Ia pandai menulis buku dalam bahasa ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa yang dikehendaki Allah dapat disalin. Usianya kini telah lanjut dan matanya telah buta.”
“Khadijah berkata kepada Waraqah, ‘Wahai anak pamanku. Dengarkan kabar dari anak saudaramu ini.’ Waraqah bertanya kepada Nabi, ‘Wahai anak saudaraku. Apa yang terjadi atas dirimu?’ Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Waraqah berkata, ‘Inilah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu.’ Nabi bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusir aku?’ Waraqah menjawab, ‘Ya, betul. Belum ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau yang tidak dimusuhi orang. Jika aku masih mendapati hari itu niscaya aku akan menolongmu sekuat-kuatnya.’ Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara.” (H.R. Bukhari).
Pendapat Kedua
Ayat yang pertama kali turun adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ

 “Wahai orang yang berselimut.”
Pendapat ini didasarkan pada hadis berikut ini,

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا حَرْبٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ سَأَلْتُ أَبَا سَلَمَةَ أَيُّ الْقُرْآنِ أُنْزِلَ أَوَّلُ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ } فَقُلْتُ أُنْبِئْتُ أَنَّهُ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } فَقَالَ أَبُو سَلَمَةَ سَأَلْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ أَيُّ الْقُرْآنِ أُنْزِلَ أَوَّلُ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ } فَقُلْتُ أُنْبِئْتُ أَنَّهُ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } فَقَالَ لَا أُخْبِرُكَ إِلَّا بِمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاوَرْتُ فِي حِرَاءٍ فَلَمَّا قَضَيْتُ جِوَارِي هَبَطْتُ فَاسْتَبْطَنْتُ الْوَادِيَ فَنُودِيتُ فَنَظَرْتُ أَمَامِي وَخَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَأَتَيْتُ خَدِيجَةَ فَقُلْتُ دَثِّرُونِي وَصُبُّوا عَلَيَّ مَاءً بَارِدًا وَأُنْزِلَ عَلَيَّ { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ }

“Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur; telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad; telah menceritakan kepada kami Harb; telah menceritakan kepada kami Yahya ia berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Abu Salamah, ‘Bagian manakah dari Al Qur`an yang pertama kali turun?’ Ia pun menjawab, ‘YAA AYYUHAL MUDDATSTSIR.’ Aku berkata, ‘Aku pernah dikabarkan bahwa bagian Al Qur`an yang pertama kali turun adalah: ‘IQRA` BISMI RABIKALLADZII KHALAQ (Sebutlah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan).’ Maka Abu Salamah pun berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Jabir bin Abdullah, ‘Bagian Al Qur`an yang manakah yang pertama kali turun?’ Maka ia menjawab, ‘YA `AYYUHAL MUDDATSTSIR.’ Kukatakan, ‘Pernah diberitakan kepadaku, bahwa yang pertama kali turun adalah, ‘IQRA` BISMI RABIKALLADZII KHALAQ.’ Maka ia menjelaskan kembali, ‘Aku tidak akan mengabarkan kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku berdiam diri di gua Hira`. Setelah selesai, aku pun beranjak keluar dan menelusuri lembah, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku, maka aku pun menoleh ke depan, ke arah belakang, ke samping kanan dan juga ke kiri. Ternyata, yang memanggilku duduk di atas kursi yang terbentang antara langit dan bumi. Setelah itu, aku segera mendatangi Khadijah dan berkata, ‘Selimutilah aku. Dan tuangkanlah air dingin pada tubuhku.’ Pada saat itulah, diturunkanlah ayat ini padaku, ‘YAA `AYYUHAL MUDDATSTSIR, QUM FA`ANDZIR, WA RABBAKA FAKABBIR (Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatakan. Dan Tuhan-mu, agungkanlah).’” (HR. Bukhari)
Catatan: selain dua pendapat di atas ada juga pendapat yang menyatakan bahwa yang pertama kali turun adalah surat Al-Fatihah dan lafal basmallah, tapi dalil kedua pendapat ini lemah dan kurang berdasar.
Perbandingan dua Pendapat
Para ulama Ulumul Quran dengan kesungguhan mencoba mempertemukan dua pendapat di atas sebagai berikut,
  1. Maksud Jabir dalam hadits di atas adalah surah yang diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah al Mudassirlah yang turun secara penuh sebelum surah Iqra’ selesai diturunkan. Karena yang turun pertama sekali dari surah Iqra’ itu hanya permulaan saja.
  2. Atau maksud Jabir bahwa surat Mudassir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah masa terhentinya wahyu.
  3. Ada yang mengatakan maksud Jabir: Surat al-muddatsir adalah yang pertama turun berkaitan dengan kerasulan (risalah) atau perintah berdakwah. Sedangkan ayat pertama surat Al-Alaq adalah ayat yang pertama turun berkaitan dengan kenabian (nubuwwah), atau pelantikan menjadi nabi.
  4. Ada yang mengatakan juga bahwa maksud Jabir: surat Al-Mudatsir adalah yang pertama kali turun yang disebabkan dengan peristiwa khusus (asbabun nuzul).
  5. Ada juga yang menyatakan: Jabir telah mengeluarkan yang demikian ini dengan ijtihadnya. Akan tetapi riwayat Aisyah lebih mendahuluinya. Jadi jika ada riwayat-riwayat lain yang shahih mendukung riwayat Aisyah, maka sebagai hasil ijtihad pendapat Jabir bisa ditinggalkan.

Thursday, May 23, 2019

Ayat Al-Quran yang Terakhir Diturunkan


Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad 
shalallahu alaihi wasallam secara berangsur-angsur, tidak sekaligus. Oleh karena itu, dulu ayat Al-Quran belum tersusun rapi seperti saat ini.
Jika Anda buka mushaf Al-Quran, maka ayat di halaman pertama adalah ayat di surat Al-Fatihah. Padahal, ayat yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq 1-5. Lalu ayat apa yang terakhir turun?
Ibnu Taimiyah mensinyalir, di antara sebab perbedaan ulama adalah tidak semua informasi mengenai sumber-sumber hukum mereka dapatkan. Para ulama itu berijtihad sesuai dengan informasi yang mereka terima.
Hal yang sama juga terjadi dalam penentuan akhir ayat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Semua informasi yang kita terima berkaitan dengan masalah ini tidak ada yang bersumber langsung dari Nabi sendiri. Informasi itu diberikan oleh para sahabat atau para tabiin sesuai dengan pengetahuan mereka.
Selain sebab di atas, ada sebab lain yang juga cukup penting dalam masalah ini, yaitu informasi yang kita terima acap kali bernuasna mutlak, tidak dalam persepektif tertentu. Misalnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbأ¢s, ia mengatakan: Telah turun ayat berikut ini: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. 4:93), dan ia adalah ayat yang turun terakhir kali, dan tidak ada yang menasakhnya.
Dan masih banyak riwayat-riwayat senada, yang memberi kesan turunnya suatu ayat pada kali terakhir.
Oleh karena itu, ada dugaan kuat bahwa para pencetus ide-ide tersebut tidak bermaksud menyebutnya sebagai ayat yang paling ujung dari rentetan ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, akan tetapi hanya sekedar menyebutnya sebagai ayat terakhir dalam permasalah terkait, atau terakhir dalam persepektif tertentu lainnya.
Sebagian ulama bersifat skeptis dalam menentukan ayat mana yang terakhir diwahyukan. Mereka beranggapan, bahwa informasi tentang ini sangat beragam dan saling bertentangan satu sama lain. Selain itu, penetapan masalah ini tidak mempunyai implikasi keagamaan yang berarti. Dilihat dari ini, betapa para ulama sendiri banyak yang merasa kesulitan dalam menyaring kesimpang-siuran informasi itu.
QS. al-Maidah 5:3 turun di Arafah pada saat Rasul melaksanakn haji wada pada tahun sepuluh, sementara beliau wafat pada awal-awal tahun sebelas [11 H.]. Ibnu Jarar ath-Thabary menginformasikan, bahwa Rasulullah wafat setelah delapan puluh satu hari dari hari Arafah [waktu di mana QS 5:3 turun].
Oleh karena tenggang waktu yang lama ini, informasi bahwa ayat tersebut adalah ayat terakhir tidak pernah disebut dalam catatan-catatan penting Al-Quran. Informasi ini menjadi sangat populer di kalangan umat Islam hanya karena kandungannya yang menjelaskan telah sempurnannya Islam, yang kemudian dimaknai secara salah, bahwa sejak itu, Nabi tidak pernah lagi mendapatkan wahyu Al-Quran.
Informasi kedua, yakni QS. al-Baqarah 2:281, yang diriwayatkan oleh an-Nasai, Ibnu Jarar, Ibnu Muradawayh dan Ibnu Aby Hatim, jauh lebih mendekati kebenaran. Namun begitu, terdapat informasi lain yang lebih kuat, yaitu informasi Imam Bukhari dari Ibnu ‘Abbas –juga diinformasikan oleh al-Baihaqi, Ahmad, Ibnu Majjah dan Ibnu Murdawayh dari ‘Umar, bahwa ayat terakhir adalah ayat riba [al-Baqarah 2:278-280]. Informasi lain yang tak kalah kuatnya adalah informasi Bukhari dan Muslim, bahwa ayat terakhir adalah ayat dayn [hutang] QS al-Baqarah 2:282.
Sesuai dengan informasi-informasi terakhir ini, adalah sangat mungkin ketiga informasi di atas benar semua, yang berarti ayat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad saw adalah surat al-Baqarah ayat 278 sampai 282. Keberatan muncul karena tidak ada keharmonisan antara ayat yang di tengah [281] dengan ayat awal [278-280] dan ayat terakhir [281], di mana pembahasan pertama menyinggung transaksi yang mengandung riba sementara yang di tengah mengenai hari akhir, dan kemudian dilanjutkan dengan ayat katiga menyoal hutang piutang.
Akan tetapi ketidakharmonisan ini dapat ditengahi, seperti telah banyak dibahas oleh para sarjana Al-Quran, bahwa ayat yang di tengah merupakan penguat terhadap larangan ayat awal [riba, 278-280] dan terhadap perintah ayat terakhir [281]. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam, bahwa perintah dan larangan Al-Quran tidak hanya selesai pada urusan duniawi, akan tetapi juga ada tuntutannya pada hari pembalasan nanti.
Kesimpulannya, pendapat yang paling kuat adalah yang menyatakan bahwa ayat terakhir adalah QS. al-Baqarah 2:278-282. 

Dukhon

Saat ini di dunia dan juga tentu saja termasuk indonesia, sedang perjadi pandemi yang berasal dari corona. Nama legkapnya virus corona. Ata...