Friday, February 27, 2015

Sifat Pamer Dalam Islam



Riya adalah berbuat kebaikan atau ibadah dengan maksud pamer kepada orang lain agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya.
Ciri-ciri riya:
Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Sedangkan orang munafik ada tiga tanda yakni apabila berbicara bohong, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Ibnu Babawih).
Orang yang riya’, maka amal perbuatannya sia-sia belaka.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia” [QS. Al-Baqarah: 264]

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” [Al Maa’uun 4-6]

Riya membuat amal sia-sia sebagaimana syirik. (HR. Ar-Rabii’)

Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Allah mengancam orang yang riya ke dalam neraka dan menyebutnya sebagai teman setan:
“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riyakepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” [An Nisaa’ 38]
Imam Al Ghazali mengumpamakan orang yang riya itu sebagai orang yang malas ketika dia hanya berdua saja dengan rajanya. Namun ketika ada budak sang raja hadir, baru dia bekerja dan berbuat baik untuk mendapat pujian dari budak-budak tersebut. Bukankah orang itu akan mendapat marah dari rajanya?
Nah orang yang riya juga begitu. Ketika hanya berdua dengan Allah Sang Raja Segala Raja, dia malas dan enggan beribadah. Tapi ketika ada manusia yang tak lebih dari hamba/budak Allah, maka dia jadi rajin shalat, bersedekah, dan sebagainya untuk mendapat pujian para budak. Adakah hal itu tidak menggelikan?
Agar terhindar dari riya, kita harus meniatkan segala amal kita untuk Allah ta’ala (Lillahi ta’ala).
Selain riya yang beribadah kepada Allah hanya pamer kepada manusia, sikap riya/menjilat pada atasan pun tidak terpuji. Orang-orang seperti ini biasanya ke atas menjilat, namun ke bawah menginjak. Orang-orang seperti ini selain dibenci bawahannya juga dibenci Allah.

Tuesday, February 24, 2015

Ketika Kita disakiti Orang lain



Biasanya, akan sulit bagi kita tetap bersikap baik kepada orang yang telah menyakiti. Yang rata-rata terjadi adalah, orang membalas perlakuan menyakitkan yang diterimanya.

Perbuatan membalas dendam bukanlah pilihan baik. Tak peduli berapa dalam sakit yang Anda rasakan, jangan pernah berusaha membalas. Mengapa? Karena dengan membalas, itu menunjukkan diri Anda sama buruknya dengan dia. Perbuatan membalas pun akan menimbulkan perasaan bersalah dan memunculkan masalah baru.

Mengutip ucapan Henry James, "Tiga hal penting dalam hidup: jadilah orang baik, jadilah orang baik, dan jadilah orang baik."
Womanitely melansir enam alasan mengapa Anda tak usah membalas perlakuan orang yang menyakiti Anda:

1. Menunjukkan Anda orang yang baik
Tanpa perlu bersusah payah show off di depan publik, hanya dengan tidak membalas orang yang telah menyakiti, itu membuktikan Anda pribadi yang baik dan cerdas. Orang di sekitar akan menilai Anda sosok cerdas dan kuat yang dapat menghadapi situasi sulit. Tetaplah bersikap baik kepada mereka yang berkali-kali menyakiti hati Anda dan biarkan sikap Anda ini menginspirasi orang lain.

2. Melembutkan sikap
Alasan lain untuk lebih ramah terhadap orang yang menyakiti Anda adalah karena dapat melunakkan sikap Anda terhadap mereka. Tentu, Anda dapat merespons buruk terhadap mereka, tapi ini hanya akan membuat situasi semakin buruk. Bersikap ramah adalah cara cerdas untuk menanggapi mereka. Dengan cara ini, Anda akan mengurangi kebencian terhadap mereka. Sebenarnya, kasihan lho orang yang menyakiti Anda karena mereka sengsara akibat hatinya penuh kebencian.

3. Terhindar dari rasa bersalah
Jika Anda bersikap baik kepada orang-orang yang telah menyakiti, Anda tidak akan sengsara karena memendam perasaan bersalah. Berlaku kasar terhadap mereka akan menimbulkan dua hal, sengsara karena mereka telah menyakiti Anda dan Anda merasa bersalah karena bersikap kasar kepada mereka. Cara terbaik untuk menanggapi mereka adalah dengan tersenyum dan bersikap baik.

4. Merasa diri Anda orang baik
Saat Anda ramah terhadap mereka yang telah menyakiti, Anda akan merasa diri Anda orang baik, sekaligus menyadari bahwa Anda lebih baik daripada orang itu. Ingat, perilaku kasar tidak akan membuat perasaan Anda lebih baik. Beri contoh kepada orang lain dengan bersikap ramah terhadap orang-orang yang telah menyakiti Anda, dan lihatlah semua orang akan menghargai Anda.

5. "Bunuh" mereka dengan kebaikan Anda
Rasanya puas jika bisa membalas perlakuan orang yang telah menyakiti. Tapi ada cara yang lebih manjur untuk "membunuh" orang yang pernah menyakiti Anda, yaitu dengan menebar kebaikan daripada balik menyakiti mereka. Bukan tak mungkin, kebaikan Anda akan membuat mereka mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bahkan jika mereka tidak mengakui kesalahan, kebaikan Anda akan membuat mereka "gila" dan mereka akan meninggalkan Anda karena malu. Hindari berkomunikasi dengan mereka. Kelilingi diri Anda dengan orang baik dan positif yang membuat Anda bahagia.

6. Mengubah perilaku kasar mereka terhadap Anda
Bersikap ramah terhadap orang-orang yang telah menyakiti Anda bisa mengubah perilaku kasar mereka terhadap Anda. Kebaikan Anda mungkin membuat mereka mempertimbangkan kembali tindakan mereka. Sulit untuk mengubah perilaku seseorang terhadap Anda, tetapi Anda perlu setidaknya mencoba.

7. Anda akan menerima pujian
Ketika seseorang menyakiti Anda di depan orang lain, bersikap baik kepada mereka tidak akan membuat Anda tampak lemah. Ini akan membuat orang lain mengetahui bahwa Anda adalah pribadi yang baik dan cerdas. Mereka pasti akan melihat ciri kepribadian ini dan mereka akan menghormati Anda, lebih dari sebelumnya. Selain itu, orang yang pernah menyakiti Anda akan melihat kebaikan Anda juga.

Memang, tak mudah bersikap baik dan ramah terhadap orang-orang yang pernah menyakiti. Butuh kebesaran jiwa dan lapang dada. Ini adalah tugas yang menantang, tapi cobalah untuk tidak menyakiti siapa pun sebagai bentuk balas dendam. Banyak orang berpikir bahwa kebaikan adalah tanda kelemahan, tapi itu tidak benar. Kahlil Gibran mengatakan, "Kelembutan dan kebaikan bukanlah tanda-tanda kelemahan dan putus asa, tetapi manifestasi dari kekuatan dan resolusi." 


BUKTI KETAUHIDAN SESEORANG KETIKA DI SAKITI ORANG LAIN
KETIKA KITA DI SAKITI ORANG LAIN :

1. MEMAAFKAN. Ini merupakan bukti ketulusan hati terhadap perilaku orang yang menyakiti, sedangkan keinginan hati untuk diperlakukan dengan baik merupakan tingkatan yang lebih tinggi. Dan yang paling tinggi lagi ialah ketika ia bisa membalasnya dengan KEBAIKAN. Kita harus bisa merendam emosi lebih dulu.
Jangan membalas menyakiti orang yang pernah menyakiti kita. Kemudian maafkanlah. Balaslah kejahatan yang ia lakukan dengan kebaikan.
"Dan, orang-orang yang menahan kemarahan dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan)." (QS. Ali' Imran : 134)

2. KEYAKINAN TERHADAP QADHA. Kita harus menyadari bahwa ia tidak menyakiti, kecuali itu merupakan ketentuan Qadha dan Qadhar Allah. Dan bahwa Penentuan takdir sebenarnya adalah Allah. Oleh karena itu berserahlah kepada Rabb yang melindungi diri kita.

3. PENGHAPUS DOSA. Kita harus menyadari bahwa kejahatan yang dilakukan orang lain kepada diri kita berarti dosa-dosa kita di hapuskan, keburukan-kebur ukan kita di leburkan, kesalahan-kesal ahan kita dimaafkan dan derajat kita di angkat.
"Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara di ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat : 34)

4. MUNCULNYA KESADARAN terhadap kekurangan dirinya, kesadaran seperti ini akan muncul justru dosa-dosa yang telah kita lakukan.
Hal yang positif, yang mengharuskan kita memuji dan bersyukur kepada Allah, yaitu keadaan kita yang di ciptakan sebagai orang yang dizalimi Bukan menzalimi.

5. MENUNJUKKAN SIKAP RAMAH, Kita harus bersikap ramah kepada orang yang menyakiti diri kita, karena bagaimanapun dia berhak di perlakukan ramah.
Tindakan yang selalu menyakiti orang lain dan sikap yang terlalu berani menentang perintah Allah untuk tidak menyakiti orang muslim. Kita sikapi dengan lembut dan ramah.
"Pada hari ini tidak ada cercaan kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha penyayang di antara para penyayang." (QS. Yusuf: 92)
Jika kau berteman dengan seorang teman yang memiliki RASA CINTA, maka jadikanlah engkau seperti orang yang penuh KASIH SAYANG. Janganlah menghitung semua kesalahan setiap orang, sebab kamu akan tinggal sepanjang zaman tanpa teman.
"Ampunilah orang yang melakukan satu kali kesalahan, dengan (7) tujuh kali ampunan."

Sunday, February 22, 2015

Tujuh Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir

AMAL jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan tersebut terus memproduksi pahala yang terus mengalir kepadanya.

Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman­faat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).
Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar­luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).
Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut.
1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.
2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang dipeibuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.
3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.
4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu.
5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.
6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.
Semakin banyak orang yang memanfaat­kannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem­berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).
7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Thursday, February 19, 2015

Azab Kubur dan Penyebabnya



AZAB kubur merupakan suatu hal yang memang ditakuti oleh setiap manusia. Karena dari beberapa riwayat banyak mengatakan bahwa siksa dalam azab kubur itu sangatlah berat. Maka, banyak orang, terutama orang Islam yang menjaga dari hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah SWT, agar tidak mendapat azab kubur tersebut. Hanya saja, terkadang kebanyakan orang lalai, hingga meninggalkan apa saja sebab-sebab dari azab kubur itu.
Sebab-sebab yang membuat penghuni kubur disiksa ada dua, yakni umum dan terperinci. Secara umum mereka disiksa karena tidak mengenal Allah, menyia-nyiakan perintah-Nya dan berbuat maksiat.
Sedangkan sebab yang terperinci banyak disebut di dalam nas hadis. Berikut penjelasannya:

1. Tidak memakai penutup saat buang air kecil dan namimah
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ibn Abbas RA berkata bahwa Nabi SAW melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda, “Sungguh keduanya sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa karena dosa besar.” Kemudian beliau melanjutkan, “Ya, yang satu karena melakukan namimah (mengadu domba), dan yang satunya lagi tidak memakai penutup saat buang air kecil.” Kemudian Rasulullah SAW mengambil sebuah kayu basah dan membelahnya menjadi dua, lalu menancapkannya pada dua kubur tersebut, dan bersabda, “Semoga siksa keduanya menjadi ringan selama kayu ini tidak kering!”
An-Nasa’i meriwayatkan bahwa Aisyah berkata, “Seorang wanita Yahudi masuk ke kamarku dan berkata, ‘Sungguh azab kubur (bisa) berasal dari air seni.’ Aku menyahut, ‘Dusta engkau.’ Ia berkata, ‘Ya, sungguh kami (penganut Yahudi) memotong kulit dan pakaian kami bila terkena air seni.’ Sementara itu, Rasulullah SAW keluar hendak shalat pada saat suara kami meninggi. Beliau SAW bertanya, ‘Ada apa ini?’ Aku menceritakan apa yang wanita itu katakana. Beliau bersabda, ‘Ia benar.’ Lalu beliau tidak shalat kecuali berdoa setelahnya, ‘Ya Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil, lindungilah aku dari panasnya neraka dan azab kubur’.”
Nampaknya inilah yang diisyaratkan oleh hadis bahwa Bani Israil memotong kulit dan pakaian yang terkena air seni. Ini merupakan syariat yang ditetapkan Allah bagi mereka. Karena itu, ketika ada orang yang melarang hal tersebut untuk dikerjakan, maka konsekuensinya Allah akan menyiksa mereka karena pelarangan tersebut.
Dalam hadis Abdurrahman ibn Hasanah, Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kalian tidak tahu apa yang menimpa seorang Bani Israil. Jika mereka terkena air seni, mereka memotong bagian yang terkena air seni tersebut. Lalu ia melarang mereka melakukan itu, maka ia diazab di dalam kubur.”
Rasulullah SAW memberitakan bahwa umunya siksa kubur berawal dari air seni. Anas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bersihkan dirimu dari air seni, karena umunya azab kubur berasal dari air seni.” Ibn Abbas meriwayatkan dengan redaksi: “Umumnya azab kubur berasal dari air seni maka bersihkanlah dirimu darinya.” Adapun versi Abu Hurairah, “Kebanyakan azab kubur berawal dari air seni.”

2. Mencuri rampasan perang
MENCURI ghanimah rampasan perang termasuk dosa besar yang dapat mengakibatkan pelakunya disiksa di dalam kubur. Abu Hurairah berkata, “Seorang lelaki memberi hadiah seorang budak bernama id’am kepada Rasulullah SAW. Ketika Mid’am ikut bepergian bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba ia terkena anak panah nyasar. Ia tewas. Orang-orang berkata, ‘Semoga ia masuk surga!’ Mendengar ini Rasulullah SAW bersabda, ‘Sekali-kali tidak! Demi Yang Mengusai diriku, sungguh lilin yang ia ambil pada perang Khaibar termasuk ghanimah yang belum dibagi. Lilin ini akan menyalakan api neraka buatnya.’ Ketika orang-orang mendengar hal itu, tiba-tiba seorang lelaki membawa satu atau dua tali kulit terumpah untuk diserahkan kepada Nabi SAW. Beliau SAW lalu berkata, ‘Satu atau dia tali kulit terumpah dari neraka’.” Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Abdullah ibn ‘Amru berkata, “Dulu ada lelaki bernama Karkarah yang bertugas menjaga barang bawaan milik Nabi yang diletakkan di punggung hewan. Ketika ia meninggal, Rasulullah SAW bersabda, ‘Ia di neraka.’ Para sahabat pergi untuk melihatnya, lalu mereka menemukan pakaian yang diambilnya,” (HR. Bukhari).

3. Dusta, Zina, Riba, dan Meninggalkan Al-Qur’an
Allah menunjukkan beberapa dosa yang membuat pelakunya diazab. Dalam shahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa Samurah ibn Jundub berkata:
Biasanya setelah shalat Nabi SAW menghadapkan wajahnya kearah kami, dan bertanya, “Siapa di antara kalian yang mimpi tadi malam?” Jika ada yang bermimpi, orang itu akan menceritakannya, lalu Nabi SAW mengatakan Masya Allah.
Suatu hari beliau bertanya kepada kami, “Apakah di antara kalian ada yang bermimpi tadi malam?” Kami menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Aku tadi malam bermimpi ada dua orang mendatangiku. Mereka memegang tanganku dan membawaku ke tanah yang suci. Di sana ada laki-laki yang sedang duduk dan laki-laki yang berdiri di sampingnya dengan besi pengait di tangannya. Besi itu dimasukkan ke sudut mulut lelaki yang duduk, lalu ditarik sampai mencapai tengkuk, kemudian sudut mulut yang lain ditarik seperti itu, sehingga kedua sudut mulutnya terpaut. Setelah itu, keadaannya pulih sedia kala, dan ia diperlakukan lagi seperti itu.

Aku bertanya, “Apa ini?” Kedua orang yang membawaku menjawab, “Jalanlah!” Lalu kami berjalan sampai bertemu dengan seorang lelaki yang sedang berbaring dan seorang lagi yang berdiri dekat kepalanya sambil memegang batu, lalu dengan batu itu ia menghancurkan kepala lelaki yang berbaring. Setelah ia memukulnya, batu tersebut menggelinding, lalu ia pergi untuk mengambilnya lagi. Ketika ia kembali, kepala lelaki yang hancur tadi sudah menyatu kembali dan pulih seperti sedia kala, lalu ia memukulnya lagi.
Aku bertanya, “Siapa ini?” Kedua orang yang membawaku menjawab, “Jalanlah!” Kami berjalan dan menemukan sebuah lubang mirip tungku dari tembikar untuk membakar roti, yang atasnya sempit, bawahnya luas dan dibawahnya api menyala. Jika api itu mendekat, orang-orang di dalamnya segera naik sampai mereka nyaris keluar. Jika api padam, mereka kembali turun ke bawah. Di dalam lubang itu terdapat laki-laki dan perempuan telanjang.

Aku bertanya, “Siapa mereka ini?” Kedua orang yang membawaku menjawab, “Jalahnlah!” Kami lalu berjalan dan sampai ke sebuah sungai darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki berdiri, dan di tengah sungai (menurut versi Yazid dan Wahab ibn Jarir dari Jarir ibn Hazim: di pinggir sungai) ada seorang lelaki yang di hadapannya ada batu. Jika orang itu ingin keluar dari sungai, lelaki di pinggir atau di tengah sungai melempari mulutnya dengan batu sehingga ia kembali ke tempatnya semula. Setiap kali ia akan keluar dari sungai, ia dilempar dengan batu sehingga kembali lagi

Tuesday, February 17, 2015

Kisah Ayah dan Burung Gagak



Pada suatu sore, seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.

“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.
Dan aku menjawab, “Burung gagak”.
Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”

Kisah Jemuran Tetangga



Ada pasangan muda yang baru saja menikah dan menempati rumah di sebuah komplek perumahan. Ketika pagi sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca melihat tetangganya dari jendela kaca sedang menjemur pakaian. Kemudian si istri berkata: "cuciannya keliatan kurang bersih ya". kemudian dia berkata mungkin tetangganya tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberikan komentar apapun. 

Besok paginya ketika sarapan kajadian serupa terjadi lagi. Sang istri berkata lagi: "tetangga sebelah tidak tahu bagaimana cara mencuci dengan benar atau mungkin karena memakai detergen yang murahan ya". Sang istri berkata kepada suaminya. Dia berharap suaminya mau memberikan komentar atau pendapat tentang cucian tetangganya tersebut. Tapi lagi-lagi si suami masih terdiam tidak memberikan komentar sedikitpun. Suaminya cuman menoleh kemudian melanjutkan sarapannya lagi. Pada hari ketiga terulang lagi kejadian seperti hari yang pertama dan kedua. 

Namun pada hari keempat si istri kaget ketika sarapan. Dia melihat lewat jendela kaca kalo jemuran tetangganya kini keliatan sangat bersih. 
"Yah, hari ini tetangga kita jemurannya keliatan bersih". kata sang istri kepada suaminya. 
"Apa dia mendengar omongan saya ya?" sambung si istri lagi.
Kemudian si suami berkata kepada istrinya.
"Tadi pagi sebelum ibu bangun saya membersihkan jendela kaca rumah kita" jawab suami dengan nada datar. Si istri baru menyadari kesalahannya dalam menilai orang.

Dan begitulah kehidupan. Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung pada kejernihan pikiran kita dan cara pandang kita. 
Jika HATI kita bersih, maka akan bersih pula PIKIRAN kita. 
Jika pikiran kita bersih, maka akan bersih pula PERKATAAN kita. 
Jika perkataan kita bersih, maka bersih pula PERBUATAN kita


Sunday, February 15, 2015

Sang Direktur dan Tangan Ibu yang Berkerut



Seorang pria muda melamar posisi manajerial di perusahaan besar. Dia lulus wawancara pertama, dan sekarang akan bertemu dengan sang direktur perusahaan untuk wawancara akhir.

Direktur melihat CV prestasi akademik si pemuda yang hebat. Ia bertanya, “Apakah kau mendapatkan semua beasiswa di sekolah?”
“Tidak,” jawab si pemuda.
“Apakah ayahmu yang membiayai sekolahmu?”
“Ayah saya meninggal ketika saya berusia satu tahun. Ibu saya yang membanting tulang mencari biaya untuk sekolah saya,” si pemuda menjawab.
“Apa pekerjaan ibumu?”
“Ibu saya bekerja sebagai pencuci pakaian.”
Sang direktur meminta si pemuda untuk menunjukkan tangannya. Pemuda itu menunjukkan sepasang tangan yang halus dan lembut.
“Apa kau pernah membantu ibumu mencuci pakaian sebelumnya?”
“Tidak pernah. Ibu saya selalu ingin menyuruh saya belajar dan membaca. Selain itu, ibu saya dapat mencuci pakaian lebih cepat daripada saya.”
Direktur berkata, “Aku punya permintaan. Jika kaupulang ke rumah hari ini, bersihkan tangan ibumu, dan kemudian aku akan melihat tanganmu lagi…”
Si pemuda merasa kesempatannya untuk mendapatkan pekerjaan itu melambung tinggi. Ketika ia kembali ke rumah, ia meminta ibunya untuk mengizinkannya membersihkan tangan tua itu. Ibunya merasa aneh, ia bahagia, dan dengan perasaan campur aduk, ia mengizinkan anaknya melakukan permintaannya itu.
Si pemuda membersihkan tangan ibunya perlahan-lahan. Tiba-tiba air matanya jatuh perlahan. Itu adalah pertama kalinya ia melihat tangan ibunya penuh dengan kerutan, dan ada begitu banyak memar. Beberapa memar yang tersentuh ketika dibersihkan membuat ibunya meringis.

Ini adalah pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa itu adalah sepasang tangan yang mencuci pakaian setiap hari sehingga biaya sekolahnya bisa terbayar. Memar di tangan ibunya adalah harga yang harus dibayar perempuan itu untuk pendidikan, kegiatan sekolahnya, dan masa depannya.
Setelah membersihkan tangan ibu, si pemuda diam-diam membasuh semua pakaian sisa ibunya.
Malam itu, ibu dan anak berbicara lama.

Keesokan paginya, si pemuda pergi lagi menghadap direktur.
Direktur melihat air mata di mata si pemuda. Ia pun bertanya: “Bisa kauceritakan apa yang telah kaulakukan dan pelajari kemarin di rumahmu?”
Pemuda menjawab, “Saya membersihkan tangan ibu saya, dan juga membersihkan semua sisa pakaiannya.
“Saya baru sadar sekarang apa itu penghargaan. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi siapa saya hari ini. Dengan membantu ibu saya, sekarang saya menyadari betapa sulitnya mendapatkan sesuatu di dunia. Dan saya di sini untuk menghargai pentingnya dan nilai untuk membantu keluarga.”

Sang direktur berkata, “Ini adalah apa yang aku cari dari seorang manajer. Aku ingin merekrut orang yang dapat menghargai bantuan lain, seseorang yang tahu penderitaan orang lain untuk mendapatkan hal-hal yang dilakukan dan orang yang tidak akan menempatkan uang sebagai sekadar tujuan dalam hidup. Kau diterima bekerja di sini.”


Dukhon

Saat ini di dunia dan juga tentu saja termasuk indonesia, sedang perjadi pandemi yang berasal dari corona. Nama legkapnya virus corona. Ata...