Friday, July 29, 2016

Gendong Bayi Saat Maghrib

Ketika waktu shalat maghrib tiba, maka saat itulah matahari sudah terbenam dan siang pun berganti malam. Selain perintah shalat ternyata kita juga diperintahkan untuk melarang anak keluar rumah di waktu magrib.

Oleh sebab itu, banyak orangtua yang menyuruh anak mereka untuk menghentikan segala aktivitas di luar rumah. Selain itu, banyak orangtua zaman dahulu juga berpesan untuk segera menggendong atau memangku bayi hingga maghrib berlalu.

Ternyata hal tersebut bukan hanya sekedar wejangan orang tua yang berbau mitos atau tahayul saja. Namun juga merupakan salah satu perintah dari Rasulullah SAW. Lalu apa alasan Rasulullah memerintahkan hal tersebut?

Waktu magrib adalah waktunya jin dan setan berkeliaran untuk mengganggu manusia. Itulah sebabnya sebagai orangtua harus menjaga anaknya dari gangguan makhluk tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

“Bila malam datang, tahanlah anak-anak kalian karena sesungguhnya setan menyebar kala itu! Dan jika sesaat waktu malam telah berlalu, lepaskanlah mereka. Tutuplah pintu dan bacakanlah nama Allah! Karena sesungguhnya setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup. Tutuplah bejana-bejana kalian dan bacakanlah nama Allah meski engkau akan menghidangkannya. Dan padamkanlah lampu kalian.” (Hadist Riwayat Al Bukhari dan Muslim).

Mungkin di antara kita banyak menemui bayi yang menangis terus sejak magrib hingga malam hari tanpa sebab yang jelas seperti mengompol, haus, atau sakit. Bisa saja itu terjadi karena bayi tersebut sedang diganggu oleh setan.

Sebab dikatakan pada saat waktu magrib tiba setan-setan itu menyebar mencari tempat untuk berlindung. Karena itu ketika magrib telah tiba dan pintu rumah tidak ditutup dengan menyebut nama Allah, maka berkemungkinan besar rumah tersebut akan dimasuki oleh setan. Itulah sebabnya sebagai orangtua harus membentengi anak-anaknya dari gangguan jin dan setan tersebut.

Cara yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan membacakan 10 ayat di surat Al-Baqarah, empat ayat awal surat Al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat setelahnya serta dua ayat terakhir surat Al-Baqarah.

Dari Ibnu Mas’ud r.a sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat; empat ayat diawal Al Baqarah, ayat kursi dan dua ayat setelahnya dan penghujung surat Al Baqarah, maka setan tidak akan masuk rumah tersebut hingga Subuh.” Hadist yang diriwayatkan dari Thabrani dalam AlKabir.

Namun pada kenyataannya banyak orangtua di zaman sekarang mengabaikan hadist tersebut. Mereka masih saja membiarkan anak-anaknya bermain hingga azan berkumandang atau berada di luar rumah saat magrib. Padahal pada kenyataannya anak-anak belum bisa membentengi diri dari gangguan  jin atau setan yang sedang berkeliaran di waktu maghrib.

Demikian ulasan perintah Rasulullah kepada orangtua untuk menjaga anak mereka di waktu magrib tiba. Maka dari itu, mulai saat ini amalkanlah hadist Rasulullah SAW tersebut agar rumah dan keluarga kita terhindar dari gangguan jin dan setan.

Thursday, July 28, 2016

Al-Qur'an & Syafaatnya

Kitab suci Al-Qur'an yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah merupakan kitab suci yang sempurna dan lengkap, dan menjadi peduman hidup manusia di dunia. Al-Qur'anul karim perlu dibaca, difahami, diyakini dan dilaksanakan dalam kehidupan.

Al-Imam As-Syahid Hassan Al-Banna pernah berkata, "Pesanku kepadamu wahai saudara saudaraku...hendaklah sentiasa menghubungkan diri dengan al-Qur'an pada setiap detik dan masa. Andaikata saudara melakukan sedemikian, niscaya saudara akan merasa betapa agungnya Pencipta yang Maha Tinggi itu. Sebenarnya siapa yang berbuat demikian tidak dapat tidak akan bertambah keimanan terhadap keagungan Pencipta lalu bertambah lagi ketundukannya kepada kekuasaan-Nya...." Al-Qur'an adalah  mukjizat aqaliah iaitu mukjizat yang berfungsi dan mempunyai kelebihan luar biasa hingga ke hari kiamat. Membaca al-Qur'an akan diberi pahala oleh Allah s.w.t. digandakan hingga 10 kali ganda.

Sahabat yang dimuliakan,
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:“Bacalah al- Qur'an kerana ia akan datang pada hari akhirat kelak sebagai pemberi syafaat kepada tuannya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Di dalam sebuah hadis lain Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud:“Pada hari kiamat nanti, di hadapan Allah swt tidak akan ada syafaat yang mempunyai taraf yang lebih tinggi daripada Al-Qur'an, bukan Nabi, bukan malaikat dan sebagainya”.

Melalui hadis di atas kita dapat mengetahui bahawa Al-Qur'an adalah pemberi syafaat yang mana syafaatnya akan diterima oleh Allah s.w.t. Terdapat satu riwayat menyatakan bahawa apabila seseorang itu meninggal dunia dan keluarganya sibuk melakukan upacara pengkebumian, seorang yang kacak akan berdiri di bahagian kepalanya. Apabila mayat itu dikafankan, orang itu akan datang mendiami antara dadanya dan kain kafan itu.

Bila selesai dikebumikan, orang ramai termasuklah ahli-ahli keluarga dan kekasih kita akan pulang ke rumah dan datanglah dua malaikat Munkar dan Nakir coba untuk memisahkan orang yang tampan itu supaya mereka dapat membuat pertanyaan mengenai iman orang yang meninggal dunia itu tanpa sebarang gangguan.

Tetapi orang yang tampan itu akan berkata:“Dia adalah kawanku. Aku tidak akan meninggalkannya berseorangan walau dalam keadaan apa sekalipun. Jalankanlah tugas kamu tetapi aku tidak akan meninggalkannya sehingga aku membawanya masuk ke Syurga!”

Selepas itu dia berpaling ke arah mayat sahabatnya dan berkata:

“Akulah Al-Quran yang mana engkau telah membacanya kadang kala dengan suara perlahan dan kadang kala dengan suara yang kuat.”

“Janganlah engkau bimbang. Selepas pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan merasa sedih lagi”

Bila pertanyaan selesai, orang yang tampan itu akan mengadakan untuknya satu hamparan sutera yang penuh dengan kasturi dari malaikat-malaikat dari Syurga.

Alangkah indahnya dan bahagianya sekiranya orang itu adalah kita. Kita tahu tentang tingginya syafaat Al-Quran tetapi dengan mengetahuinya sahaja tanpa berusaha untuk mendekati dan merebut syafaat itu kita adalah orang-orang yang rugi.

Coba kita renungkan sejenak diri kita sendiri. Ajal dan maut adalah ketentuan Allah SWT. Bila ia telah datang kita tidak akan mampu memperlambatkan atau mempercepatkannya walaupun untuk sejenak. Dan apabila berada di alam kubur siapakah lagi yang akan menemani kita jauh sekali memberi bantuan kecuali amalan-amalan kita sewaktu di dunia. Allah telah menjanjikan Al-Qur'an sebagai pemberi syafaat dan janji Allah itu adalah benar.

Terdapat beberapa kebaikan-kebaikan Al-Qur'an yaitu :

Pertama : Al-Qur'an merupakan kalam Allah dan perlembagaan syariatnya yang kekal abadi. Allah telah menurunkannya kepada manusia sebagai panduan dalam mengharungi kehidupan agar dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kedua : Membaca Al-Qur'an merupakan satu ibadah yang boleh menghampirkan diri seseorang itu kepada Allah s.w.t.. Pahalanya amat besar iaitu sesiapa yang membaca satu huruf daripada al-Qur'an, ganjarannya satu kebaikan dan sepuluh ganjaran yang sama dengannya. Selain itu ia juga boleh memberikan syafaat di hari akhirat kelak.

Ketiga : Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ada menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang maksudnya :” Perumpamaan Mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seperti limau yang mempunyai bau yang harum dan rasanya sedap. Manakala perumpamaan Mukmin yang tidak membaca al-Qur'an pula adalah seperti tamar yang tidak ada bau tetapi rasanya manis dan sedap.”

Keempat : Membaca al-Qur'an hendaklah dilakukan dengan beradab sebagai menghormati kalimah Allah di antaranya ialah seseorang itu hendaklah berada dalam keadaan suci (berwudhu’) dan membacanya di tempat yang bersih, memulakan dengan membaca Ta’auwuz dan Basmallah, membaca dengan teliti dan perlahan, menjaga makhraj (bertajwid) serta memperelokkan suara sekadar termampu.

Kelima : Pembacaan al-Qur'an yang paling baik ialah apabila difahami apa yang dibaca. Dengan ini barulah seseorang itu akan dapat merasai nikmatnya yang sebenar. Jika tak faham bahasa Arab cuba lihat terjemahannya.

Sahabat yang dikasihi,
Surah Al Mulk adalah surah keamanan dan keselamatan, kerana ia menyelamatkan pembaca-pembacanya dari siksa kubur. Sejarah telah membuktikan seperti yang berlaku di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ibnu Abbas menceritakan:

“Pernah suatu ketika setengah para sahabat berkhemah di atas kubur. Mereka sebenarnya tidak menyangka tempat itu adalah kubur. Setelah beberapa ketika berada di dalam khemah, mereka tiba-tiba terdengar suara orang membaca Surah Al Mulk dari mula hinggalah akhirnya. Suara itu datangnya dari dalam tanah. Tahulah mereka, sebenarnya mereka sedang berkhemah di atas kubur. Kemudian hal itu diadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu baginda bersabda yang bermaksud: “Surah Al Mulk adalah surah pelepasan kerana ia menghindar pembacanya dari azab Neraka.”

Abu Hurairah meriwayatkan hadis, katanya yang bermaksud: “Sesungguhnya di dalam Al-Quran itu, ada satu surah yang mengandungi 30 ayat, ia mensyafaat bagi lelaki yang membacanya. Maka selagi mana lelaki itu membacanya, selagi itu pula ia meminta ampun unutuknya. Surah itu ialah surah Al Mulk.”

Dalam hadis yang lain Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Surah Al Mulk itu memelihara dan menghindarkan pembacanya dari azab kubur.”

Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Aku sungguh gembira, sekiranya orang mukmin sentiasa membaca surah Al Mulk sehingga seolah-olah surah itu tertulis di dalam hatinya.”

Marilah sama-sama kita hayati al-Qur'an dan teruskan menjadi teman setia kita, jangan lupa membacanya bersungguh-sungguh dan fahami maknanya. Semoga ia akan membantu kita di alam barzakh dan hari akhirat.

Wednesday, July 27, 2016

Siksaan di Neraka Yang Paling Berat



Akan datangnya hari akhir sudah menjadi ketetapan Allah SWT dan hanya Allah yang tahu. Dan pada hari itu semua amal ibadah manusia akan di hisab. Mana yang timbangan kebaikannya lebih berat dan mana yang timbangan keburukannya lebih berat. Siapakah orang yang paling buruk amalnya, hingga hari kiamat nanti paling berat siksanya?

Dalam Islam, Allah telah melarang seseorang untuk menggambar atau membuat patung menyerupai makhluk hidup, baik itu berupa hewan maupun manusia. Diantara larangan itu ada dalam beberap hadits Rasulullah saw seperti berikut ini:

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ ، فَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, “Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan (buat).” (HR. Bukhari no. 2105 dan Muslim no. 2107)

Dalam riwayat lain disebutkan,


إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang peling berat siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah al mushowwirun (pembuat gambar).” (HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109).

Banyak ulama yang menerangkan bahwa hadits diatas adalah dalil larangan membuat patung, lebih dari itu, patung adalah bentuk kesyirikan yang pernah dilakukan oleh kaum musyrikin quraish sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw.

Menyembah berhala atau patung secara dalil sudah jelas dalam al-Quran dan al-Hadits, dan itu mutlak menayalahi ketetapan Allah SWT. Meski demikian, masih ada juga orang yang meyakini dan menyembah patung buatan manusia untuk dijadikan sesembahan. Karena keberagaman agama di Indonesia, tanpa harus di sebutkan banyak agama yang masih menyembah patung-patung.

Secara naluri akal, tidakkah mereka berfikir bahwa patung itu adalah makhluk / buatan manusia itu sendiri? Ia tidak bisa berbicara, berfikir atau bahkan melakukan apapun kecuali hanya diam. Lantas, kenapa ia disembah? Bukankah ketika si patung itu diludahi, diinjak-injak, atau bahkan di hancurkan ia tidak bisa melakukan apa-apa atau melawan? Tentunya, karena ia cuman patung mati yang tidak bernyawa.

Salah satunya contoh adalah video seorang warga tionghoa yang mengamuk dan mencaci maki "Tuhan"nya karena suatu sebab, hingga pada akhirnya dia membanting dan menghancurkan "Tuhan"nya hingga berkeping-keping.

Mudah-mudahan di hari akhir nanti ketika dihisab timbangan amal baik kita akan lebih banyak, lebih berat dan lebih baik daripada amal buruk kita. Maka sudah sepantasnya semasa hidup didunia yang tak lama ini kita kita selalu berusaha untuk melakukan ibadah dan segala amal kebaikan secara ikhlas.

Tuesday, July 26, 2016

Dosa Ini Hadir Ketika Resepsi Pernikahan





Ketika musim kawin tiba, eh musim nikah... Kita akan sering menghadiri resepsi pernikahan dan pastinya kita akan bertemu dengan banyak orang. Tak jarang kita pula akan bertemu dengan teman-teman lama. Namun tanpa kita sadari, akan ada dosa-dosa yang mengintai kita ketika menghadiri resepsi pernikahan. Berikut ini adalah dosa yang secara tidak sadar kita lakukan sebelum dan saat resepsi pernikahan.

1. Pamer Perhiasan dan Pakaian
Pernikahan adalah momen yang istimewa sehingga hampir setiap orang yang menghadiri resepsi pernikahan akan menampilkan pakaian dan perhiasan yang terbaik yang dimiliki. Sayangnya, banyak di antara kita yang dengan sengaja pamer perhiasan dan pakaiannya ketika menghadiri resepsi pernikahan agar lebih "dianggap" serta "diakui" oleh tamu lain.

2. Mengeluh pada Suami
Apabila seorang wanita atau istri yang tidak memiliki benda untuk dipamerkan, mereka biasanya akan mengeluh kepada suami. Bahkan, mereka selalu merasa bahwa apa yang mereka miliki masih kurang bagus dan mahal dibandingkan orang lain. Hal ini bisa juga terjadi sebaliknya, yaitu apabila si suami seorang pengangguran! Kalo yang ini parah ....

3. Mubazir dalam Mengambil Hidangan
Ini yang paling saya benci. Banyak di antara kita yang mubadzir dalam mengambil hidangan di resepsi pernikahan. Padahal, mubazir adalah perbuatan setan. Sebaiknya kita mengambil makanan sesuai dengan porsi dan kemampuan kita untuk menghabiskannya. Mereka lupa kalau masih banyak yang kekurangan makanan.

4. Bergosip saat Bertemu dengan Teman-teman
Biasanya ini terjadi pada kaum hawa. Walau tidak tertutup kemungkinan bagi kaum adam (terutama yang mulutnya seperti perempuan) he.. he...he.... Dalam resepsi pernikahan, biasanya kita akan bertemu teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa. Hal ini membuat kita bersemangat dalam bercerita, bahkan terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita bicarakan termasuk gibah.

Kita harus menyadari bahwa setiap perilaku akan dicatat oleh malaikat dan dilaporkan kepada Allah. Sekecil apapun perbuatan kita, jika itu memang dosa maka akan dicatat sebagai dosa. Termasuk dosa-dosa kita ketika menghadiri resepsi pernikahan.


  

Masuk Neraka Karena Air Wudhu

Ini adalah sebuah kisah masuk neraka karena air wudhu yaitu dua orang dengan kondisi yang kontras: seorang laki-laki kaya raya dan perempuan miskin. Dalam keseharian pun, keduanya tampak begitu berbeda. Sang lelaki hidupnya padat oleh kesibukan duniawi, sementara wanita yang miskin itu justru menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah. 

Kesungguhan dan kerja keras lelaki tersebut membawanya pada kemapanan ekonomi yang diidamkan. Kekayaannya tak ia nikmati sendiri. Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya merasakan dampak ketercukupan karena jerih payahnya. Lelaki ini memang sedang berkerja untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.

Nasib lain dialami si perempuan miskin. Para tetangganya tak menemukan harta apapun di rumahnya. Kecuali sebuah bejana dengan persediaan air wudhu di dalamnya. Ya, bagi wanita taat ini, air wudhu menjadi kekayaan yang membanggakan meski hidup masih pas-pasan. Bukanah kesucian menjadikan ibadah kita lebih diterima dan khidmat? Dan karenanya menjanjikan balasan yang jauh lebih agung dari sekadar kekayaan duniawi yang fana ini?

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah mengisahkan, suatu ketika ada seorang yang mengambil wudhu dari bejana milik perempuan itu. Melihat hal demikian, si perempuan berbisik dalam hati, “Kalau air itu habis, lalu bagaimana aku akan berwudhu untuk menunaikan sembahyang sunnah nanti malam?”

Apa yang tampak secara lahir tak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya. Diceritakan, setelah meniggal dunia, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki kaya raya itu mendapat kenikmatan surga, sementara si perempuan papa yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Kenapa bisa begitu?
 
Lelaki hartawan tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak tak lantas membuatnya larut dalam kemewahan, cinta dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidup, menunjang keadaan untuk mencari ridla Allah.

Pandangan hidup semacam ini tak dimiliki si perempuan. Hidupnya yang serba kekurangan justru menjerumuskan hatinya pada cinta kebendaan. Buktinya, ia tak mampu merelakan orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Ketidakikhlasannya adalah petunjuk bahwa ia miskin bukan karena terlepas dari cinta kebendaan melainkan “dipaksa” oleh keadaan.

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia direngkuh untuk memenuhi kadar kebutuhan dan memaksimalkan keadaan untuk beribadah kepada-Nya.

Nasihat ulama sufi ini juga berlaku kebalikannya. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebih dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.
Demikian Kisah Islami tentang Masuk Neraka Karena Air Wudhu semoga bermanfaat.

Sunday, July 24, 2016

Santri dan Tukang Cukur

Pada suatu sore, di sebuah tempat cukur rambut terjadi obrolan antara si tukang cukur dengan pelanggannya. Kebetulan yang dicukur itu Zaid, seorang alumni sebuah Pesantren ternama. Kian lama obrolan dua orang itu kian hangat saja.  Dari tema yang mulanya ngalor-ngidul ngga karuan, si tukang cukur yang ternyata “abangan” itu membawa obrolan ke masalah seputar akidah.

“Kalau menurut saya, Tuhan itu tak benar-benar ada ,“ tukang cukur memulai.
“Lho kok bisa mengatakan seperti itu?” Zaid balik tanya.
“Ya lihat saja kehidupan ini Mas, banyak orang yang hidupnya nelangsa, penuh masalah, ribet semrawut, bahkan saking beratnya masalah itu ada yang sampai berani bunuh diri. Katanya Tuhan itu maha Pengasih yang bakal menolong setiap hambanya,. Nah buktinya mana?”

Zaid terdiam. Dia tak langsung menjawab. Bukan lantaran tak mampu, tapi Zaid tengah mencari jawaban yang pas buat si tukang cukur. Dia teringat benar pesan Kiainya agar bisa menyampaikan setiap hal sesuai dengan nalar lawan bicaranya. Hingga berapa lama, Zaid belum juga angkat bicara. Si tukang cukur hampir menyelesaikan tugasnya. Tiba-tiba Zaid melihat seorang tengah duduk di luar tempat cukur rambut. Tampang dan rambut orang itu begitu acak-acakan dan berantakan. Seberkas ide pun mengalir  di kepala Zaid.

“ Nah Pak, kalau Anda mengatakan Tuhan itu tak ada, maka saya katakan tukang cukur itu tak ada.“
“ Lho, gimana sih, wong saya itu ada di sini,” tukang cukur tak mengerti
“Pokoknya, saya yakin kalau tukang cukur itu tak ada,“ Zaid ngeyel.
“Kalau tukang cukur itu ada, lha kok masih ada orang yang rambutnya berantakan,“ jawab Zaid sambil menunjuk seorang tak jauh dari tempat itu.
“Anda ini gimana sih, dia yang di sana itu maksudnya, kalau dia rambutnya berantakan, ya sebab tak mau datang ke tempat ini, coba kalau ke sini, pasti saya rapikan,“ sergah Tukang cukur.
“Nah, seperti itu juga pak, kalau ada orang yang ditumpuk masalah dan hidupnya begitu ribet, bukan lantaran Tuhan itu tak ada, tapi sebab si pemilik masalah itu tak mau datang menghadap Tuhannya, Allah. Coba kalau datang, berserah diri, memohon ampun dan pertolongan, Allah pasti menolongnya,” jawab Zaid mantab.
Sang Tukang cukur pun terdiam seribu bahasa.

Thursday, July 14, 2016

Kisah Pedagang Jujur Dan Amanah

Kisah berikut ini semoga dapat menjadi teladan bagi kita dalam upaya menjadikan harta yang kita peroleh dari usaha perniagaan diberkahi oleh Allah.

Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar al-Bashri (wafat tahun 139 H)[Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/288) dan “Shifatush shafwah” (32/517).].

Imam panutan dari generasi Tabi’in yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah , serta sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram)[Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 613).].
Beliau adalah seorang pedagang kain yang sangat jujur dan selalu menjelaskan cacat barang dagangan beliau sebelum terjadi jual beli [Lihat kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/290).]. Bahkan karena kejujuran beliau pernah mengembalikan uang seorang pembeli yang membeli kain beliau dengan harga yang lebih tinggi, karena waktu itu yang menjualnya adalah keponakan beliau. Bagitu pula sebaliknya, jika beliau membeli barang dari seseorang, maka beliau akan membayarnya dengan harga yang sesuai meskipun orang tersebut pada awalnya menawarkannya dengan harga yang lebih murah.

Diriwayatkan dalam biografi beliau, bahwa suatu saat harga kain di suatu daerah dekat Bashrah naik menjadi lebih mahal, yang mana sesuai kebiasaan, jika daerah tersebut harga kainnya naik, maka harga kain di Bashrah pun nantinya ikut naik. Mengetahui hal itu, Yunus bin ‘Ubaid segera membeli sejumlah besar kain kepada pedagang kain lainnya dengan harga pasaran biasa. Setelah selesai membeli barang tersebut, beliau bertanya kepada penjual tersebut: Apakah engkau mengetahui bahwa harga kain naik di daerah anu? Penjual tersebut menjawab: Tidak, kalau saja aku tau tentu aku tidak akan menjualnya kepadamu. Maka Yunus bin ‘Ubaid berkata: (Kalau begitu) kembalikan uangku padamu dan aku akan kembalikan barangmu.
Masya Allah ! Betapa mulia dan agungnya sifat beliau ini dan betapa tingginya sifat jujur dan amanah dalam diri beliau sehingga dengan sebab inilah Allah memberkahi harta beliau dan memudahkan beliau meraih kedudukan yang mulia dalam agama-Nya, sehingga imam adz-Dzahabi menyifati beliau sebagai “seorang imam dan panutan (dalam kebaikan)”[Kitab “Tadzkiratul huffaazh” (1/145).].

Oleh karena besarnya keutamaan dua sifat ini dalam berjual-beli, Rasulullah : “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi , orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti)”[HR Ibnu Majah (no. 2139), al-Hakim (no. 2142) dan ad-Daraquthni (no. 17)].

Imam ath-Thiibi mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Barangsiapa yang selalu mengutamakan sifat jujur dan amanah maka dia termasuk golongan orang-orang yang taat (kepada Allah ) dari kalangan orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid, tapi barangsiapa yang selalu memilih sifat dusta dan khianat maka dia termasuk golongan orang-orang yang durhaka (kepada Allah ) dari kalangan orang-orang yang fasik (buruk/rusak agamanya) atau pelaku maksiat”[Lihat kitab “Syarhu sunani Ibni Majah” (hal. 155).].
Beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari kisah di atas:
- Maksud sifat jujur dan amanah dalam berjual-beli adalah dalam keterangan yang disampaikan sehubungan dengan jual beli tersebut dan penjelasan tentang cacat atau kekurangan pada barang dagangan yang dijual jika memang ada cacat padanya[Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (3/278).].
- Inilah sebab yang menjadikan keberkahan dan kebaikan dalam perdagangan dan jual beli, sebagaimana sabda Rasulullah : “Kalau keduanya (pedagang dan pembeli) bersifat jujur dan menjelaskan (keadaan barang dagangan atau uang pembayaran) maka Allah akan memberkahi keduanya dalam jual beli tersebut, tapi kalau kaduanya berdusta dan menyembunyikan (hal tersebut) maka akan hilang keberkahan jual beli tersebut”[HR al-Bukhari (no. 1973) dan Muslim (no. 1532).].
- Berdagang yang halal dengan sifat-sifat terpuji yang tersebut di atas adalah pekerjaan yang disukai dan dianjurkan oleh Rasulullah dan para shahabat y, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih[HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (23/300, no. 674) dan dinyatakan jayyid (baik/shahih) oleh syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaa-ditsish shahiihah” (no. 2929).].
Adapun hadits “Sembilan persepuluh (90 %) rezki adalah dari perniagaan”, maka ini adalah hadits yang lemah, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh al-Albani[Dalam “Silsilatul ahaa-ditsidh dha’iifah” (no. 3402).].

Dukhon

Saat ini di dunia dan juga tentu saja termasuk indonesia, sedang perjadi pandemi yang berasal dari corona. Nama legkapnya virus corona. Ata...