Saturday, November 11, 2017

Inilah Mengapa Shalat Dzuhur dan Ashar Imamnya Tidak Bersuara

Hasil gambar untuk sholat dhuhur
Sebelum mengetahui lebih lanjut alasan mengapa shalat Dzuhur dan Ashar Imamnya tidak bersuara, terlebih dahulu Anda harus mengetahui shalat dibagi atas dua yaitu :
  • Shalat jahriyyah
  • Shalat sirriyah
Nah, berikut penjelasan mengapa pada saat Shalat Dzuhur dan Ashar Imam tidak bersuara :

1. Shalat jahriyyah (shubuh asyar dan maghrib)

Pernah Rasulullah SAW membolehkan kepada orang-orang yang ma'mum untuk membaca qiro'at di belakang Imam di dalam Shalat jahriyyah, hingga suatu ketika Dalam Shalat fajar (subuh) Beliau SAW membaca qiro'at, lalu terasa berat (sulit) baginya untuk membacanya.


Sesudah selesai Shalat, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Jangan, jangan kalian membaca qiro'at di belakang imam kamu. Kami berkata, benar, dengan cepat-cepat, wahai Rasulullah. Beliau SAW. bersabda, Jangan kalian kerjakan, kecuali - apabila salah seorang di antara kamu membaca Fatihatal-kitab. Karena sesungguhnya tidak sah Shalat orang yang tidak membacanya. (Abu Dawud dan Ahmad, serta di hasankan oleh Turmudzi dan Daroquthni).

Namun itu tidak bertahan lama karena rasullulah Shalat pada suatu waktu (para ahli mengatakan Shalat shubuh) dan setelah selesai Beliau berkata : Apakah ada di antara kamu yang membaca qiro'at bersama tadi?! Seorang laki-laki berkata, Benar aku wahai Rasulullah. Beliau bersabda, "sesungguhnya aku menyatakan bahwa aku tidak menyelang-nyelangi di dalam qiro`at  dan setelah itu mereka tidak mengeraskan bacaan mereka  dan mulai membaca di dalam hati

2. Shalat sirriyyah (zhuhur dan ashar)

Sesungguhnya allah memperbolehkan  untuk membaca qiro'at di dalamnya namun kita tidak dianjurkan untuk membacanya dengan keras  karena dalam suatu hari Rasullulah SAW  sedang Shalat dzuhur dengan para sahabatnya setelah selesai tiba tiba Beliau bersabda  yang artinya : Siapa di antara kamu yang membaca "Sabbihisma Robbikal-a'la?" Seorang lelaki berkata: Aku - dan aku hanya menginginkan kebaikan dengan bacaan itu. Maka Beliau SAW. bersabda, Aku telah mengetahui bahwa seorang laki-laki telah membimbangkan pikiranku dengan bacaan itu. (Muslim, Abu 'Uwanah dan As-Siraj).


Setelah itu Rasulullah bersabda  yang artinya : “Aku telah mengetahui bahwa seorang laki-laki telah membimbangkan pikiranku dengan bacaan itu  (Muslim, Abu 'Uwanah dan As-Siraj).

Kesimpulan jadi manakah yang boleh kita untuk mengeraskan  suaranya sesuai dengan apa yang dikatakan para sahabat  (imam syafi'i Muhammad murid abu Hanifah, Imam Al-Zuhri, Malik, Ibnu Al-Mubarok dan Ahmad bin Hanbal)) telah berpendapat bahwa qiro'at dalam Shalat yang sirriyyah disyari'atkan (tentunya dengan batasan hadiest di atas yaitu tidak saling mengganggu). 

Karena Rasulullah bersabda  barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab allah swt  maka akan mendapatkan satu kebaikan. Wallahualam

Pertanyaan di Alam Kubur

Hasil gambar untuk pertanyaan alam kubur
Sesungguhnya setiap manusia akan mengalami kesudahan. Betapa pun lezatnya dia merasakan kenikmatan hidup di dunia, betapa pun panjang umurnya, betapa pun dia memuaskan syahwat dan meneguk kenikmatan dunia, dirinya tetap akan mengalami kesudahan. Kematian! Itulah kesudahan tersebut. Sesuatu yang tidak dapat dihindari. 


Allah ta’ala berfirman,


Yang Artinya : 
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)



Seorang penyair berkata,
Setiap manusia, betapa pun panjang umurnya
Kelak di suatu hari, dirinya akan terusung di atas keranda
Pada hari tersebut seluruh makhluk kembali menghadap kepada Allah agar seluruh amalan mereka dihisab.



Allah ta’ala berfirman,



وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ



“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 281)



Hari yang sering terlupakan, hari yang paling akhir, hari di mana kerongkongan tersekat. Tiada hari setelahnya dan tidak ada yang semisal dengannya. Itulah hari yang dahsyat dan telah Allah tetapkan bagi seluruh makhluk-Nya, baik yang muda maupun yang tua, yang terpandang maupun yang hina. Dan saat itu kematian tiba, semua perbuatan dan amal baik buruk kita akan dipertanggung jawabkan. Kelak apa saja yang akan ditanyakan malaikat kepada kita? Inilah pertanyaan yang akan diberikan saat kita di alam barzah,



Tanya : Man Rabbuka? Siapa Tuhanmu ?
Jawab : Allahu Rabbi. Allah Tuhanku.



Tanya : Man Nabiyyuka? Siapa Nabimu ?
Jawab : Muhammadun Nabiyyi. Muhammad Nabiku



Tanya : Ma Dinuka? Apa agamamu ?
Jawab : Al-Islamu dini. Islam agamaku



Tanya : Man Imamuka? Siapa imammu ?
Jawab : Al-Qur'an Imami. Al-Qur'an Imamku



Tanya : Aina Qiblatuka? Di mana kiblatmu ?
Jawab : Al-Ka'batu Qiblati. Ka'bah Qiblatku



Tanya : Man Ikhwanuka? Siapa saudaramu ?
Jawab : Al-Muslimun Wal-Muslimat Ikhwani. Muslimin dan Muslimah saudaraku..



Jawabannya sangat sederhana bukan ?
Tapi apakah sesederhana itukah kelak kita akan menjawabnya ?



Saat tubuh terbaring sendiri di perut bumi.
Saat kegelapan menghentak ketakutan.
Saat tubuh menggigil gemetaran.
Saat tiada lagi yang mampu jadi penolong.



Ya, tak akan pernah ada seorangpun yang mampu menolong kita.
Selain amal kebaikan yang telah kita perbuat selama hidup di dunia.



Astaghfirullahal 'Adzim.
Ampunilah kami Ya Allah.
Kami hanyalah hamba-Mu yang berlumur dosa dan maksiat.
Sangat hina diri kami ini di hadapan-Mu.
Tidak pantas rasanya kami meminta dan selalu meminta maghfirah-Mu.
Sementara kami selalu melanggar larangan-Mu.



Ya Allah...
Izinkan kami untuk senantiasa bersimpuh memohon maghfirah dan rahmat-Mu.

Negara Kecil Berpenduduk Mayoritas Muslim

Hasil gambar untuk kosovo
Sampai saat ini jumlah kaum Muslim telah mencapai 1,7 miliar orang di seluruh dunia. Jumlah ini diprediksikan akan terus bertambah seiring berkembangnya agama di Islam di berbagai negara, terutama di daratan Eropa dan Amerika. Berikut lima negara kecil yang memiliki jumlah umat Islam terbesar di dunia.
1. Kosovo
Negara dengan ibukota Pristina ini hanya memiliki luas 10.908 Km2 dan terletak di benua Eropa. Negara ini memiliki penduduk 1,5 juta jiwa dengan 92 persen di antaranya beragama Islam. Di masa lalu, wilayah Kosovo ini pernah dikuasai oleh Kerajaan turki Ottoman selama 4 abad, hingga keruntuhannya pada 1924.
2. Sahara Barat
Negara ini teletak di benua Afrika dengan ibukota El-Aaiun dan memiliki luas 266.000 Km2. Saat ini Sahara Barat memiliki penduduk sebanyak 586 ribu orang. Namun dari jumlah ini, sebanyak 99,8 persen di antaranya beragama Islam.
3. Mayotte
Secara resmi Mayotte bukanlah sebuah negara Islam. Mayotte adalah sebuah pulau di Samudera Hindia dekat Madagaskar yang merupakan bagian dari Prancis dengan luas hanya 374 km2. Jumlah penduduknya sebanyak 200 ribu jiwa dan sebanyak 98,8 persen beragama Islam. Penduduk yang ada di Mayotte sebagian besar adalah orang Komoro.
4. Djibouti
Penduduk Muslim di salah satu negara Afrika ini mencapai 94 persen. Dengan luas 23.200 km2 , populasi penduduk di negara ini berjumlah 872.932 jiwa. Sisanya sebanyak enam persen penduduknya beragama Kristen dan agama suku lokal. Persebaran Islam di wilayah ini terjadi dari pedagang dan juga pendakwah yang berasal dari Jazirah Arab.
5. Sierra Leone
Negara ini terletak di benua Afrika dan memiliki luas 71.740 Km2. Menurut data statistik, umat Muslim di negeri ini mencapai 71 persen, sisanya adalah orang yang memeluk agama lokal dan juga Kristen.

Di Kejar Rejeki

Hasil gambar untuk syukur
Rezeki memang tidak hanya sebatas materi dan uang saja, namun juga bisa dalam bentuk lain yang mampu mendatangkan kebahagiaan. Namun umumnya manusia bekerja setiap hari untuk mendapatkan uang.

Jumlah rezeki masing-masing orang berbeda setiap bulannya. Para pekerja biasanya sudah memiliki takaran berapa jumlah materi yang akan didapatkan setiap bulan. Pendapatan ini lah yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun tahukah anda bahwa ternyata ada rezeki yang datangnya dadakan dan tidak disangka-sangka? Caranya adalah dengan melakukan amalan-amalan yang mudah dilakukan berikut ini. Apa saja? Berikut empat cara menjemput rezeki agar datang mendadak.

1. Perbanyak Syukur
Bersyukur merupakan cara untuk mendapatkan lebih. Matematika Allah SWT sangat berbeda dengan matematika yang digunakan manusia. Lihat saja, bagaimana Allah sangat mudah memberikan lebih kepada mereka yang bersyukur. Ada saja jalan rezeki bagi mereka yang tidak mengeluh, meski dalam kondisi yang terbatas dan kekurangan.

Bukankah hal ini juga sudah dijanjikan dalam Allah SWT dalam Alquran, bahwa siapa yang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Namun mereka yang mendustakan, maka akan mendapat azab yang pedih.

“(Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”. QS. Ibrahim: 7.

2. Bersedekah
Bersedekah adalah memberikan sebagian yang kita miliki kepada orang lain. Allah SWT menjanjikan ganti yang pasti kepada mereka yang bersedekah untuk orang lain. Baik sedekah materi maupun sedekah dalam bentuk lain. Allah menjelaskan hal ini dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah:261).

Jadi, meski bersedekah pada awalnya dapat mengurangi harta yang kita miliki, namun selanjutnya, Allah SWT akan mengganti dengan berlipat ganda. Akan tetapi, dalam bersedekah sebaiknya kita berharap ganti untuk akhirat dibanding mengharap balasan di dunia. Terlebih jika saat bersedekah kita hanya berharap balasan harta, dan bukan ridha dari Allah SWT.

3. Banyak Beristigfar
Istigfar juga menjadi salah satu amalan penjemput rezeki. Terkadang dosa-dosa yang kita lakukan akan menutup pintu rezeki dalam diri. Sehingga meski sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tetap saja rezeki yang diinginkan tidak kunjung didapatkan.

Istigfar merupakan dzikir yang maknanya memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan agar manusia beristighfar jika mengalami  kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun. Jadi perbanyaklah istigfar jika rezeki tidak kunjung hadir.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat”. (Hud : 3)

4. Membaca Surat Al Waqiah
Surah Al Waqiah juga dikenal sebagai surat pendatang kekayaan. Surat ke-56 ini berisi kandungan iman dan tauhid, bukti kekuasaan Allah SWT serta  adanya hari kebangkitan.

“Ajarkanlah Surat Al Waqiah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan.” (Hadis riwayat Ibnu Ady)

Semoga dengan amalan-amalan ini, Allah SWT akan mendatangkan rezeki secara mendadak kepada hamba-hambaNya.

Monday, November 6, 2017

Balas Dendam


Hasil gambar untuk balas dendam

Ketika kita merasa terusik, di mana seseorang mulai meremehkan dan menggap lemah diri kita, tentu ada rasa sakit yang terbenam dalam hati. Hati terasa terluka dengan perkataan atau pun perbuatan yang menyinggung perasaan kita. Maka, di situlah seringkali, banyak orang yang menyimpan amarah dan menimbulkan rasa dendam.
Seseorang yang menyimpan dendam terhadap orang lain biasanya menginginkan orang lain merasakan seperti apa yang ia rasakan. Jelas, Islam tidak menganjurkan umatnya untuk mempunyai sifat pedendam. Namun, tahukah Anda bahwa terdapat satu cara terbaik balas dendam dalam Islam. Apakah itu? Cara tersebut adalah dengan menjadi jiwa yang pemaaf.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan kedzaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).
Lalu, bolehkah kita membela diri saat didzalimi? Allah SWT berfirman, “Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim.
Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah teraniaya tidak ada satupun dosa atas mereka, sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka tanpa hak. Mereka mendapat adzab yang pedih. Tetapi orang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang amat utama,” (QS. Asy Syuro: 39-43).
Dengan demikian jelaslah bahwa dosa tidak dibalas dengan dosa. Namun, seringkali kita terbawa oleh hati yang panas untuk membalas dosa dengan dosa. Seperti ketika kita mendengar orang lain menjelek-jelekan kita sering terbawa emosi lalu menjelek-jelekkannya. Padahal jika ada orang yang menjelek-jelekan kita, kemudian dia membuka aib kita kepada orang lain maka pahala orang tersebut akan dilimpahkan ke kita. Sedangkan dosa dalam dirinya akan bertambah.
Mengenai hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia,” (HR. Al Muhamili dalam Amalinya no 354, Hasan).
Islam melarang umatnya untuk memiliki sifat pedendam. Mengapa? Karena sifat pedendam hanya akan membuat seseorang kehilangan akhlaknya dan membuat dirinya semakin jauh kepada Allah SWT. Sangat jelas bahwa Allah SWT dan Rasulullah ﷺ sangat benci orang-orang yang berperilaku dendam. Allah SWT menganjurkan untuk saling memaafkan.
Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran: 133-134).
Nah, itulah salah satu cara terbaik kita untuk membalas dendam. Menjadi jiwa pemaaf akan lebih melampiaskan rasa dendam kita. Meski terkadang rasa kesal dalam hati itu masih tersimpan, tapi jiwa pemaaf akan melunturkannya. Sehingga, kebencian dan amarah tidak akan bertahan lama dalam hati kita. Wallahu ‘alam.

Cara Untuk Mengetahui Baiknya Hati

Hasil gambar untuk hati seorang mukmin
HATI yang baik akan membawa seluruh anggota badannya dalam kebaikan. Tapi, bagaimanakah caranya kita tahu bahwa hati kita sudah baik? Apa yang menjadi sebuah indikator baiknya hati?
Syaikh Sholih Al Fauzan –semoga Allah memberkahi umur beliau dalam kebaikan dan ketaatan- mengatakan, “Baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, rasa khawatir pada siksa-Nya, bertakwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, yaitu tidak ada rasa takut pada Allah, tidak khawatir akan siksa-Nya, dan tidak mencintai-Nya, maka seluruh badan akan ikut rusak.
Karena hati yang memegang kendali seluruh jasad. Jika pemegang kendali ini baik, maka baiklah yang dikendalikan. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh yang dikendalikan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaklah meminta pada Allah agar dikaruniakan hati yang baik. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh urusannya. Sebaliknya, jika rusak, maka tidak baik pula urusannya,” (Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 109).
Karenanya, yang sering Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– minta dalam do’anya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdo’a, “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya,” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Dalam riwayat lain dikatakan, “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya,” (HR. Ahmad 3: 257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat sesuai syarat Muslim).

Thursday, November 2, 2017

Penghuni Surga dan Neraka

Hasil gambar untuk penghuni surga dan neraka


Tiga orang menanti sidang dengan kepercayan diri yang sangat. Ketiganya yakin betul akan diputuskan menjadi penghuni surga.
Namun pengadilan Allah jauh berbeda dengan pendadilan manusia. Allah Maha Tahu segala hal meski ukurannya seberat dzarrah. Allah pun memiliki sifat Maha adil yang memutuskan setiap perkara tanpa dzalim.
Tiga orang yang merasa menjadi calon penghuni surga ini pun tergelak. Mereka yang terdiri dari orang-orang shalih itu justru berakhir di neraka. Mereka diseret dengan kasar ke dalam api yang membara. Apa gerangan yang terjadi? Rupanya mereka hanyalah shalih di pandangan manusia, namun tak mentauhidkan Allah dalam niat amal mereka.
Orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Si pria mengakui banyaknya nikmat yang diberikan Allah padanya. Allah pun bertanya, “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”
Mujahid itu menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid,” ujarnya.
Allah ta’ala pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian,” firmanNya. Mujahid riya itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahannam.
Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang alim ulama yang mengajarkan Alquran pada manusia. Seperti orang pertama, Allah bertanya hal sama, “Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?”
Sang ulama menjawab, “Saya telah membaca, mempelajari dan mengajarkannya Alquran karena Engkau,” ujarnya.
Namun Allah berfirman, “Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari,” Allah, mengadili. Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka yang apinya menjilat-jilat.
Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini ia merupakan seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmatKu” firmanNya.
Sang dermawan menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan sedeqah dan infaq di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau,” jawabnya.
Dia pun tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya. “Kau berdusta,” firman Allah. “Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu,” firmanNya.
Sang dermawan yang riya ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung denan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya di hati.
Di mata manusia, ketiganya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini akan menjadi penduduk surga. Namun hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hambaNya. Ketiganya tak pernah mengikhlaskan amalan untuk Allah, melainkan agar diakui manusia. Mereka pun berakhir di neraka dan menjadi penghuni pertama neraka.
Kisah pengadilan akhirat tersebut terdapat dalam hadits Rasulullah dari Abu Hurairah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, An-Nasa-i, Imam Ahmad dan Baihaqy. Kisah yang sama dalam teks hadits yang berbeda juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim.
Di akhir hadits, Abu Hurairah bahkan membaca firman Allah yang menjadi hikmah pelajaran atas kisah tersebut. “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan,” (QS Hud: ayat 15-16).
Adalah Rasulullah pernah mengisahkan perihal ghaib di akhirat kelak. Tertawa sekaligus menangis ketika mendengar salah satu kisah akhirat, yakni kisah tentang penghuni surga terakhir. Kasih sayang dan rahmat Allah yang luas nampak dalam hikmah kisah berikut.
Terdapat seorang yang berada di neraka. Ia terus berusaha melewati dahsyatnya panas api neraka. Terkadang ia mampu berjalan kaki, namun sesekali tertjatuh telungkup, seringkali hangus dibakar api neraka. Jatuh bangun ia berusaha melewati siksaan demi siksaan. Acap kali berhasil selangkah, ia mengharap bantuan Allah.
Dengan tertatih dan dalam waktu yang lama, ia pun berhasil meninggalkan neraka. Segera  ia berseru, "Segala puji Allah yang menyelamatkanku darimu, hai neraka!" Tentu saja, dia bersyukur, karena tak ada yang mampu melewati neraka kecuali dia.
Namun keluar dari neraka bukan akhir dari penderitaan atas hukuman dampak bermaksiat di dunia. Ia masih merasakan panas yang sangat dan begitu kehausan. Ia pun melihat sekeliling dan tertuju pada sebuah pohon. Namun jaraknya sangat jauh. Ia pun meminta kepada Allah agar mendekatkannya, "Ya Allah, mohon dekatkan aku ke pohon itu. Aku ingin berteduh dibawahnya dan meminum airnya," pinta orang itu.
Allah pun bertanya padanya, "Wahai cucu Adam, jika aku dekatkan kau ke pohon itu, apa kau akan meminta hal lain lagi kepadaKu?" Orang itu pun segera menjawab, "Tidak wahai Rabbku, aku berjanji tidak akan meminta hal lain," ujarnya yang tak sabar menikmati keteduhan dibawah pohon setelah sekian lama dihukum di neraka. Saat itu, pohon yang dihadapan matanya sangat menggiurkan. Allah pun mengabulkan permintaannya. Ia pun berada di bawah pohon itu, kemudian segera meminum air darinya.
Namun setelah itu, ia kembali melihat sebatang pohon. Namun pohon yang diliatnya lebih rindang dan lebih indah dari pohon pertama yang ia telah berteduh dibawahnya. Melihatnya, lupa sudah janjinya. Ia kembali meminta pertolongan Allah agar didekatkan pada pohon kedua itu. "Wahai Allah, mohon dekatkan aku ke pohon itu. Aku ingin berteduh dibawahnya dan meminum airnya. AKu tidak akan meminta hal lain lagi," pintanya.
Allah pun berfirman, "Hai cucu Adam, bukankah kau telah berjanji tak akan meminta hal lain?"
Orang itu pun menjawab, "Iya, benar ya Allah, tapi kali ini saja... Aku benar-benar tak akan meminta hal lain lagi," pintanya, merengek.
Allah pun memaklumi dan dengan kasih sayangNya, Allah mendekatkan orang itu ke pohon kedua. Orang itu pun dapat berteduh di pohon yang jauh lebih indah dan rindang dari pohon pertama itu.
Namun ternyata, pohon kedua itu berada dekat dengan pintu surga. Setiba di pohon tersebut, ia mendengar suara penghuni surga yang diliputi kebahagiaan. Apa daya, ia tak kuasa ingin memasukinya. Lagi, ia melanggar janjinya dengan Allah. Ia kembali meminta kepada Allah, ia ingin agar Allah memasukkannya ke dalam surga.
"Ya Allah ya Rabb, Masukkanlah aku kesana," pintanya, menunjuk pada surga yang kenikmatannya tak pernah terbayang oleh manusia di bumi.
Allah Ta'ala pun kembali berkata, "Hai cucu Adam! Hal apa yang membuatmu puas, apakah kau ingin Aku berikan dunia dan segala isinya?"
Orang itu pun menjawab, "Ya Tuhanku, apakah Kau tengah mengejekku... Tentu saja Kaulah Tuhan pemilik alam semesta," ujarnya.
Allah pun tertawa seraya berfirman, "Aku tidak mengejekmu, tapi Aku Maha kuasa mewujudkan apa yang kau inginkan"
Maka dimasukkanlah orang itu ke dalam surga dengan rahmat dan kasih sayangNya. Ia pun berkumpul dengan hamba Allah yang lain yang tak pernah menyekutukanNya. Dia punmenjadi orang terakhir yang masuk surga, sang penghuni surga terakhir.
Kisah tersebut dikabarkan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud. Dalam riwayat tersebut juga disebutkan bahwa Ibnu Mas'ud tertawa saat menceritakannya pada sahabat Rasulullah yang lain. Beliau tertawa saat mengisahkan bagian si penghuni surga terakhir menginginkan surga.
Saat bagian si penghuni surga terakhir berkata kepada Allah, "Ya Tuhanku, apakah Kau tengah mengejekku... Tentu saja Kaulah Tuhan pemilik alam semesta," Ibnu Mas'ud pun tertawa. Ia berkata kepada orang-orang yang mendengar kisah itu, "Apa kalian ingin bertanya kenapa aku tertawa?" Para sahabat lain pun menjawab, "Iya, mengapa kau tertawa?"
Ibnu Mas'ud pun menjawab, "Karena aku melihat Rasulullah tertawa (saat mengisahkan hal sama). (Saat mendengar kisah itu dari Rasulullah), aku pun bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, mengapa Anda tertawa?" Beliau pun menjawab, "Karena Tuhanku, Tuhan seluruh alam, juga tertawa," sabda Rasulullah.
Demikian kisah sang penghuni surga terakhir yang diriwayatkan dari hadits Rasulullah. Banyak hikmah yang dapat kita petik, terutama tentang sifat Rahman dan Rahim Allah Ta'ala. Allah maha pemurah lagi maha penyayang, serta Maha pengampun.
Allah Al-Ghofur berfirman, “Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," Qur'an surat Az-Zumar ayat 53. Oleh karena itu, mari berlomba meraih rahmat dan ampunanNya yang Maha Luas.

Dukhon

Saat ini di dunia dan juga tentu saja termasuk indonesia, sedang perjadi pandemi yang berasal dari corona. Nama legkapnya virus corona. Ata...